Mobil itu berhenti di depan gapura batu, dan untuk sesaat Bara hanya menatap rumah masa kecilnya seperti menatap orang asing yang mengaku saudara.
Joglo tua keluarga Sastrawijaya berdiri di ujung jalan desa, di balik pagar tembok tinggi yang dulu tidak ada. Bara ingat betul rumah ini ketika ia kecil: kayunya keropos di beberapa bagian, gentingnya berlumut, halamannya becek setiap musim hujan. Tapi yang berdiri di hadapannya sekarang adalah bangunan yang seakan baru saja keluar dari mimpi. Kayu jatinya mengilap gelap seperti madu tua. Empat tiang saka guru di tengah pendapa berdiri kokoh, diukir naga dan sulur yang dilapisi sepuhan emas tipis. Lantainya marmer. Lampu gantung kristal menggantung di langit-langit pendapa yang seharusnya cuma beratap anyaman bambu.
"Sudah berubah banyak, ya," kata sopir taksi sambil menurunkan koper Bara. Matanya menyapu rumah itu dengan campuran kagum dan sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih dekat dengan takut. "Keluarga Pak Sastra memang... beruntung sekali. Mendadak kaya raya. Padahal dulu, kata orang-orang sini, mereka cuma keluarga petani biasa."
Bara membayar dan tidak menjawab. Ia tahu apa yang dimaksud sopir itu. Ia sudah sering mendengar nada itu seumur hidupnya, dari mulut tetangga, dari saudara jauh, dari teman-teman sekolah dulu. *Beruntung sekali.* Diucapkan dengan senyum yang ujungnya menurun, seperti ada kalimat lain yang ditelan kembali sebelum sempat keluar.
Pintu pendapa terbuka sebelum Bara sempat mengetuk. Ibunya berdiri di sana, lebih tua dari yang Bara ingat, dengan kebaya dan rambut yang dikonde rapi. Wajahnya pucat, dan ada bayangan gelap di bawah matanya yang tidak bisa ditutupi bedak.
"Bara," kata ibunya, suaranya bergetar. "Akhirnya kamu pulang."
Mereka berpelukan. Tubuh ibunya terasa lebih ringkih dari yang seharusnya, dan Bara merasakan ibunya gemetar pelan, seperti orang yang sudah lama menahan tangis.
"Kakek..." Bara tidak perlu melanjutkan.
"Tujuh hari lagi empat puluh harinya," kata ibunya. "Tapi bukan itu yang membuat Ibu memanggilmu pulang, Le." Ia menarik napas, dan suaranya turun menjadi bisikan. "Sebentar lagi malam itu datang. Malam yang sama, seperti tiap tahun. Dan tahun ini... Ibu takut, Bara. Ibu takut sekali."
Bara mengerutkan dahi. "Malam apa, Bu?"
Tapi ibunya hanya menggeleng, menggenggam tangan Bara erat-erat, dan menariknya masuk ke dalam rumah yang terlalu megah itu—rumah yang, baru Bara sadari kemudian, terlalu sunyi untuk ukuran keluarga yang katanya seberuntung ini.
Di dalam, di meja makan panjang dari kayu jati, hanya ada tiga tempat duduk yang diisi. Pakdhe Hartono, kakak tertua ibunya, duduk di ujung dengan wajah masam. Bibi Sukma, adik bungsu, mengaduk teh tanpa meminumnya. Dan ada satu kursi kosong di seberang, dengan piring bersih yang tetap dipasang, seakan menunggu seseorang yang semua orang tahu tidak akan datang.
"Itu kursi Mas Danu," bisik ibunya, mengikuti arah pandang Bara. "Sepupumu. Anak Pakdhe Hartono."
"Mas Danu ke mana?"
Seluruh meja terdiam. Sendok Bibi Sukma berhenti mengaduk. Pakdhe Hartono menatap piringnya seakan ada sesuatu yang sangat menarik di sana.
"Setahun yang lalu," kata ibunya akhirnya, sangat pelan, "di malam yang sama, Danu... pergi. Tidak pernah kembali. Tidak ada jejak. Tidak ada surat. Pintu kamarnya terkunci dari dalam, jendelanya tertutup, tapi pagi harinya dia sudah tidak ada." Ibunya menelan ludah. "Sama seperti Pakliknya, Wira, dua tahun sebelumnya. Sama seperti Mbah Putri, empat tahun sebelumnya. Sama seperti..."
"Cukup," potong Pakdhe Hartono, suaranya keras dan tiba-tiba. Tangannya mengepal di atas meja. "Jangan diteruskan. Tidak di meja makan. Tidak di malam-malam menjelang."
Bara memandang berkeliling, dari satu wajah ke wajah lain. Semua pucat. Semua lelah. Dan semua, ia sadari dengan dingin yang merayap naik dari tengkuknya, memiliki tatapan yang sama—tatapan orang yang sedang menghitung mundur menuju sesuatu yang mengerikan.
Di luar, angin malam menggesek genting, dan dari arah pendapa, lampu kristal bergoyang pelan, berdenting satu kali, meski tidak ada angin yang masuk ke dalam rumah.