Pada malam ketiga, godaan itu datang khusus untuk Ratri.
Ia tertidur di kursi di samping kamar Bara, kelelahan yang menumpuk akhirnya menariknya turun. Dan dalam tidurnya—atau dalam sesuatu yang menyamar sebagai tidur—ia bermimpi.
Mimpi itu tidak seperti mimpi. Terlalu jelas, terlalu hangat, terlalu sempurna.
Ia melihat pagi di joglo, tapi joglo yang berbeda. Tak ada garis bubuk di lantai. Tak ada sesepuh berjaga dengan wajah lelah. Tak ada kepala kerbau menggantung mengancam di atap. Cahaya matahari masuk lewat jendela, dan di meja makan, keluarganya berkumpul—Ibu tersenyum, Pakdhe Hartono tertawa lepas seperti dulu sebelum Danu hilang, Bibi Sukma menuang teh tanpa tangan gemetar. Dan di kursi seberang, duduk Bara.
Bara yang utuh. Bara yang tangannya hangat. Bara yang menatapnya dan berkata, "Pagi, Tri. Kamu kenapa, kok mukamu kayak habis nangis seminggu?"
Dalam mimpi itu Ratri tak bisa menahan air matanya. Kakaknya kembali. Benar-benar kembali. Tak ada penumpang dalam tubuhnya. Tak ada tembang yang menyusup di malam hari. Tak ada mata hitam yang muncul ketika lampu padam.
Dan sebuah suara—lembut, perempuan, banyak-suara yang dilapisi madu—berbisik di telinganya, begitu pelan sampai terasa seperti pikirannya sendiri.
*"Ini bisa jadi nyata. Ini bisa kau punya. Tanpa ritual yang menyiksa. Tanpa nyawa yang harus dibayar. Tanpa kehilangan kakakmu di hutan terkutuk itu. Lepaskan saja niatmu, Ratri. Berhenti melawan. Biarkan keadaan berjalan dengan caranya yang lama, dan aku akan kembalikan kakakmu utuh, dan kalian semua hidup tenang. Bukankah ini yang kau inginkan? Bukankah kau lelah?"*
Ratri, dalam mimpi, mengulurkan tangan ke arah Bara yang tersenyum. Tangannya gemetar. Begitu dekat. Begitu mudah. Yang perlu ia lakukan hanya berhenti—berhenti berjuang, berhenti merancang ritual yang menuntut darah, berhenti menggali masa lalu yang menyakitkan. Tinggal duduk di meja itu, dalam kehangatan itu, dan membiarkannya nyata.
Tapi sesuatu mengganjal.
Ia menatap Bara dalam mimpi itu lebih lama, dan ia menyadari—kakaknya tak pernah memanggilnya "Tri". Selalu "Ratri", lengkap, sejak mereka kecil; itu kebiasaan keluarga mereka, nama tak pernah dipotong. Detail kecil yang salah. Lubang sebesar jarum di kain yang terlalu mulus.
Dan begitu ia melihat lubang itu, seluruh kain mulai terurai.
"Ini bohong," kata Ratri, suaranya gemetar tapi keras. "Kamu bukan kakakku. Mas Bara tidak pernah memanggilku Tri."
Senyum Bara dalam mimpi itu tidak luntur. Justru melebar—melebar terlalu jauh, sampai sudut bibirnya merobek pipi, dan dari balik bibir itu muncul terlalu banyak gigi. Kehangatan ruangan menguap. Cahaya matahari berubah jadi cahaya minyak yang gemetar. Wajah-wajah keluarganya di meja meleleh menjadi bayangan, dan yang tersisa hanya sosok di kursi seberang, kepala miring tak wajar, mata dua lubang hitam.
*"Kau begitu yakin masa depan harus dibayar dengan darah,"* desis suara itu, kehilangan lapisan madunya. *"Padahal aku menawarkan jalan yang mudah. Kau menolak jalan yang mudah karena kau pikir penderitaan membuat sesuatu lebih layak. Itu kesombongan, Anak. Kakakmu akan mati di Gandasuli karena kesombonganmu memilih jalan yang sulit."*
"Jalanmu yang mudah," balas Ratri, memaksa dirinya menatap dua lubang hitam itu, "adalah membiarkan kakakku menjadi kamu. Selamanya. Itu bukan menyelamatkannya. Itu kehilangannya dengan cara yang lebih pengecut." Ia mengepalkan tangan. "Aku sudah pernah menariknya keluar dari lingkaranmu sekali. Dan aku salah—aku menariknya keluar ke dalam genggamanmu. Kali ini aku tidak akan tertipu jalan pintas lagi. Kali ini aku bayar harga yang benar."
Sosok itu menggeram, dan suara geramannya seperti tanah longsor, seperti ratusan suara mengaduh sekaligus.
Ratri terbangun dengan tersentak.
Ia masih di kursi, di samping kamar Bara. Lampu minyak nyaris padam. Keringat dingin membasahi punggungnya. Dan dari dalam kamar, di balik garis bubuk, ia mendengar Bara bersenandung dalam tidurnya—tembang itu, naik-turun seperti tangisan—lalu berhenti, dan suara Bara, suaranya sendiri yang lemah, berkata dari kegelapan, "Kamu menolaknya. Bagus. Aku merasakan dia... kecewa. Marah." Jeda. "Dia takut padamu, Ratri. Untuk pertama kalinya, aku merasa dia takut pada manusia."
Ratri mengusap wajahnya yang basah. Tangannya gemetar. Tapi di dalam dadanya, di tempat tadi nyaris diisi godaan akan jalan yang mudah, kini tumbuh sesuatu yang lebih keras dari rasa takut.
Tekad.