Empat tahun setelah kematian Laras — pada tanggal yang dulu dilingkari terlalu keras di buku hitam seorang lelaki yang kini menghitung hari di dalam sel — keluarga itu tidak mengadakan peringatan.
Mereka mengadakan panen.
Itu keputusan Nayaka, dan tidak ada yang menolaknya. 'Tanggal itu sudah cukup lama dimiliki oleh orang yang salah,' katanya. 'Mulai tahun ini kita ambil alih. Kita isi dengan sesuatu yang tumbuh.'
Maka pagi itu rumah itu penuh dengan cara yang sudah lama tidak terjadi: Hendra datang dengan kue buatan tetangganya, Bi Inah menguasai dapur seperti jenderal, Nadia datang membawa laporan yayasan yang sengaja dicetak bagus-bagus, Dafa menyempatkan diri dengan dua bungkus kopi, dan Bimo datang lebih dulu dari semuanya karena 'panen tidak bisa diwakilkan'.
Ada satu tamu yang datang terakhir dan tidak diumumkan: Ratna, dengan seragam baru berpangkat komisaris, berdiri di gerbang sebentar sebelum masuk, memandang rumah yang dulu datanginya dengan berkas-berkas kematian. Nayaka yang melihatnya duluan dari teras dan memanggil tanpa formalitas: 'Komisaris! Kopinya masih terlalu manis, masuk saja!' Dan Ratna masuk, dan untuk satu sore penuh ia bukan polisi — ia hanya tamu yang dipaksa Bi Inah mencicipi tiga versi sambal.
Kebun kecil bekas kolam renang itu sekarang bukan lagi kebun kecil. Ia sudah tumbuh menjadi kebun yang sesungguhnya: wortel di barisan pertama, tomat merambat di penyangga bambu, cabai, dua rumpun serai, dan di sudut yang paling mendapat matahari — di tempat yang dipilih dengan musyawarah keluarga yang serius — dua pohon kecil yang ditanam tepat hari itu.
Pohon pertama untuk Laras. Pohon kedua untuk Sekar.
Pemilihan jenis pohonnya memakan waktu seminggu dan tiga kali rapat keluarga di meja makan. Reza mengusulkan cemara, 'yang tidak pernah gugur'. Hendra mengusulkan kenanga, karena Sekar kecil suka wanginya. Bara memiliki pendapat yang menang, seperti biasa, dengan argumen yang tidak bisa dibantah: 'Pohon buah saja. Biar yang sudah pergi tetap kasih makan orang.' Maka yang ditanam adalah dua pohon jeruk kecil — yang kelak, bertahun-tahun kemudian, akan berbuah setiap musim dan dipanen oleh tangan yang terus membesar.
Bara yang menyekop tanah terakhir untuk keduanya, dengan kesungguhan yang membuat semua orang dewasa berhenti bicara dan memandang. Di pangkal masing-masing pohon ia menancapkan papan kecil yang ia tulis sendiri, dengan huruf-huruf besar dan ejaan yang sudah jauh lebih baik dari era dinosaurus:
*'Mama Laras — yang menyiapkan bukti.'*
*'Tante Sekar — yang menulis surat.'* (Di bawahnya, lebih kecil: *'aku tetap mau panggil Om.'*)
Tidak ada pidato. Yang ada adalah makan siang panjang di teras, di bawah lampu taman yang dulu dipasang untuk seorang anak yang takut hujan — dan anak itu sekarang berlarian di kebun sambil hujan rintik, dengan Bimo, tanpa takut apa pun, karena takut itu sudah lama disiram dan dipanen dan tidak tumbuh lagi.
Di ujung meja, Dafa dan Nadia terlibat perdebatan kecil tentang apakah jeruk lebih baik dari tomat — perdebatan yang tidak penting dan karena itu sempurna. Hendra menceritakan kepada Ratna, dengan bangga seorang kakek yang tidak kenal batas, tentang nilai 92 di buku dinosaurus. Bi Inah mengangkat piring sambil mengumumkan bahwa tahun depan kebun ini harus punya rambut jagung, 'supaya lengkap', dan tidak ada yang bertanya apa maksudnya lengkap karena semua tahu Bi Inah tidak pernah menjelaskan ukurannya.
Di lapas-lapas yang jauh, hari itu berlalu seperti hari-hari lain: Danu membaca di selnya, Arga mengajar huruf di kelasnya, Gilang duduk menghadap dinding yang tidak menampilkan apa-apa. Dunia di luar tidak lagi membutuhkan mereka untuk berjalan — dan justru di situlah hukuman menemukan bentuk terakhirnya: bukan di jeruji, melainkan di hari-hari yang berjalan tanpa mereka.
Sore harinya, ketika tamu-tamu sudah pulang dan rumah kembali kepada penghuninya, Reza dan Nayaka duduk di teras dengan teh yang dingin separuh, memandang dua pohon kecil yang berdiri di sudut kebun.
'Perjanjian di atas altar,' kata Nayaka pelan, mengulang kata-kata yang sudah bertahun-tahun tidak mereka ucapkan — kata-kata yang dulu menamai pernikahan mereka: sebuah pakta yang ditandatangani di atas surat-surat kematian, dengan dendam sebagai saksinya.
'Perjanjian yang paling salah sekaligus paling benar yang pernah kutandatangani,' kata Reza.
'Kau tahu apa bedanya sekarang?' Nayaka menatap kebun itu. 'Dulu altar itu berisi berkas. Sekarang berisi tanah. Dulu kita berjanji untuk menuntut. Sekarang kita berjanji untuk menanam. Perjanjiannya sama — dua orang, satu meja, satu tanda tangan. Isinya yang akhirnya benar.'
Reza menggenggam tangan istrinya di atas meja teras, di tempat yang sama, dengan gerakan yang sama, seperti bertahun-tahun lalu ketika dua tangan itu pertama berjabat sebagai sekutu. Tapi genggaman itu sekarang bukan pakta. Genggaman itu rumah.
Di dalam rumah, Bara menulis di buku Catatan Keluarganya — buku yang sudah tebal, yang sudah berganti sampul dua kali, yang isinya sudah berubah dari daftar keanehan menjadi daftar kehidupan. Malam itu ia menulis halaman terakhirnya untuk tahun itu:
*'Hari ini kami menanam dua pohon. Satu untuk Mama Laras, satu untuk Tante Sekar. Kata Mama, pohon itu cara orang yang sudah pergi untuk tetap tumbuh. Kata Ayah, kebun ini dulu kolam renang, dan sekarang tidak ada yang tenggelam di sini lagi. Aku tidak tahu maksudnya, tapi aku catat saja, karena kadang-kadang orang dewasa benar.*
*Besok kami panen lagi.*
*Semua yang ditanam pelan-pelan tumbuh. Semua yang dicatat pelan-pelan benar. Semua yang pergi pelan-pelan pulang, lewat pintu yang lain.*
*Aku Bara. Aku yang mencatat. Keluargaku aman. Cerita ini selesai.'*
Dan di luar, hujan turun pelan di atas kebun kecil itu — bukan hujan yang menakutkan, melainkan hujan yang menyiram — dan dua pohon kecil berdiri di sudut yang paling mendapat matahari, menunggu bertahun-tahun yang akan datang, di sebuah rumah yang akhirnya, sepenuhnya, tidak ditonton siapa-siapa.
TAMAT.