Beberapa menit setelah meninggalkan restoran, Abi mengecilkan suara pendingin mobil. Inara menoleh ke arahnya ketika bunyi angin berkurang, kemudian kembali memandang jendela. Rumah-rumah dan papan usaha bergerak melewati pandangannya tanpa benar-benar diperhatikan.
'Terlalu dingin?' tanya Abi.
'Tidak.'
'Aku lihat kamu merapatkan tangan.'
Inara menurunkan pandangan ke jemarinya sendiri. Ia baru sadar masih memegang tali tas begitu erat. Ia melonggarkan genggaman, lalu menaruh kedua tangan terpisah di atas pangkuan.
'Aku cuma ingin cepat sampai.'
Abi mengangguk. Di persimpangan berikutnya ia menunggu lampu lalu lintas sambil memperhatikan kendaraan di depan. Inara hampir berharap lelaki itu terus diam. Namun, setiap kali Abi membiarkannya memilih waktu, ia justru semakin sadar bahwa jawaban yang ditunda belum hilang.
'Kamu tadi tidak nyaman karena pembicaraan Tante Ratih?'
'Yang mana?'
'Soal keluarga. Atau tentang Husna.'
Inara memandang jalan di depan. Pertanyaan itu cukup dekat dengan persoalan sesungguhnya, tetapi masih menyisakan tempat untuk bersembunyi. Ia dapat mengatakan dirinya hanya mual, bahwa bau masakan membuatnya pusing, lalu membiarkan Abi menafsirkan semua perubahan sikapnya sebagai gangguan kehamilan.
'Kamu setuju adikmu dikenalkan dengan dia?'
Abi menoleh sebentar sebelum lampu berubah hijau. Ia menjalankan mobil dan baru menjawab setelah melewati persimpangan.
'Aku belum mengenal Mas Radit sejauh itu.'
'Tapi kamu menyapanya seperti sudah kenal.'
'Pernah bertemu bukan berarti aku tahu cara dia memperlakukan orang.'
Inara diam. Abi merasakan ada pertanyaan lain di balik ucapannya. Ia mengingat sendok yang berdenting di piring, wajah istrinya ketika Radit duduk, dan keinginan mendadak untuk pulang. Ia ingin menyebut semua itu, tetapi memilih satu hal yang paling jelas.
'Kalau kamu tahu sesuatu yang perlu dipertimbangkan, aku ingin mendengar.'
'Sekarang?'
'Bisa nanti setelah sampai. Aku tidak mau menebak lalu salah mengambil kesimpulan.'
Inara menarik napas panjang. Tangan kanannya bergerak ke sabuk pengaman, membetulkan letaknya yang sebenarnya tidak mengganggu. Abi melihat gerakan itu dari sudut mata dan bertanya apakah ia ingin berhenti.
'Sebentar saja,' jawab Inara.
Abi mencari tempat yang aman untuk menepi. Ia tidak langsung menghentikan mobil di tepi arus kendaraan. Setelah menemukan tempat cukup lapang, ia masuk perlahan, memindahkan persneling, lalu memastikan kendaraan sudah benar-benar berhenti sebelum menoleh kepada istrinya.
'Mau minum?'
'Tidak. Aku cuma butuh diam sebentar.'
Abi mengangguk dan mengalihkan pandangan ke depan. Ia membiarkan Inara mengatur napas tanpa kembali menyentuh tangannya. Perempuan itu sedikit memiringkan tubuh, memandang ruang di luar kaca sampai rasa sesak di dadanya berkurang.
'Kamu tidak marah kalau aku belum menjawab?' tanyanya beberapa saat kemudian.
'Aku bisa menunggu sampai rumah.'
'Aku bukan bertanya cuma soal perjalanan ini.'
Abi menatap kemudi. Ia dapat mengatakan akan menunggu selama apa pun, tetapi pertemuan tadi juga menyangkut adiknya. Ada perbedaan antara memberi istrinya waktu dan membiarkan Husna berjalan menuju sesuatu yang mungkin berbahaya tanpa mengetahui apa-apa.
'Aku tidak mau memaksamu bicara saat kamu belum sanggup. Tapi kalau ini menyangkut Husna, aku juga perlu tahu sebelum orang mengharapkan jawaban darinya.'
Inara mengangguk perlahan. Jawaban itu tidak membebaskannya dari kewajiban menjelaskan, tetapi setidaknya tidak meminta seluruh rahasianya dikeluarkan saat itu juga.
'Di rumah saja. Nanti malam, ketika tidak ada orang lain.'
'Baik.'
Abi tidak menggerakkan mobil sampai Inara mengatakan sudah bisa melanjutkan. Ketika ia kembali masuk ke jalan, percakapan berhenti dengan janji yang lebih jelas daripada kebisuan sejak keluar restoran.
Inara menyandarkan kepala. Ia memikirkan Maya yang baru saja mengucapkan agar mereka hati-hati, Husna yang bertanya tentang kuliah, dan Radit yang sepertinya lebih khawatir kehilangan rencana daripada mempertanyakan keadaan dirinya. Ia bertanya-tanya seberapa banyak yang harus dikatakannya kepada Abi agar adiknya terlindungi tanpa menjadikan dirinya kembali objek pemeriksaan.
'Kita langsung ke rumah?' Abi memastikan ketika mendekati jalan yang mereka kenali.
'Iya. Aku tidak ingin mampir.'
'Kalau Ibu mengirim pesan nanti, aku bilang kita sudah pulang.'
'Jangan bilang aku sakit parah. Aku cuma perlu istirahat.'
'Aku bilang yang itu saja.'
Untuk pertama kali sejak masuk mobil, Inara memandang Abi tanpa segera mengalihkan wajah. Lelaki itu tetap memperhatikan jalan. Ia tidak menanyakan apakah bayi itu baik-baik saja dengan nada yang menuntut jaminan, juga tidak mengatakan bahwa semua akan selesai setelah ia beristirahat.
Mereka tiba ketika sore belum berakhir. Abi membuka gerbang dan memarkir Alphard, lalu turun untuk menutupnya kembali. Inara menunggu sampai ia kembali mendekat sebelum membuka pintu mobil. Ia membawa tas sendiri, sementara Abi memastikan kendaraan terkunci.
Di dalam rumah, langkah mereka sempat berhenti pada arah yang berbeda. Inara hendak langsung menuju kamar, sedangkan Abi menaruh kunci pada tempatnya. Ia melihat punggung istrinya dan hampir memanggil, tetapi Inara lebih dahulu menoleh.
Ponsel Abi berbunyi sebelum ia sempat mengajaknya bicara. Ia mengangkat layar sebatas dada dan melihat pesan Maya yang menanyakan apakah mereka sudah sampai. Inara masih berdiri beberapa langkah darinya, memperhatikan wajahnya yang kini tertunduk ke layar.
'Ibu?' tanyanya.
'Iya. Menanyakan perjalanan kita.'
Abi memperlihatkan pesan itu tanpa menyerahkan ponsel. Ia mengetik jawaban singkat bahwa mereka sudah tiba dan Inara hendak beristirahat. Sebelum dikirim, ia membacakan bagian tentang istrinya. Inara mengangguk, kali ini tanpa menduga bahwa ketidaknyamanannya akan diteruskan menjadi cerita lain.
Beberapa saat kemudian Maya membalas agar mereka beristirahat. Tidak ada pertanyaan tentang Radit, juga tidak ada permintaan agar Abi kembali menjemputnya. Lelaki itu memasukkan ponsel ke saku. Sore mereka benar-benar dapat berhenti di rumah ini, tanpa perlu menambah pertemuan lain sebelum pembicaraan yang telah disepakati.
'Aku ingat janji kita tadi di perjalanan.'
Abi mengangguk.
'Istirahat dulu. Kita bicara nanti malam.'
Inara melanjutkan langkahnya. Setelah pintu kamar tertutup, ia meletakkan tas dan duduk di tepi ranjang tanpa mengganti pakaian. Percakapan di lorong tadi akhirnya akan menyusulnya ke ruangan ini. Kali ini ia sudah memilih sendiri kepada siapa harus menjelaskannya, dan kapan.