Mereka kembali ke tepi hutan dua malam kemudian, melewati jalan setapak yang kini ditumbuhi lumut bercahaya samar. Kaba berjalan di depan dengan tombak bambu barunya, yang ia raut sendiri dari batang muda untuk menggantikan yang patah. Maya mengikuti dengan kalung di tangan, sementara cahaya lumut menuntun langkah mereka seperti deretan bintang yang jatuh ke tanah.
Lubuk Pohon Raksasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Akar-akar yang dulu mencengkeram tanah kini sebagian sudah berubah kelabu, kering, rapuh seperti tulang. Penjaga masih di sana, melebur dengan batang, tetapi cahaya hijau di matanya hanya tinggal kelip yang nyaris padam. Setiap kata yang ia ucapkan kini datang sebagai getaran lemah yang harus Maya tangkap lewat telapak kakinya yang menempel di akar.
*Kau sudah membaca surat ibumu,* getar Penjaga. Itu bukan pertanyaan. *Kalung memberitahuku. Ia ingat tangannya.*
Maya berlutut, meletakkan kedua telapak tangan di akar Penjaga yang dingin. Kulit kayu itu terasa rapuh di bawah jarinya, mengelupas seperti kulit ari, dan untuk pertama kalinya ia merasakan betapa dekat Penjaga dengan akhir. "Ibuku menulis tentang dua jalan. Aku ingin kau mengatakannya sendiri padaku. Tanpa menyembunyikan apa pun. Aku sudah lelah disembunyikan dari kebenaran."
*Menyembunyikan adalah cara para tua mencintai yang muda,* getar Penjaga lemah. *Kami pikir, dengan tidak memberitahumu, kami menyelamatkanmu. Kami selalu salah. Ibumu juga disembunyikan dari kebenaran sampai ia menemukannya sendiri di tepi jantung—terlambat.*
"Maka jangan ulangi kesalahan itu padaku," kata Maya. "Beritahu aku sekarang. Selagi aku masih bisa memilih."
Hening lama. Daun-daun tinggi di atas mereka bergetar, meski tidak ada angin. Lalu Penjaga bicara, dan kali ini setiap getaran terasa seperti tetes air terakhir dari sumber yang hampir kering.
*Ada dua jalan, Maya. Sejak dulu hanya ada dua. Pertama: jalan yang dilalui leluhurmu, jalan yang kami semua tempuh.* Cahaya hijau itu berkedip. *Kau berdiri di jantung. Kau memberikan tubuhmu—bukan sepotong, bukan separuh, tetapi seluruhnya. Daging menjadi kabut, napas menjadi akar, jiwa menjadi simpul yang mengikat Yang Tertidur. Segel terjalin kembali, utuh dan baru. Anak-anak pulang. Desa selamat untuk tujuh generasi lagi.*
"Dan aku lenyap," kata Maya. Suaranya rata, tetapi tangannya mengepal di atas akar.
*Kau menjadi hutan. Seperti aku. Seperti mereka. Kau akan mendengar segala bisikan tanah selamanya, tetapi tak ada lagi yang akan mendengarmu sebagai Maya.* Penjaga diam sejenak. *Itu jalan pertama. Jalan yang berhasil. Jalan yang selalu menelan satu nyawa penjaga setiap kali gerbang retak.*
Kaba, yang berdiri di belakang, melangkah maju. Rahangnya mengeras. "Dan jalan kedua?"
Mata Penjaga bergeser ke arahnya, lambat, seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menoleh. *Jalan kedua adalah jalan yang dicoba ibu Maya. Jangan jadi segel. Putus garisnya. Biarkan kalung mati. Jangan wariskan darah ini pada siapa pun. Maka, ketika segel ini akhirnya runtuh total, tak akan ada penjaga baru yang lahir untuk menambalnya. Yang Tertidur akan bangun penuh.* Suaranya merendah. *Tetapi ia akan bangun ke dunia yang tak punya lagi penjaga untuk dipanggilnya. Ia akan menelan desa ini. Anak-anak ini. Lalu, suatu saat, ia akan kembali tidur sendiri karena kelaparan—seperti dulu, sebelum ada penjaga pertama. Tetapi yang ia telan, telah hilang.*
Maya merasa darahnya membeku. "Itu bukan dua jalan. Itu dua cara untuk kalah."
*Begitulah ibumu juga mengatakannya,* getar Penjaga, dan ada kepedihan tua dalam getaran itu. *Ia menolak keduanya. Ia mencari jalan ketiga. Aku menyaksikannya berjalan ke jantung, penuh keyakinan. Aku menyaksikannya tidak kembali.*
Maya menutup matanya. Di kegelapan di balik kelopaknya, ia bisa melihat surat ibunya, huruf-huruf yang gemetar, noda di sudut kertas. *Tak ada jalan ketiga, anakku.* Tetapi di dalam dadanya, sesuatu menolak menerima kalimat itu. Bukan keberanian—ia tidak merasa berani. Lebih seperti kekeraskepalaan, seperti akar yang menolak mati meski tanahnya kering.
"Penjaga," katanya, membuka mata. "Apakah kau yakin tidak ada jalan ketiga? Atau kau hanya belum pernah melihatnya berhasil?"
Untuk pertama kalinya, cahaya hijau di mata Penjaga berkedip dengan cara yang berbeda. Bukan keputusasaan. Sesuatu yang lebih mirip keterkejutan—seakan tak seorang pun pernah bertanya begitu kepadanya selama tujuh generasi.
*Aku tidak tahu,* akhirnya ia mengaku, dan kejujuran itu terasa lebih berat daripada segala ramalan. *Aku hanya pernah melihat dua jalan ditempuh. Aku tidak pernah melihat seseorang menolak keduanya dan tetap hidup.*
Maya berdiri perlahan. Kabut di lubuk merayap ke pergelangan kakinya, dingin dan akrab. "Kalau begitu," katanya, "berarti jalan ketiga belum pernah dicoba sampai selesai. Bukan berarti tidak ada."
"Maya." Kaba melangkah ke sisinya, suaranya rendah, hampir memohon. "Ibumu juga berpikir begitu. Dan ibumu tidak kembali."
Maya menoleh padanya, dan untuk sesaat ada keras kepala dan kelembutan sekaligus di matanya. "Ibuku mencari sendirian, Kaba. Tanpa Penjaga yang mau jujur padanya. Tanpa roh penjaga rakus yang bisa kutanyai. Tanpa seorang penambat yang menahannya tetap menjadi dirinya." Ia menatap tangannya yang terbalut kain. "Aku tidak sendirian. Itu satu perbedaan. Dan satu perbedaan kadang cukup untuk mengubah akhir cerita yang sama."
Kaba menatapnya, dan dalam tatapan itu ada ketakutan dan kekaguman yang bercampur. Di atas mereka, daun-daun Pohon Raksasa bergemerisik, dan untuk sesaat Maya berani bersumpah ia mendengar sesuatu yang lain di balik gemerisik itu—bukan suara Penjaga, bukan suara Yang Tertidur, melainkan sesuatu yang menyerupai tawa lirih, jauh di dalam jantung hutan, seakan ada yang menunggu untuk melihat apakah ia juga akan gagal.