Nomor Radit muncul ketika Inara sedang sendirian di kamar. Ia sempat membiarkan panggilan itu berdering sampai hampir berhenti. Setelah malam sebelumnya mengatakan banyak hal kepada Abi, melihat nama tersebut kembali menuntut jawaban membuatnya merasa lelah bahkan sebelum mengangkat.
'Ada apa?'
'Kamu sudah bicara kepada suamimu?'
Inara menatap pintu yang tertutup. Abi sedang tidak di rumah. Ia tidak perlu merendahkan suara, tetapi pertanyaan pertama Radit membuatnya melakukannya tanpa sadar.
'Itu yang ingin kamu tanyakan setelah kemarin?'
'Aku cuma ingin tahu apa yang dia ketahui.'
'Kenapa kamu tidak mulai dengan menjelaskan apa yang hendak kamu lakukan?'
Di ujung sana Radit terdiam. Inara dapat mendengar suara kecil benda diletakkan, kemudian napas yang ditahan. Dahulu ia mungkin akan segera mengisi jeda itu dengan pertanyaan lain agar percakapan tidak berhenti. Kini ia menunggu.
'Mama masih ingin melanjutkan pertemuan dengan keluarga Husna,' kata Radit.
'Dan kamu?'
'Aku masih memikirkan.'
Inara berdiri dari tepi ranjang. Ia berjalan sampai ke jendela, menyingkap sedikit tirai, kemudian melepaskannya lagi. Tidak ada pemandangan di luar yang dapat membantu menjawab pertanyaan itu untuk Radit.
'Aku tidak menelepon untuk mendengar rencana mamamu.'
'Kamu yang menjawab panggilanku, Nara.'
'Benar. Karena aku pikir kamu ingin mengatakan sesuatu yang belum kamu katakan kemarin.'
Suaranya meninggi pada akhir kalimat. Inara berhenti bicara untuk mengatur napas. Ia tidak ingin kembali berada dalam percakapan yang membuatnya menjelaskan berkali-kali mengapa ia berhak meminta jawaban.
'Aku tidak bisa memperbaiki semuanya sekaligus,' jawab Radit.
'Aku belum meminta semuanya sekaligus. Aku meminta kamu berhenti memperlakukan diam sebagai jawaban.'
Radit mengucapkan namanya, tetapi Inara memotong sebelum pembicaraan kembali berputar. Ia mengatakan tidak ingin membahas tubuhnya atau menegosiasikan lagi keputusan mempertahankan bayi. Ia juga tidak akan memberi laporan tentang setiap percakapan dengan Abi hanya untuk membuat Radit merasa aman.
'Kalau kamu mau membicarakan tanggung jawabmu, sampaikan dengan jelas. Kalau hanya bertanya apa yang suamiku tahu, aku tidak akan meneruskan telepon ini.'
'Nara, tunggu...'
'Aku perlu istirahat.'
Inara mengakhiri panggilan. Tangannya sedikit gemetar ketika meletakkan ponsel dengan layar menghadap meja. Ia tidak memblokir nomor itu dan tidak menghapus riwayatnya, tetapi untuk saat ini ia tidak sanggup kembali mengangkat jika lelaki itu menelepon lagi.
Rasa pahit mendadak memenuhi mulut. Inara bergegas ke kamar mandi dan berpegangan pada sisi wastafel sebelum muntah. Ketika akhirnya mampu menegakkan tubuh, matanya berair dan lututnya terasa lemah. Ia membasuh wajah, lalu duduk sebentar sampai mampu kembali ke kamar.
Abi pulang beberapa waktu kemudian. Ia mengetuk, mendengar jawaban pelan, lalu masuk dan melihat Inara duduk dengan segelas air yang hampir tidak berkurang.
'Mual lagi?'
Inara mengangguk.
'Sudah makan sesuatu?'
'Belum ingin.'
'Aku coba ambilkan biskuit. Jahe mau? Sedikit saja kalau kamu suka.'
Inara kembali mengangguk. Abi keluar tanpa menyentuh ponsel di meja. Ia tidak tahu ada percakapan yang baru saja dihentikan, dan Inara belum ingin menjelaskannya. Ketika kembali, lelaki itu membawa biskuit serta minuman hangat yang diletakkan di nakas.
'Jangan langsung dihabiskan kalau belum enak,' katanya. 'Kalau makin tidak nyaman, kita cari bantuan.'
Inara mengambil sepotong biskuit. Abi menarik kursi agak menjauh, menunggu tanpa memandanginya terus-menerus. Ia memperhatikan ujung bedcover yang terlipat dekat lemari, lalu membetulkan bagian yang tersangkut kaki kursi.
'Tadi malam tidurmu terganggu?' tanya Inara.
'Sedikit. Aku banyak pikiran.'
'Punggungmu tidak sakit?'
Abi memandang alas di lantai, kemudian tersenyum tipis.
'Masih bisa dipakai.'
'Aku tidak bertanya apakah masih bisa dipakai.'
Ia mengambil ponsel setelah meletakkan kembali biskuit. Abi sempat mengira percakapan selesai, tetapi Inara justru memperlihatkan gambar sebuah kasur lipat sederhana dari toko yang dapat mengantar ke rumah.
'Kalau yang seperti ini cukup?'
'Untuk siapa?'
'Untukmu. Tempatnya tetap di bawah, tapi kamu tidak harus tidur hanya dengan lapisan itu.'
Abi memperhatikan ukuran pada layar. Ia tidak ingin barang besar dibeli sekadar karena Inara sedang merasa bersalah, lalu menjadi persoalan baru setiap kali mereka bertengkar. Ia menanyakan apakah ruang di dekat lemari masih cukup jika kasur tersebut dibuka.
Inara meletakkan ponsel, menunjuk batas lantai yang kosong, lalu menyuruhnya memperkirakan. Abi menggeser kursi agar jalur pintu tetap dapat dilewati. Setelah memandang tempat itu, ia mengangguk.
'Cukup kalau dilipat lagi pagi hari.'
Inara memperbesar gambar pada layar. Pilihan lain yang lebih tebal tampak menarik, tetapi ketika dibandingkan dengan ruang yang baru dikosongkan Abi, ukurannya akan membuat pintu lemari sulit dibuka. Ia menunjukkan kedua pilihan itu tanpa langsung menekan tombol pembelian.
'Yang besar mungkin lebih nyaman,' katanya.
'Tapi kita akan menggeser semua barang setiap pagi. Yang pertama cukup.'
Abi mengambil kursi yang tadi dipindah dan mencoba mengembalikannya. Jika kasur sudah dilipat, kursi itu dapat tetap dipakai dan pintu kamar tidak terhalang. Inara memperhatikan percobaan kecil tersebut, lalu menutup gambar pilihan kedua.
Tidak biasanya keputusan di kamar ini dibuat dengan cara saling menunggu pendapat. Abi pun tampaknya belum terbiasa mengucapkan pilihan tanpa menduga akan ditolak. Ia menatap Inara setelah menyebut yang pertama, seakan masih memberi kesempatan bagi perempuan itu membatalkan pembelian. Inara justru meminta agar ia mengulangi ukuran yang tadi dianggap sesuai, kemudian memeriksanya sekali lagi pada keterangan barang.
'Kalau kamu bersedia, aku pesan.'
'Kamu tidak mengambil dari uang yang dulu...'
'Itu sudah habis untuk urusan yang kita ketahui. Ini dari tabungan pribadiku sendiri.'
Inara menunggu sampai Abi menyatakan tidak keberatan. Barulah ia menyelesaikan pesanan dan pembayaran di ponsel. Ia memastikan alamat serta jadwal pengiriman keesokan hari, kemudian meletakkan layar setelah konfirmasi diterima.
'Besok kalau datang, kita atur tempatnya,' katanya.
Abi mengangguk. Ia kembali menunjuk minuman di nakas yang belum banyak berkurang. Inara mengangkat cangkir dan mencoba seteguk. Ponsel tetap berada di meja, sedangkan rencana kecil tentang tempat tidur telah selesai diputuskan tanpa mereka harus sepakat tentang semua hal lain terlebih dahulu.