"Bebaskan aku."
Kata-kata itu keluar dari mulut Wulansari begitu lembut sampai Ratri hampir tidak menyadari bahaya di dalamnya.
Wujud perempuan itu melayang mendekat ke garis bubuk, sedekat yang ia bisa tanpa menyentuhnya, dan menatap Ratri dengan mata manusia yang basah. "Kau sudah tahu siapa aku. Kau sudah menyebut namaku. Kau punya kuasa untuk mengakhiri penderitaan ini. Lepaskan aku, Bocah. Biarkan aku padam. Biarkan aku, untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, beristirahat. Dan kakakmu—kakakmu akan kulepas. Aku bersumpah. Aku akan keluar dari tubuhnya, dan kalian semua pulang, dan tak ada lagi yang ditagih. Bukankah itu yang kau mau?"
Ratri merasakan tarikan itu. Bukan tarikan gaib—atau setidaknya, tidak hanya itu. Tarikan yang lebih manusiawi: keinginan agar semua ini berakhir dengan mudah, agar tak ada lagi yang harus dibayar, agar belas kasihnya pada perempuan tersiksa ini cukup untuk menebus segalanya. Betapa mudahnya. Cukup melangkah, menyeka garis bubuk dengan ujung kaki, mengucap satu kalimat pembebasan, dan kakaknya akan kembali dan mereka semua pulang.
Ia melangkah maju setengah langkah.
"Ratri." Suara Pakdhe Hartono, tajam dan rendah, dari belakang. "Jangan."
Ratri berhenti. Ia menatap wajah Wulansari—wajah yang penuh harap, penuh kepedihan, penuh sesuatu yang mungkin tulus dan mungkin tidak. Dan ia teringat akan kata-kata terakhir Mbah Joyo, diucapkan dengan napas yang nyaris habis di ranjang kematiannya: *Yang paling berbahaya dari perjanjian semacam ini bukan amukannya. Tapi belas kasihnya. Ia akan menunjukkanmu lukanya, dan kau akan ingin menyembuhkannya, dan dalam keinginanmu itu kau akan membuka pintu. Kasih tanpa ikatan hanya memindahkan kutukan. Selalu.*
"Kalau aku membebaskanmu sekarang," kata Ratri, suaranya menegang, "tanpa mengikat namamu ke tempatmu—apa yang terjadi pada perjanjian itu sendiri?"
Wujud Wulansari diam sesaat terlalu lama.
"Ia berpindah," kata Ratri menjawab pertanyaannya sendiri, dingin merayap ke suaranya. "Itu yang terjadi. Perjanjian tak pernah bisa dibakar habis—kakekku menulisnya, dan ia benar. Kalau aku melepasmu tanpa mengikatnya, kau memang padam, tapi perjanjian itu mencari tangan baru. Garis darah baru. Mungkin kakakku. Mungkin aku. Mungkin anak-anak yang belum lahir. Kau menawarkanku kelegaan hari ini dengan menukar bencana bertahun-tahun lagi."
Wajah Wulansari berubah. Untuk sekejap, kepedihan di matanya retak, dan di balik retakan itu Ratri melihat sesuatu yang lain—sesuatu yang lapar, yang licik, yang telah ratusan tahun belajar memakai luka sendiri sebagai umpan. Lalu topeng kepedihan itu kembali, lebih sempurna dari sebelumnya.
"Kau anak yang cerdas," bisik perempuan itu. "Terlalu cerdas. Kakekmu lebih mudah. Demang sebelummu lebih mudah. Mereka semua ingin percaya pada jalan yang mudah." Suaranya mulai merendah, mulai menebal, tinta hitam mulai merayap kembali ke pinggir matanya. "Tapi kau harus paham, Bocah—mengikatku menuntut harga yang lebih berat daripada melepasku. Jauh lebih berat. Dan harga itu bukan dibayar olehku. Tanyakan pada dukun tuamu, kalau ia masih bernyawa. Tanyakan siapa yang harus tinggal di ikatan ini bersamaku."
Ratri membeku. Ia tahu jawaban itu. Mbah Joyo sudah memberitahunya, dengan air mata di mata tuanya: *rantai hanya putus bila inang dan sumber diikat bersama. Kau tak bisa mengikat perjanjian tanpa mengikat wadahnya.* Inang. Bara.
"Lihat," desis Wulansari, dan suaranya kini hampir kembali menjadi suara banyak. "Sekarang kau ragu. Sekarang kau timbang. Membebaskanku itu mudah—dan kau hanya perlu mengkhawatirkan masa depan yang jauh, yang mungkin tak pernah datang. Mengikatku menuntut kakakmu hari ini. Yang mana yang akan kau pilih, anak manusia? Cinta yang nyaman, atau cinta yang menyayat?"
Ratri menarik napas dalam-dalam. Air matanya jatuh, tapi tangannya tidak lagi gemetar. Ia mundur, kembali ke balik garis bubuk, dan mengeraskan hatinya seperti orang mengeraskan tanah liat di bawah matahari.
"Aku tidak akan membebaskanmu dengan mudah," katanya. "Dan aku tidak akan membiarkanmu memindahkan ini ke siapa pun lagi. Aku akan mengikatmu, Wulansari. Dengan namamu, di makammu, di bawah saka guru ini. Berapa pun harganya."