Senin datang dengan angka, bukan air mata. Air mata sudah dibayar Sabtu; Senin menagih bunga.
Di kantor ayah, telepon berantai sebelum jam sembilan: partner cabut 'sementara', kreditur menaikkan nada dari ramah menjadi prosedural, supplier minta bayar di muka dengan senyum minta maaf. Di meja Sinta di sekolah, pesan ibu bertumpuk di antara bel masuk: 'Ayah di ruang kerja tidak makan', 'Bank datang dua orang', 'Herman mundur total—bilang angin tidak bersahabat', 'Sin, pulang kalau bisa'. Sinta menulis di papan dengan tangan yang agak gemetar, lalu izin pulang cepat setelah jam terakhir, menyerahkan kelas pada Bu Laila yang hanya bilang, 'Pergi. Aku cover. Telepon.'
Rumah Wijaya siang itu seperti ruang gawat tanpa sirene. Map di meja makan—bukan map Bara, map ayah yang kacau. Ayah berkeringat di kemeja yang sama sejak pagi. Konsultan hukum baru yang mahal dan pesimis duduk dengan laptop, bilang 'opsi terbatas' dengan bahasa yang dibungkus agar tidak terdengar seperti vonis. Sinta masuk, masih berbalut blus guru, kapur putih menempel di lengan seperti bekas perang lain yang lebih bersih.
'Seberapa parah?' tanyanya, meletakkan tas.
Ayah tertawa pendek, jelek. 'Parah yang “terukur”. Itu lebih menakutkan dari kebangkrutan mendadak. Pelan. Rapi. Bertahap. Seperti semalam di hotel itu—doa yang membunuh tanpa meninggalkan sidik jari di leher. Orang bilang pasar. Aku bilang tangan.'
Ibu di sofa, memegang remote tanpa menyalakan TV, mata kosong ke layar hitam. 'Orang bilang Mahesa di belakang angin. Orang bilang menantu kita. Orang bilang Sinta. Aku tidak tahu harus membela kau atau meminta maaf pada kau. Aku bingung, Sin. Bingung membuat dada sesak.'
'Saya tidak minta dibela,' kata Sinta, duduk di dekat ibu, memegang lututnya. 'Aku minta kalian bertahan tanpa menjual sisa harga diri ke pinjaman darurat yang terlalu manis. Itu jebakan. Aku… pernah mendengar baunya dari mulut Bara, dari cara dia bilang “ramah”. Jangan teken apa pun hari ini.'
Ayah menatapnya tajam, putus asa mencari tuas. 'Kau masih serumah dengan dia. Kau makan di mejanya. Kau bisa minta dia berhenti. Satu kali. Untuk ibu mu. Untuk napas ku.'
'Saya sudah minta banyak hal. Cerai. Berhenti. Jadi manusia. Jadi suami, bukan algojo.' Sinta menggeleng. 'Dia menolak. Sekarang dia punya map, momentum, dan publik. Yang bisa aku lakukan: jangan jadi mata-mata, jangan tanda tangan buta, jaga ibu, dan… cari nama di pojok kertas yang dia lempar kemarin. Ada yang bukan kita. Samar. Tapi ada.'
'Pihak ketiga,' gumam ayah, mata menyala tipis. 'Aku bilang. Kau dengar sekarang? Setelah map itu menampar muka kita berdua?'
'Dengar. Tapi bukti Bara membuat telinga ku berdenging, Yah. Aku tidak memutihkan ayah. Aku juga tidak memutihkan dia. Aku hanya tidak mau kita mati konyol di tangan orang yang sama dua kali—dulu dan sekarang—tanpa tahu siapa yang paling kenyang di belakang layar.' Sinta menekan pelipis. 'Kalau aku gali itu, ayah jangan hambat. Jangan bilang “jangan buka kuburan”. Kuburan sudah dibuka orang lain. Aku hanya mau baca batu nisan yang lebih lengkap.'
Sore hari, kabar baru masuk lewat email yang dibacakan konsultan dengan nada datar: satu gudang sewa dibatalkan sepihak, denda besar; partner logistik 'sementara nonaktif'; klausul force majeure yang dipelintir. Ayah duduk di tangga rumah, kepala di tangan, untuk pertama kali Sinta melihat laki-laki itu seperti anak kecil yang kehabisan tipu daya, bahu turun, sepatu masih berpasir dari kantor.
Bara pulang malam dengan wajah tenang, bau kantor, map baru di tangan—tipis. Di meja makan rumah mereka, Sinta tidak menyajikan makanan dulu; ia meletakkan ringkasan berita dari ibu seperti dakwaan di piring.
'Kau naikkan tekanan lagi. Gudang. Partner. Bank.'
'Ya,' sahut Bara sederhana, duduk, membuka tutup lauk sendiri. 'Lantai miring harus lebih miring sebelum orang belajar. Kemarin baru sidang moral di sofa. Hari ini matematika. Matematika tidak butuh teh.'
'Saja lihat ibu ku? Dia sesak sejak Sabtu.'
'Belum perlu.' Bara mengangkat mata, sendok berhenti. 'Ayahmu yang harus melihat angka. Ibu biasanya ikut roboh belakangan. Itu pola. Jangan marah pada pola. Marahi penyebab dulu—kalau berani akui penyebabnya berlapis.'
Sinta berdiri, meraih piringnya yang masih kosong, lalu meraih nasi di panci, menaruh di piring, membawanya ke wastafel, menuang nasi ke tempat sampah dengan gerakan yang gemetar marah—boros, sengaja, simbol kecil yang bodoh dan memuaskan. 'Kau bangga pada pola? Pada “ibu belakangan”?'
'Aku efektif pada pola,' sahut Bara. 'Bedakan kebanggaan dan efektivitas. Kau guru; kau tahu beda nilai dan hafalan.'
Di kamar, Sinta menelepon Bu Laila sambil duduk di lantai. Kali ini pesan draft lama tentang cerai tidak terkirim; yang terkirim lewat suara: 'Bisnis ayah digilas lebih dalam. Aku takut ibu. Aku takut aku ikut gila.' Balasan Bu Laila cepat, tegas: 'Kau tidak bisa selamatkan semua orang dalam satu malam. Selamatkan napasmu dulu. Jangan buang nasi lagi—buang tenaga ke hal yang berguna. Besok kita bicara di sekolah. Aku siap dengar.'
Sinta berbaring tanpa mematikan lampu. Di langit-langit, ia melihat peta: map bukti, nama samar pihak ketiga, prenup, panti, podium, sofa Sabtu, tangga tempat ayah duduk. Lantai Wijaya memang miring. Dan Bara, di kamar kerja atau di kepala, sedang menunggu bunyi barang yang jatuh—menunggu bunyi yang lebih manusiawi dari angka: bunyi tubuh.