Ratri tak tidur sisa malam itu. Ia membaca ulang buku harian kedua tiga kali, menyalin setiap kata yang menyebut tentang nama, sampai matahari pagi masuk melalui jendela kamar kakek dan menyinari kertas-kertas yang menguning.
Kelemahan itu jelas sekarang, sejelas kakek mampu menuliskannya. Mbah Demang—sebutan itu, gelar itu—dulunya manusia. Dan apa pun yang dulunya manusia masih terikat pada satu jangkar dari masa hidupnya: namanya. Nama asli. Bukan gelar, bukan sebutan yang ditakuti orang desa, melainkan nama yang ia sandang ketika ia masih bernapas, masih bisa mati, masih punya wajah manusia. Menemukan nama itu, kata sesepuh yang dikutip kakek, dan mengucapkannya dengan benar, di tempat yang benar, dengan cara yang benar—itu bisa mengikatnya. Bukan sekadar menahannya seperti garis penanda. Mengikatnya.
Ratri membawa buku harian kedua kepada ibunya dan Pakdhe Hartono pagi itu, dan mereka berkumpul di dapur, menjauh dari kamar Bara, suara direndahkan.
"Kakek tahu," kata Ratri, meletakkan buku terbuka di meja. "Kakek tahu ada kelemahannya. Dia bahkan menemukan apa kelemahannya—nama asli makhluk itu. Tapi dia berhenti. Dia terlalu takut mencari namanya, jadi dia kembali ke jalan lama: terus membayar dengan nyawa orang lain."
Pakdhe Hartono membaca halaman itu dengan dahi berkerut. "Nama," gumamnya. "Cuma sebuah nama? Bagaimana sebuah nama bisa mengikat sesuatu yang kuat seperti itu?"
"Aku tidak tahu persisnya," akui Ratri. "Tapi pikirkan, Pakdhe. Selama ini kita memanggilnya Mbah Demang. Tapi Mbah Demang bukan nama—itu gelar. Demang itu jabatan, kepala daerah di zaman dulu. Mbah cuma sebutan hormat untuk yang tua. Jadi 'Mbah Demang' sebenarnya tidak menyebut siapa pun. Itu seperti memanggil seseorang 'Pak Lurah' tanpa tahu namanya." Matanya menyala. "Dan selama ini, tiga generasi keluarga kita memanggilnya dengan gelar, bukan namanya. Kita tunduk pada gelarnya. Kita takut pada sebutannya. Tapi tak satu pun dari kita tahu siapa dia sebenarnya, dulu, ketika dia masih manusia."
Ibunya menggigil. "Membumikan dia," bisiknya. "Menyebut nama manusianya... membuatnya jadi manusia lagi. Membuatnya bisa diikat seperti manusia diikat."
"Mungkin," kata Ratri. "Mbah Joyo mungkin tahu lebih banyak. Tapi Mbah Joyo sekarat, dan aku tidak yakin berapa lama lagi dia bisa membantu. Jadi kita harus mulai sendiri." Ia menutup buku itu dengan mantap. "Kita harus menemukan namanya. Nama asli makhluk yang menjajah keluarga kita selama berabad-abad. Siapa dia dulu sebelum menjadi penunggu Gandasuli. Demang yang mana, dari zaman apa, yang menukar dirinya menjadi seperti itu."
"Dan kalau kita menemukannya?" tanya Pakdhe, suaranya berat dengan keraguan dan harapan yang berbaur.
Ratri menatap ke arah lorong, ke arah pintu kamar tempat kakaknya masih tidur, tangan dingin terkulai di samping ranjang, dada naik turun dengan napas yang—Ratri tahu kalau ia mendekat dan mendengarkan—akan disertai senandung pelan tembang yang tak seorang pun ajarkan padanya.
"Kalau kita menemukan namanya," kata Ratri pelan, "kita punya senjata yang kakek tak pernah berani angkat. Kelemahan yang dia temukan tapi tak pernah dia uji." Ia mengepalkan tangan di atas meja. "Kakek menemukannya dan lari karena takut. Aku tidak akan lari. Aku akan menguji apa yang dia tak berani uji. Aku akan mencari nama itu sampai ke makam tua, sampai ke tutur sesepuh, sampai ke catatan paling tua yang masih tersisa di desa ini. Dan ketika aku menemukannya—" suaranya mengeras menjadi sumpah, "—aku akan menyebutnya di hadapan makhluk itu, dan kita lihat apakah sesuatu yang dulunya manusia masih bisa gemetar mendengar nama manusianya sendiri."
Di luar, pagi naik di atas Hutan Gandasuli yang jauh, biru dan tenang dan berbahaya. Dan di kamarnya, tanpa terbangun, tanpa sadar, Bara berhenti bersenandung—berhenti tepat di tengah tembang, seakan ada sesuatu di dalam dirinya yang mendengar sumpah adiknya dari balik dinding, dan untuk pertama kalinya dalam berabad-abad, merasa takut.