Bara Aditya tidak langsung menikahi Sinta Wijaya. Ia tidak langsung menghancurkan Sinta dari dalam. Ia harus mendekati Sinta dulu, membuat Sinta jatuh cinta padanya, membuat Sinta mempercayainya dengan sepenuh hati.
Bara mendekati Sinta dengan cara yang licik. Ia menggunakan koneksinya untuk mengetahui segalanya tentang Sinta: tentang pekerjaannya sebagai guru di sekolah dasar, tentang hobinya membaca buku, tentang kebiasaannya pergi ke taman setiap sore untuk membaca, tentang kehidupannya yang sederhana dan tidak mencolok.
Bara tidak menyangka bahwa Sinta sangat berbeda dari keluarganya. Sinta tidak seperti ayahnya yang licik dan kejam. Sinta tidak seperti ibunya yang dingin dan menghakimi. Sinta adalah wanita baik yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu keluarganya, wanita baik yang hanya ingin menjadi guru yang baik untuk anak-anak muridnya, wanita baik yang hanya ingin hidup dengan damai.
Bara tidak peduli dengan itu. Bara hanya peduli dengan balas dendamnya. Bara hanya peduli dengan menghancurkan Sinta dari dalam.
Suatu sore, ketika Sinta sedang membaca buku di taman seperti biasa, Bara mendekatinya dengan payung hitam di tangannya, dengan tatapan yang lembut, dengan senyum yang tulus yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin.
'Kau akan kehujanan kalau terus membaca di sini,' kata Bara dengan suara yang lembut, dengan tatapan yang lembut, dengan senyum yang tulus.
Sinta mengangkat kepalanya dari bukunya dengan tatapan yang terkejut. Ia tidak mengenali pria itu, tapi ia bisa melihat bahwa pria itu tampan, bahwa pria itu memiliki tatapan yang lembut, bahwa pria itu memiliki senyum yang tulus.
'Terima kasih,' kata Sinta dengan suara yang pelan, dengan tatapan yang malu. 'Saya tidak menyadari bahwa langit sudah mendung.'
'Aku melihatmu sering membaca di sini setiap sore,' kata Bara, duduk di bangku di samping Sinta tanpa diminta, dengan tatapan yang lembut. 'Kau suka membaca?'
'Ya, saya suka membaca. Membaca adalah cara saya untuk melarikan diri dari dunia yang tidak selalu baik ini.' Sinta menatapnya dengan tatapan yang malu, dengan tatapan yang tidak tahu apa-apa tentang siapa pria itu sebenarnya.
Bara tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Sinta, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Sinta tidak seperti keluarganya. Sinta tidak seperti ayahnya yang licik dan kejam. Sinta tidak seperti ibunya yang dingin dan menghakimi. Sinta adalah wanita baik yang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu keluarganya.
Tapi Bara tidak peduli dengan itu. Bara hanya peduli dengan balas dendamnya. Bara hanya peduli dengan menghancurkan Sinta dari dalam.
'Aku juga suka membaca,' kata Bara dengan suara yang lembut. 'Membaca adalah cara aku untuk melarikan diri dari dunia yang tidak selalu baik ini juga.'
Sinta menatapnya dengan tatapan yang sedikit lebih lembut, dengan tatapan yang sedikit lebih percaya. 'Anda juga suka membaca?'
'Ya, aku juga suka membaca. Aku suka membaca tentang kehidupan orang lain, tentang bagaimana orang lain bertahan dari kesulitan, tentang bagaimana orang lain menemukan kebahagiaan meskipun dunia tidak selalu baik.' Bara menatapnya dengan tatapan yang lembut, dengan senyum yang tulus. 'Dan aku melihat bahwa kau juga suka membaca tentang hal-hal seperti itu.'
Sinta tidak berkata apa-apa untuk waktu yang lama. Ia hanya menatap Bara, dan untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa pria itu tidak seperti pria-pria lain yang pernah ia kenal. Pria itu tidak seperti pria-pria lain yang hanya ingin menggunakan wanita untuk tujuan mereka. Pria itu tidak seperti pria-pria lain yang hanya ingin mendapatkan sesuatu dari wanita.
Pria itu tidak seperti itu. Pria itu tidak seperti itu sama sekali.
Mereka berbicara untuk waktu yang lama di taman itu, tentang buku-buku yang mereka sukai, tentang kehidupan yang tidak selalu baik, tentang bagaimana mereka sama-sama mencari cara untuk melarikan diri dari dunia yang tidak selalu baik itu.
Sinta tidak tahu bahwa Bara Aditya adalah anak dari keluarga yang dulu dihancurkan oleh keluarganya. Sinta tidak tahu bahwa Bara Aditya adalah pria yang datang untuk menghancurkannya dari dalam. Sinta tidak tahu bahwa Bara Aditya adalah pria yang akan mengubah segalanya.
Sinta hanya tahu bahwa Bara Aditya adalah pria yang baik, pria yang lembut, pria yang suka membaca seperti dirinya.
Dan untuk pertama kalinya, Sinta merasa bahwa ia tidak sendirian lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Bara merasa bahwa balas dendamnya tidak akan semudah yang ia kira.