Setelah hari itu, Maya mulai menyembunyikan tangan dari semua orang.
Ia membungkus pergelangan kanannya dengan kain selendang tua yang dilipat berlapis, menyelipkan ujungnya dengan sangat hati-hati setiap pagi agar gumpalan kabut yang berkelip di sana tak terlihat oleh mata siapa pun. Ketika ia menumbuk rempah atau menimba air dari sumur, ia memakai tangan kiri, canggung dan lambat, sampai persendian bahunya pegal dan ototnya berteriak protes. Bukan karena malu—malu sudah lama habis dimakan hal-hal yang jauh lebih besar dari pandangan orang. Melainkan karena ia tak tahan melihat sesuatu di mata orang lain ketika mereka menatap apa yang telah hilang darinya. Mata Nenek. Mata Kaba. Mata yang menghitung, diam-diam, sama persis seperti dirinya sendiri menghitung di malam-malam tanpa tidur.
Tetapi kabut tak berhenti di tangan.
Suatu malam, ketika ia membasuh muka di pancuran bambu di belakang rumah, ia melihat pantulan wajahnya di permukaan air yang tenang di ember bawah, dan ia menahan napas. Di pelipis kanannya, tepat di garis rambut tempat anak-anak rambut halus tumbuh, sehelai kulit telah memucat dan mulai berkelip samar—tak lebih besar dari kuku kelingking, tetapi jelas, tak terbantahkan. Ia mengangkat tangan kirinya dan menyentuhnya pelan. Rasanya dingin di bawah jari, dan jari-jarinya terasa seperti menyentuh embun pagi ketimbang kulit yang hidup. Peluruhan itu telah berpindah dari tangan ke wajahnya. Ia naik.
Ia tak memberi tahu siapa pun. Ia menutup pelipis itu dengan rambut yang ia urai. Tetapi Nenek Larasati selalu tahu, entah bagaimana, seperti ia selalu tahu sejak Maya kecil.
"Berapa lama," tanya nenek itu suatu pagi, tanpa basa-basi, tanpa mengangkat wajah dari lesung batu tempat ia menumbuk akar pahit. "Sejak kau merasakan dirimu menghilang lebih cepat dari sebelumnya. Jangan bohong padaku, Nak. Aku tahu kapan kau bohong sejak kau berumur tiga."
Maya tak menjawab. Ia hanya menarik selendang lebih tinggi menutup pelipisnya, gerakan yang sudah jadi kebiasaan.
Nenek meletakkan alunya dengan bunyi tumpul, dan ketika ia akhirnya menatap cucunya, mata kelabu yang biasanya keras itu basah—pemandangan langka yang membuat dada Maya nyeri seperti ditusuk. "Aku menghitung, Maya. Sejak malam kau membawa pulang anak Larsih, kau makan lebih sedikit dari biasanya, kau lebih cepat lelah saat menimba, dan kau bicara seakan setiap kata harus menghemat napas. Aku yang membesarkanmu sejak kau merah. Aku tahu bentuk tubuhmu seperti aku tahu bentuk tanganku sendiri di kegelapan. Dan aku melihatnya menyusut, sedikit demi sedikit, setiap hari."
"Aku masih di sini, Nek," kata Maya, mencoba mengulas senyum yang terasa pahit di bibirnya sendiri. "Aku masih Maya. Aku masih ingat cara Nenek suka kunyit ditumbuk halus, bukan kasar."
"Untuk berapa lama lagi?" Suara nenek pecah, dan air mata yang ia tahan akhirnya turun menyusuri keriput pipinya. "Setiap leluhur yang melebur jadi hutan, mereka juga mengatakan persis itu di awal. Aku masih di sini. Aku masih diriku. Sampai suatu hari yang tinggal hanya akar dan kabut dan bisikan, dan tak ada lagi gadis yang dulu menumbuk kunyit untuk neneknya di pagi hari. Aku sudah melihatnya sekali, Nak." Suaranya menurun jadi bisikan yang nyaris tak terdengar. "Aku sudah melihat seseorang yang kucintai menghilang seperti ini. Aku tak sanggup melihatnya dua kali."
Kaba, yang baru datang membawa seikat kayu bakar di bahunya, berhenti tepat di ambang pintu, mendengar kata-kata terakhir itu. Ia meletakkan kayunya pelan-pelan ke lantai, tanpa suara. Maya melihat wajahnya, dan di sana ia melihat hal yang sama persis yang ia takutkan ada di mata Nenek—jam-pasir hidupnya yang sedang dihitung, butir demi butir, oleh orang-orang yang mengasihinya.
Malam itu, Kaba mengajaknya keluar ke pohon asam tua di belakang rumah, tempat semua ini bermula dahulu, tempat Kaba pertama kali memergokinya bicara pada pohon. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya duduk di samping Maya di atas akar yang menonjol, menggenggam tangan kirinya yang masih utuh, dan menatap kabut yang menggantung rendah di ladang yang membentang di hadapan mereka.
"Aku tak akan membiarkanmu lenyap," katanya akhirnya, memecah keheningan. "Aku tak tahu caranya. Aku cuma penjaga tepi hutan dengan tombak bambu, aku tak punya darah Penjaga, aku tak bisa mendengar pohon. Tapi aku tak akan membiarkanmu lenyap. Camkan itu."
"Kaba—"
"Dengar dulu." Ia berbalik menghadapnya, dan cahaya bulan yang menembus tipis kabut menyinari wajahnya yang keras kepala dan sungguh-sungguh. "Setiap kali kau memakai darahmu, kau selalu bilang ada harga. Sepotong tubuh jadi kabut, tak bisa ditawar. Tapi malam itu di danau bara, ketika aku memelukmu dari belakang dan memegangmu erat-erat—aku merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang tak bisa kujelaskan." Ia mengernyit, mencari kata-kata yang tepat di antara kosakata sederhananya. "Ketika aku memegangmu sekuat itu, peluruhanmu... melambat. Aku bersumpah. Seakan sebagian dari beratnya, sebagian dari harga itu, bertumpu padaku, bukan hanya padamu sendirian. Aku tidak mengarang, Maya. Aku merasakannya di lenganku, seperti menahan beban yang seharusnya menariknya jatuh."
Maya menatapnya, dan jantungnya berdebar—bukan oleh sentuhan tangannya, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang baru saja membuka pintu kecil di dalam kegelapan yang selama ini terasa buntu. Ia teringat akar-akar tua di bawah danau yang menjawab panggilannya, yang berbagi beban menumbuhkan sulur sehingga ia tak menanggungnya sendirian. Berbagi beban. Mungkin tubuh yang harus melebur tak harus melebur seorang diri. Mungkin harga itu bisa dibagi di antara banyak tangan yang bersedia.
Kalung di dadanya menghangat, seakan menyetujui pikiran yang baru lahir itu. Tetapi sebelum Maya bisa mengejarnya lebih jauh, sebelum ia bisa mengucapkannya keras-keras, batu hijau itu tiba-tiba berdenyut—keras, mendesak, dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, seperti seseorang yang menggedor pintu dari dalam. Dan dari kedalaman batu itu, samar tetapi tak salah lagi, datang sebuah suara perempuan yang membuat seluruh tubuh Maya membeku di tempat. Suara yang ia kenal, meski ia tak pernah benar-benar mendengarnya semasa hidup.
Suara ibunya.