Sinta melempar keesokan malamnya, di dapur, lampu neon, nasi bungkus dua—bukan damai, hanya lapar yang kebetulan bersamaan. Bau cabai instan. Kipas berputar. Rumah mewah yang tidak sempat jadi rumah.
Ia meletakkan printout foto Dina di meja, di samping kecap. Bukan file curian laptop. Kertas yang 'legal cukup' untuk tidak langsung dipatahkan sebagai curian. Sudut kertas masih hangat dari mesin fotokopi sekolah.
'Hartono Darma. Gatot Raharjo. Bukan hanya Wijaya,' katanya. 'Ayahku kotor. Aku tidak memutihkan. Tapi peta mu dipotong. Kau tahu inisial H.D. di file mu sendiri. Kau tahan. Utilitas ganda. Jangan bilang tidak tahu.'
Bara melihat kertas tanpa menyentuh. Senyumnya tipis, jelek, seperti di ballroom waktu 'mendoakan'.
'Klasik,' katanya. 'Dalang lain. Pihak ketiga. Pengkhianat di lingkar lama. Semua orang kalah punya lagu ini. Aku sudah dengar dari Suroso dua puluh tahun lalu. Orang gudang. Takut. Dibeli. Atau bodoh. Aku tidak membangun Mahesa di atas omongan orang yang merokok di teras.'
'Suroso tidak dibeli aku. Aku bawa uang kopi, bukan map.' Sinta mengetuk kertas. 'Gatot teman ayahmu. Saudara angkat. Yang bawa Hartono masuk ke rumah kalian dengan kata keluarga. Lalu yang sama dorong dari sisi lain. Itu bukan lagu. Itu dua tanda tangan.'
'Itu kertas pudar yang bisa dipalsu orang Wijaya yang sedang sesak,' sahut Bara, suara naik satu tingkat. 'Kau pikir aku tidak pernah digoda teori ini? Aku pernah. Di tahun-tahun awal. Lalu aku pilih. Memilih itu kekuatan. Dua setan membuat orang ragu. Ragu membuat ayahku tidak terbalaskan. Satu nama membuat perang jalan. Wijaya ada di koran. Wijaya ada di darah mu. Wijaya ada di sofa Sabtu dengan map yang aku taruh. Itu cukup. Yang lain… utilitas. Atau debu. Jangan campur debu ke altar.'
Sinta tertawa pendek, pahit. 'Kau dengar dirimu? Kau pilih satu nama supaya enak berperang. Bukan supaya benar. Aku minta kau benar. Aku tidak minta kau memaafkan ayahku. Aku minta kau berhenti menikahi aku sebagai pengganti seluruh dunia yang kotor. Aku minta kau berhenti memakai rapi sebagai alasan tutup telinga. Rapi yang menolak dua nama itu bukan rapi. Itu takut yang memakai dasi.'
Bara meraih kertas, melipat, bukan merobek—lebih menghina: disimpan seperti sampah yang masih bisa dipakai. 'Kau melindungi keluarga mu dengan cara kelihatan pintar. Pintar itu strategi, Sinta. Jangan kira aku tidak baca. Hartono, Gatot, pihak ketiga—semua jalan pulang untuk membuat Wijaya kelihatan 'hanya ikut'. Aku tidak membeli itu. Arman tidak membeli itu. Dewan tidak membeli itu. Dan aku tidak akan melemah karena istri bawa fotokopi ke dapur.'
'Arman,' ulang Sinta. 'Dia yang bilang jangan lemah karena aku, kan? Bagus. Sekarang kau taat pada orang yang mengawasi ragu mu, bukan pada orang yang berlutut di pabrik dulu. Pilih itu juga kekuatan, menurut mu.'
Bara menghantam meja dengan telapak, bukan terlalu keras, cukup untuk membuat gelas loncat. Nasi bungkus bergeser. 'Jangan bawa ayahku tiap kali kau kalah argumen. Dendamku tidak buta. Dendamku rapi. Rapiku tidak butuh dua nama. Rapiku butuh hasil. Hasilnya ayahmu sesak. Ibumu jatuh. Kau mengunci kamar. Itu hasil. Jangan ganggu hasil dengan dongeng pengkhianat. Dongeng itu enak di kepala orang yang ingin tidur nyenyak. Aku tidak tidur nyenyak. Aku kerja. Kerja tidak butuh Gatot. Kerja butuh target yang bisa diangkat ke slide.'
Sinta berdiri, mengambil sisa kertas yang tidak ia kasih—salinan masih di Laila, di Dina, di laci yang tidak ia punya kunci. 'Aku tidak kalah argumen. Kau yang tutup telinga. Tutup telinga itu juga hasil. Catat: suatu hari hasil itu akan menagih bunga dari mu, bukan dari aku. Aku sudah bayar cukup dengan jadi pintu. Pintu yang mulai baca catatan kaki, dan tidak mau ditutup lagi.'
Ia pergi ke kamar. Tidak menangis. Dingin. Di balik pintu ia duduk di tepi ranjang, mengulang kata 'rapi' sampai terdengar seperti ejekan. Dendam buta, pikirnya, bukan yang berteriak. Yang rapi. Yang pilih satu berhala karena dua berhala memaksa orang berkabung ulang—dan Bara lebih takut berkabung daripada kalah. Takut itu, Sinta catat, lebih jujur dari 'tidak menyesal'. Takut itu bisa digali. Takut itu celah. Ia tidak akan melempar celah ke Arman. Ia simpan untuk perang yang lebih sunyi: kertas, saksi, nama ketiga.
Di ruang tamu, Bara membuka laptop, folder H.D., status 'ditahan'. Ia hampir mengubah jadi 'target'. Jari berhenti. Utilitas ganda. Arman pernah bilang: jangan sentuh orang yang masih bisa dipakai menekan orang lain. Hartono masih bisa. Gatot entah di mana. Mengubah status berarti mengaku peta tidak utuh. Mengaku berarti lemah. Lemah, pagi ini, sudah cukup diancam di ruang rapat tanpa jendela.
Ia menutup laptop.
'Dua nama tidak,' gumamnya. 'Satu cukup. Satu harus cukup. Kalau tidak cukup, dua puluh tahun aku salah alamat, dan salah alamat itu lebih menakutkan dari kalah.'
Kalimat itu, malam itu, terdengar seperti doa orang yang sudah mulai ragu pada tuhannya sendiri—dan justru karena itu, lebih kejam pada siapa pun yang membawa nama kedua. Keraguan yang tidak diizinkan hidup akan mencari darah di tempat yang paling dekat: di dapur, di prenup, di wajah istri yang berani bawa fotokopi.