Undangan itu datang lewat Sinta, tapi nada Bara yang menentukan hari.
'Hari Sabtu,' katanya di dapur sambil mengikat dasi, seperti memesan slot rapat. 'Aku datang ke rumah ayahmu. Biar selesai omong kosong di belakang. Aku duduk. Dia duduk. Kau duduk di tengah—sebagai saksi, bukan wasit. Jangan coba damai-damai. Damai membingungkan perang.'
Sinta menatapnya dari seberang meja. Sejak pagi ‘aku bukan ibumu’, jarak mereka berubah: bukan lebih hangat, hanya lebih jujur dan lebih tajam, seperti kaca yang sudah retak tapi belum pecah. 'Jangan bawa map perang ke ruang tamu ibu. Dia belum kuat.'
'Aku bawa diri,' sahut Bara. 'Map menyusul kalau perlu. Diri saja sudah cukup membuat sofa panas. Kau cukup datang dan duduk.'
Sabtu sore, rumah Wijaya berbau kayu putih, floor cleaner, dan kue kering yang tidak ada yang mau makan. Ibu menyiapkan teh dengan tangan gemetar, menata piring kecil seolah kerapian bisa menunda bencana. Di dapur ia sempat bertanya pada Sinta, 'Dia makan kue keju tidak?'—pertanyaan yang terlalu biasa untuk hari perang. Ayah memakai kemeja rapi, rambut disisir, seperti orang hendak sidang atau melamar kerja di usia yang seharusnya sudah tenang. Sinta membuka pintu saat mobil hitam Bara berhenti di depan. Tetangga mengintip dari balik gorden—nama Mahesa sudah cukup untuk membuat jendela hidup dan lidah bergerak.
Bara masuk tanpa terlalu banyak senyum. Menyalami ibu singkat, hampir formal. Menatap ayah lebih lama, mengukur.
'Pak Wijaya.'
'Mas Bara,' sahut ayah, dingin. 'Duduk. Kita bicara seperti orang dewasa. Atau seperti musuh. Pilih dari awal supaya tidak buang teh dan tidak buang muka di depan anakku.'
Mereka duduk: ayah di kursi utama yang biasanya untuk tamu penting, Bara di sofa seberang dengan kaki tersilang, Sinta di tengah seperti tiang yang dipaksa menahan atap. Teh mengepul. Kue diam. Jam dinding berdetak terlalu keras.
Ayah membuka duluan, jari mengetuk lutut. 'Kau menikahi anakku dengan dendam. Kau sembunyikan jabatan. Kau pakai namanya di podium untuk mempermalukan mitra kami. Kau buat orang bilang Wijaya dijual atau digilas—tergantung mood gosip. Sekarang kau duduk di rumah ini. Bilang apa yang kau mau—selain menghancurkan? Ada permintaan yang bisa dibicarakan, atau hanya eksekusi?'
Bara menyilang kaki lebih nyaman, tenang seperti di dewan direksi. 'Aku mau kebenaran yang kalian buru-buru kubur dua puluh tahun lalu. Ayahku mati setelah digencet. Nama Wijaya ada di jalur itu—koran daerah, catatan orang, bau yang tidak hilang. Aku tidak datang minta kue. Aku datang menagih. Tagihan lama. Bunga marah.'
'Menagih nyawa?' suara ayah naik, lalu ditahan karena ibu tersentak. 'Kami tidak membunuh. Jangan bawa kata itu ke ruang yang pernah dipakai ulang tahun Sinta.'
'Orang bisa mati tanpa ditembak,' sahut Bara pelan, hampir lembut dalam kekejaman. 'Cukup dipotong napas usahanya, dipotong muka di depan mitra, dipotong jalan keluar. Lalu dibiarkan memilih tali sendiri di rumah yang sunyi. Itu juga pembunuhan—hanya lebih rapi di laporan polisi, lebih sopan di mulut pemenang.'
Ibu menekan mulut dengan sapu tangan. Sinta meraih tangan ibu di bawah meja, menekan pelan, menghitung napas bersama. 'Bara. Pelan. Ini rumah, bukan ruang sidang Mahesa.'
'Pelan tidak menghidupkan orang mati,' kata Bara, tanpa menoleh ke Sinta. Matanya tetap pada ayah. 'Kau bilang bisnis. Aku bilang kuburan. Kita beda kamus. Hari ini aku mau kamus itu bertabrakan di ruang ini, di depan anakmu, supaya dia tidak lagi mendengar setengah-setengah dari suami dan setengah-setengah dari ayah. Supaya dia lihat mulut kalian berdua tanpa filter cinta.'
Ayah tertawa pahit sampai bahu bergetar. 'Kau pakai istriku—anakku—sebagai mikrofon dan sebagai hakim. Kejam. Lebih kejam dari kompetisi dulu, karena dulu kami tidak menyekolahkan anak ke medan itu.'
'Kau pakai dunia sebagai medan,' balas Bara. 'Aku hanya belajar dari guru. Guru yang baik meninggalkan murid yang lebih rapi.'
Sinta merasa lantai miring di bawah kaki. Perang dingin itu tidak berteriak; ia menusuk dengan kalimat pendek, jeda panjang, dan tatapan yang tidak berkedip. Di luar, anak tetangga bermain bola, teriak gol. Di dalam, dua laki-laki menimbang dosa dengan teh yang mulai dingin dan kue yang retak di piring.
Ibu mencoba menyelamatkan udara. 'Minum dulu. Panas… panasnya tinggal sedikit.'
Tidak ada yang minum.
'Baik,' kata ayah akhirnya, suara serak. 'Kalau kau mau sidang, kita sidang. Tapi aku punya versi. Dan versiku bukan dongeng anak yang marah selama dua dekade, lalu membangun konglomerat sebagai kuil dendam. Versiku kotor—aku akui—tapi bukan vonis tunggal yang kau tempel di dahi Wijaya.'
Bara mengangguk tipis, hampir hormat pada lawan yang mau bicara. 'Silakan. Aku suka dengar orang membela diri sebelum bukti berbicara. Pembelaan membuat jatuhnya lebih dalam.'
Sinta menatap keduanya, lalu ibu yang pucat, lalu foto keluarganya di dinding yang tiba-tiba terasa seperti barang museum. Di luar pagar, suara bola anak tetangga memantul tiga kali lalu berhenti, seolah dunia ikut menahan napas sebentar. Di dadanya satu doa tanpa alamat yang jelas: jangan sampai sore ini merobohkan orang yang paling lemah di ruangan—bukan Bara, bukan ayah, tapi ibu yang hanya ingin rumahnya tetap rumah, tehnya tetap teh, dan anaknya tidak terus jadi jembatan perang.