Timeline dua halaman itu dibedah selama tiga hari oleh tiga ahli: ahli tulisan tangan, ahli kertas, dan jaksa yang dua puluh tahun membaca dokumen penjahat.
Ahli tulisan tangan membandingkan setiap huruf dengan contoh-contoh sah: tanda tangan di kontrak sewa, di formulir bank, di surat-surat lamanya sebagai konsultan. Kecocokannya tidak menyisakan ruang untuk perdebatan. Ahli kertas bekerja lebih sunyi: ia menentukan umur kertas dari serat dan bintik oksidasinya, dan umur tinta dari lapisan yang mengendap — dan menyimpulkan tulisan itu tidak dibuat kemarin untuk menipu siapa pun, melainkan ditulis di minggu-minggu yang memang ia catat.
Tulisan tangannya cocok dengan contoh-contoh tulisan Gilang yang sah. Kertasnya diproduksi lima tahun lalu, tintanya dari periode yang tepat. Dan isinya — itu yang membuat jaksa tersenyum untuk pertama kalinya sejak perkara ini mulai — isinya tidak bisa ditulis oleh orang yang tidak tahu.
*19.40 — L menelepon D.* Hanya segelintir orang di bumi yang tahu Laras menelepon Danu malam itu. *21.10 — perintah keluar lewat A.* Cocok dengan kesaksian Arga sampai ke menitnya. *22.00 — posisi dikonfirmasi.* Posisi siapa, kalau bukan posisi orang yang mengawasi? *04.40 — selesai.* Empat lewat empat puluh. Jam yang sama dengan yang dipilih Ratna untuk menangkapnya — jam kematian Laras menurut berkas.
'Kita bisa menuntutnya dengan pasal berlapis,' kata jaksa pada rapat penutup. 'Turut serta pembunuhan berencana, dua korban. Pemalsuan identitas. Penyadapan dan pelanggaran privasi. Tapi inti dari semuanya ada di dua halaman ini: dia tahu, dia mencatat, dia memposisikan diri, dan dia menonton hasilnya.'
'Apa yang akan dikatakan pengacaranya?' tanya Ratna.
'Bahwa timeline itu tulisan orang gila yang mengarang. Bahwa "selesai" bisa berarti apa saja.' Jaksa mengangkat bahu. 'Itu tugasnya. Tugas kita adalah memastikan hakim membaca dua halaman ini setelah membaca dua ratus foto dua perempuan yang meninggal di jam yang dia catat. Tidak ada hakim yang tidur nyenyak setelah itu.'
Ada satu masalah tersisa, dan masalah itu bernama Laksmi.
Pengacara Gilang itu mengajukan keberatan resmi dua hari setelah penggeledahan: surat penggeledahan gudang, menurutnya, lahir dari penyelidikan yang 'melampaui kewenangan' — dan ia meminta seluruh isi unit 117 dinyatakan tidak sah sebagai barang bukti. Bukan strategi yang lemah; strategi itu pernah memenangkan perkara-perkara besar.
Sidang praperadilan kecil digelar untuk itu. Dan di sinilah hal yang tidak terduga terjadi: negara tidak berdiri sendirian di ruang sidang itu.
Fahmi bersaksi — tentang amplop-amplop di kotak karat, tentang permintaan-permintaan kecil yang empat tahun mengalir. Tangannya gemetar saat mengangkat sumpah, tapi suaranya tidak. 'Saya tidak tahu isinya untuk apa, Yang Mulia. Tapi saya tahu sekarang, dan saya tidak mau nama saya hilang dua kali: sekali karena diam, sekali karena bohong.'
Ibu Lastri bersaksi — tentang penyewa kamar yang berdiri di pagar setiap Selasa dan Jumat pagi, jam enam, pas mobil sekolah lewat. 'Saya kira dia menunggu tukang sampah. Ternyata dia menunggu anak orang.' Ia mengatakannya dengan geram seorang ibu, dan hakim tidak menegurnya, karena beberapa kalimat memang pantas diucapkan dengan geram.
Staf sekolah itu bersaksi. Pemilik kos di seberang yayasan bersaksi. Fotografer lepas dari acara beasiswa pun datang — dengan surat perintah palsu yang ia simpan — dan berkata singkat: 'Saya hampir jadi kaki orang jahat karena butuh uang skripsi. Saya ke sini supaya itu tidak sia-sia.'
Satu per satu, orang-orang kecil yang selama ini menjadi saluran tanpa tahu, berdiri di depan hakim dan menandatangani kebenaran.
'Pembela bertanya apakah penyelidikan ini sah,' kata jaksa dalam kesimpulannya. 'Majelis, penyelidikan ini tidak lahir dari kecerdasan polisi. Ia lahir dari keberanian orang-orang kecil yang akhirnya mau bicara. Kalau kita nyatakan tidak sah hari ini, kita tidak sedang melindungi hukum. Kita sedang memberi tahu orang-orang kecil itu bahwa lain kali, diam saja.'
Hakim menolak permohonan Laksmi. Barang bukti sah.
Di sel tahanannya, Gilang menerima kabar itu dari pengacaranya dengan tenang — terlalu tenang, menurut Laksmi, yang mulai belajar membaca kliennya seperti membaca cuaca.
'Anda tidak terkejut,' kata Laksmi.
'Saya dua puluh tahun menyiapkan arsip itu,' kata Gilang. 'Sebagian dari saya selalu tahu akan ada orang yang membacanya.' Ia menatap dinding selnya. 'Anda tahu apa yang aneh, Bu Laksmi? Sekarang arsip itu ada di gudang negara, dengan nomor bukti dan segel. Dia tidak akan dibuang. Dia tidak akan terbakar. Dia akan disimpan negara sampai seratus tahun.'
'Itu cara aneh untuk menenangkan diri.'
'Itu bukan menenangkan diri.' Gilang menatap pengacaranya, dan untuk pertama kalinya Laksmi melihat kliennya tersenyum sungguhan — senyum yang membuatnya ingin keluar dari ruangan itu. 'Itu warisan. Orang lain meninggalkan anak. Saya meninggalkan arsip. Negara sekarang menjadi ahli waris saya.'
Laksmi tidak menjawab. Dalam catatan pribadinya malam itu, pengacara yang sudah membela segala macam manusia itu menulis satu kalimat yang tidak akan pernah masuk berkas: *Klien saya tidak takut hukuman. Klien saya takut dilupakan — dan dia telah memastikan, dengan cara paling mengerikan, bahwa negara tidak akan pernah melupakannya.*
Di kantornya, malam yang sama, Ratna menjalankan ritual kecilnya sendiri. Ia berdiri di depan papan perkara yang tiga tahun terakhir menjadi dinding paling ramai di gedung itu — foto, garis, nama, panah — dan mulai melepasnya satu per satu. Danu. Arga. Yanto dengan tulisan 'saksi kunci' di bawahnya. Terakhir, foto Gilang dari kamera rumah burung, yang berada di tengah papan sejak berminggu-minggu lalu.
Ia tidak membuang foto-foto itu. Ia memasukkannya ke map cokelat tebal, menuliskan nomor perkara di sampulnya, dan menandatanganinya di bawah lampu meja yang kuning.
'Selesai, Bu?' tanya Dafa dari pintu, sudah dengan jaketnya, sudah siap pulang.
'Berkasnya selesai,' jawab Ratna, memandang papan yang kosong. 'Orang-orangnya belum. Korban tidak pernah selesai bagi yang ditinggalkan — perkara cuma bagian yang bisa ditutup negara.' Ia menyimpan map itu ke lemari arsip. 'Pulang, Dafa. Besok tidak ada yang diawasi. Nikmati malam yang tidak diawasi siapa-siapa.'