Sedan putih berhenti di depan rumah ketika Maya sedang melipat kain. Husna yang lebih dekat ke pintu segera keluar dan melihat Ratih turun sendirian. Ia menyalami wanita itu, lalu mempersilakannya masuk sambil memanggil ibunya.
'Tante tidak mengganggu?'
'Tidak, Tante. Ibu ada di dalam.'
Maya menyambut sahabatnya dengan terkejut sekaligus senang. Ratih mengatakan ia ingin mampir karena lebih nyaman membicarakan sebuah rencana secara langsung. Ia tidak membawa Radit. Lelaki itu, katanya, masih mempunyai kegiatan lain hari Kamis itu.
Husna masuk ke dapur untuk mengambil minuman. Dari sana ia masih mendengar suara ibunya menanyakan keadaan Ratih setelah pertemuan Senin. Ia menaruh gelas di nampan, memeriksa agar tidak terlalu penuh, kemudian membawanya ke ruang depan.
'Terima kasih, Nak. Duduk sebentar, ya. Ini juga tentang kamu.'
Husna meletakkan nampan dan menatap Maya. Ibunya mengangguk ke arah kursi kosong, tanpa mengartikan tatapan itu sebagai persetujuan atas rencana yang belum didengar.
'Kami ingin datang hari Minggu,' kata Ratih. 'Kalau kalian tidak ada kegiatan. Radit juga bisa meluangkan waktu lebih panjang.'
'Untuk mengobrol lagi?' tanya Maya.
'Iya. Pertemuan Senin di restoran terlalu ramai. Kita bisa lebih tenang di rumah.'
Husna menunduk pada jemarinya. Undangan yang disampaikan dengan ramah tetap membuat ia merasa percakapan mereka sedang bertambah serius. Ia teringat pertanyaan Abi sehari sebelumnya, apakah ia ingin mengenal Radit atau hanya merasa tidak enak kepada orang tua.
'Hari Minggu saya bisa, Tante,' katanya. 'Tapi saya ingin memastikan, pertemuannya untuk saling mengenal dahulu, kan?'
Ratih memandangnya. Maya tidak segera menjawab untuk putrinya.
'Tentu. Memangnya kamu mengira kami mau langsung membawa penghulu?' Ratih mencoba bergurau.
Husna tersenyum, tetapi tidak menertawakan kegelisahannya sendiri.
'Saya hanya ingin jelas. Saya masih menyelesaikan kuliah. Kalau nanti ada hal yang ternyata tidak cocok, saya berharap bisa mengatakannya.'
Ratih memegang gelas tanpa langsung minum. Untuk sesaat Husna khawatir perkataannya terdengar tidak sopan. Namun, Maya menyentuh sisi kursinya, memberi kesempatan agar ia tidak buru-buru menarik kalimat yang baru diucapkan.
'Kamu memang harus mengatakan kalau ada yang tidak cocok,' jawab Ratih akhirnya. 'Tante juga tidak mau kalian saling menerima hanya karena kami berteman.'
Husna mengangguk. Ia belum mengetahui seperti apa Radit ketika tidak duduk di bawah pengawasan ibunya. Pertemuan di restoran memberi beberapa jawaban tentang studi dan kesibukan, tetapi belum cukup untuk membayangkan kebiasaan atau cara lelaki itu menghadapi perbedaan.
'Kalau begitu, Minggu kita mengobrol lebih lama,' kata Maya. 'Abi juga sebaiknya tahu.'
'Iya, May. Kalau dia bisa hadir, tentu lebih baik. Inara juga boleh ikut.'
Husna mengambil ponsel setelah meminta izin. Ia mengirim pesan kepada kakaknya tentang rencana kunjungan Minggu, lalu memperlihatkan kepada Maya agar waktu yang disampaikan tidak keliru. Mereka belum menyepakati jam pasti, sehingga Husna hanya menulis bahwa rincian akan dikabarkan lagi.
Ratih menunggu sampai ponsel itu diletakkan kembali. Ia lalu menanyakan kegiatan kampus dan mendengarkan penjelasan Husna tentang pekerjaan yang masih perlu diselesaikan. Kali ini pertanyaannya tidak segera diikuti cerita keberhasilan Radit. Husna dapat menyelesaikan jawabannya sebelum orang lain mengambil alih.
'Jadi hari-harimu masih padat,' ujar Ratih.
'Ada beberapa yang harus diselesaikan sendiri, Tante. Saya tidak bisa selalu meninggalkan semuanya kalau diajak keluar.'
'Nanti kamu sampaikan juga ke Radit.'
Husna mengangguk, lebih mantap daripada saat pertama duduk. Ia dapat menerima kunjungan Minggu sebagai kesempatan bertanya, bukan sebagai permulaan jadwal yang seluruhnya harus diikuti.
Ketika Ratih hendak pulang, Maya mengantarnya sampai teras. Husna ikut membawa tas yang sempat diletakkan di kursi. Ratih menerimanya sambil mengingatkan bahwa ia akan mengabarkan jam kedatangan setelah memastikan dengan putranya.
'Terima kasih sudah datang, Tante.'
'Tante yang berterima kasih. Sampai Minggu, ya.'
Mereka menunggu sedan putih keluar sebelum kembali masuk. Di ruang depan, minuman Ratih masih tersisa sedikit. Husna mengangkatnya bersama gelas ibunya dan membawa nampan ke dapur.
'Kamu tidak apa-apa?' tanya Maya dari belakang.
'Iya, Bu. Tadi aku takut pertanyaanku dianggap menolak.'
'Bertanya belum berarti menolak. Kalau memang nanti ingin menolak, bilang juga dengan jelas.'
Husna meletakkan nampan. Ia menoleh kepada ibunya dan mengangguk. Perkataan itu sederhana, tetapi membuat undangan yang tadi terasa berat berubah menjadi sesuatu yang dapat dipertimbangkannya sendiri.
Pesan Abi masuk tidak lama kemudian. Kakaknya meminta agar ia mengabarkan jam yang sudah pasti dan tidak menyanggupi hal lain jika belum nyaman. Husna membalas bahwa yang disepakati baru kunjungan Minggu, lalu menaruh ponsel di samping buku.
Setelah tiba di tempatnya, Ratih menghubungi Radit dan mengatakan bahwa Maya bersedia menerima kunjungan Minggu. Ia menjelaskan pula bahwa Husna ingin tetap menyelesaikan kuliah dan belum memberikan jawaban tentang pernikahan.
'Aku tahu, Ma,' jawab Radit.
'Jangan cuma mengatakan tahu. Nanti dengarkan kalau dia bertanya.'
Radit menyandarkan punggung. Sejak pulang, ia lebih sering menganggap rencana ibunya dapat diikuti dahulu dan dipikirkan kemudian. Kini setiap percakapan mulai menuntut keputusan yang hendak dihindarinya.
'Jam berapa?'
'Mama pastikan lagi. Jangan buat janji lain hari itu sebelum kita sepakat waktunya.'
Ia menyanggupi hari Minggu tanpa menambahkan janji yang lebih besar. Ratih mengakhiri panggilan sesudah mengingatkan bahwa kunjungan itu bukan tempat untuk duduk sambil terus memeriksa ponsel. Radit menatap layar yang sudah padam. Ia belum tahu bagaimana Abi akan memandangnya pada pertemuan berikutnya, dan pesan dari ibunya tidak menjawab kegelisahan tersebut.
Pada malam harinya, Abi menyampaikan rencana itu kepada Inara. Perempuan tersebut sedang merapikan barang di meja ketika nama Radit kembali disebut. Tangannya berhenti sesaat, kemudian ia bertanya apakah Husna sudah menerima perjodohan.
'Belum. Dia menerima kunjungan untuk saling mengenal. Itu dua hal yang berbeda,' jawab Abi.
Inara memandangnya, lalu kembali menata barang yang tadi dipegang. Kini pertemuan berikutnya mempunyai hari yang jelas. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menggunakan undangan tersebut sebagai jawaban yang belum diberikan Husna.