Berita menyebar dengan caranya sendiri di desa kecil, seperti selalu.
Tak seorang pun mengumumkan apa yang terjadi di Gandasuli. Tak ada yang menceritakannya secara terbuka—sebagian karena terlalu sulit dipercaya, sebagian karena hal-hal seperti itu memang tak pernah diceritakan dengan lantang di desa-desa Jawa. Tapi semua orang tahu. Bisik-bisik yang dulu penuh takut kini berubah nada. Yang dulu menatap keluarga Sastrawijaya dengan curiga, kini menatap dengan hormat, dan dengan rasa terima kasih yang tak terucap.
Sebab desa juga ikut terbebas. Selama tiga generasi, malam Selasa Kliwon bulan Sura adalah malam ketakutan bersama—malam ketika seluruh desa menutup jendela lebih awal, menyalakan lampu sepanjang malam, dan berdoa giliran tahun ini bukan untuk mereka. Sebab meski tumbal selalu jatuh ke garis Sastrawijaya, ketakutannya menjalar ke seluruh desa seperti kabut dari Gandasuli. Kini kabut itu sudah pergi.
Tahun berganti. Ketika malam Selasa Kliwon bulan Sura datang lagi—malam yang dulu selalu menagih—tak ada yang hilang. Tak ada kursi yang mendadak kosong. Tak ada pintu terkunci dari dalam dengan ruang kosong di baliknya pagi harinya. Untuk pertama kalinya dalam ingatan tiga generasi, malam itu lewat seperti malam biasa, dan pagi datang dengan semua orang masih ada di tempatnya.
Para sesepuh desa berkumpul di warung kopi keesokan paginya, dan kakek tua bertelanjang dada itu—yang dadanya kini makin keriput, yang umurnya entah berapa—mengangkat cangkir kopinya dan berkata pelan, "Sudah putus. Benar-benar putus kali ini." Ia menatap ke arah perbukitan Gandasuli. "Bukan dibakar. Diikat. Dengan namanya. Dan dijaga oleh salah satu dari mereka yang rela tinggal." Ia menghela napas panjang, asap tembakau mengepul. "Anak muda zaman sekarang. Lebih berani dari kita yang tua-tua ini. Kita cuma berani takut dalam diam. Anak itu berani membayar."
Pak Karto, yang renta dan bersandar pada tongkatnya, mengangguk. "Aku kenal kakeknya. Sastrawijaya. Aku yang bilang dia gila waktu dia mau ke Gandasuli dulu. Ternyata yang gila itu bukan dia—yang gila itu harga yang harus dibayar cucunya untuk membersihkan apa yang dia tinggalkan." Ia menatap cangkirnya. "Semoga kita semua diampuni karena membiarkannya berlangsung sekian lama."
Sementara itu, di joglo keluarga Sastrawijaya, hidup berubah dengan cara yang sudah lama Bara ramalkan. Kekayaan yang datang tak wajar mulai pergi sama tak wajarnya. Rekening menyusut. Emas-emas di lemari kakek, satu per satu, entah bagaimana, raib atau kehilangan kilaunya. Surat-surat tanah ternyata bermasalah, sebagian sengketa, sebagian palsu. Dalam setahun, keluarga yang dulu mendadak kaya raya itu kembali menjadi keluarga petani biasa.
Tapi tak satu pun dari mereka meratapinya.
Mereka menjual sebagian perabot mahal yang terasa asing, dan dengan uangnya memperbaiki sawah yang dulu terbengkalai. Pakdhe Hartono, yang dulu keras kepala dan patah oleh takut, menemukan kembali tangannya yang dulu petani, dan ia mengajari Ratri membaca tanah, membaca musim. Ibu kembali ke dapur yang sederhana, memasak dengan tangannya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia bisa tidur tanpa menghitung mundur.
Ada satu janji lama yang belum Ratri tunaikan, dan ia menunaikannya musim itu juga: tulang-belulang di sumur tua belakang joglo. Dulu, di malam ia menemukannya, ia bersumpah akan mencari tahu siapa mereka. Kini ia tahu—tak satu pun nama mereka tercatat di mana pun, sebab mereka leluhur-korban dari zaman ketika perjanjian masih muda, dibunuh dan dibuang di rumah sendiri jauh sebelum Kakek lahir, tumbal-tumbal terdahulu dari garis darah yang sama dengan tujuh nama yang ia panggil di Gandasuli. Bersama Pakdhe Hartono dan beberapa sesepuh desa, ia mengangkat tulang-tulang itu dari dasar sumur kering, membungkusnya dengan kain putih, dan memakamkannya dengan layak di pemakaman desa—dengan doa dan selamatan yang dulu tak pernah mereka terima. Sumur itu lalu ditutup untuk selamanya. "Kalian tidak dilupakan lagi," bisik Ratri di atas gundukan tanah yang baru. "Akhirnya, kalian pun pulang."
"Kakek menukar nyawa keluarganya dengan emas," kata Ratri suatu sore, mengulang kalimat yang dulu diucapkan kakaknya, sambil memandang sawah yang mulai menghijau di belakang rumah. "Kita menukar emas itu kembali dengan keluarga yang utuh dan bebas. Aku rasa itu pertukaran yang Mas Bara akan setujui."
Lampu kristal di pendapa—satu-satunya barang mewah yang mereka pertahankan—berdenting pelan ditiup angin sore. Wajar. Hanya kaca dan angin. Dan Ratri, yang dulu belajar membedakan denting yang wajar dari denting yang bukan, tersenyum mendengarnya, sebab kini ia tahu pasti: tak ada lagi yang menumpang di rumah ini, tak ada lagi yang menunggu di tengah malam.