Kabar itu menyebar lebih cepat dari kabut. Seorang anak gembala yang masih cukup berani mendekati batas desa pulang dengan wajah pucat pasi dan napas tersengal: cat merah di batu kapur, garis yang selama tujuh generasi memisahkan desa dari Hutan Kabut, garis yang setiap anak diajari untuk tidak pernah dilewati, mulai mengelupas sendiri.
Maya pergi melihatnya sendiri, dengan Kaba di sisinya dan sosok kabut tua mengambang samar beberapa langkah di belakang mereka, tak terlihat oleh siapa pun selain Maya. Mereka tiba di batas selatan ketika matahari sudah tinggi, menembus kabut yang kini menggantung bahkan di siang hari. Dan apa yang mereka lihat membuat perut Maya mengencang seperti dikepal tangan dingin.
Batu-batu kapur itu masih berdiri di tempatnya, deretan penanda tua yang dahulu dicat merah pekat dengan getah pohon dan tanah liat oleh tangan-tangan leluhur yang sudah lama menjadi tulang. Tetapi catnya kini mengelupas dalam serpihan-serpihan, terkupas sendiri seperti kulit ular yang berganti, jatuh ke tanah dan rapuh menjadi debu merah yang ditiup angin. Bukan karena hujan—musim kemarau masih panjang dan tanah retak-retak kehausan. Bukan karena tangan manusia—tak ada yang berani sedekat ini dengan hutan. Cat itu mengelupas dari dalam batu, dari pori-pori kapurnya sendiri, seakan batu itu menolak menyandang warna larangan lebih lama.
"Kenapa?" tanya Kaba, berjongkok di samping sebongkah batu, menyentuh serpihan cat yang rapuh dengan ujung jari. Serpihan itu hancur jadi debu di sentuhannya. "Kenapa catnya mengelupas sekarang, setelah tujuh generasi bertahan?"
Maya menempelkan telapaknya ke batu kapur itu, hati-hati, menakar dirinya agar tak boros. Getaran yang ia terima membuat dadanya dingin sampai ke ulu hati.
*Cat hanyalah cat,* bisik tanah, suaranya lelah. *Batas yang sesungguhnya bukan warna merah ini. Manusia hanya menandai dengan cat agar mata mereka tahu di mana harus berhenti. Batas yang sesungguhnya adalah segel—dinding kabut hidup yang ditenun dari tubuh para Penjaga yang melebur, dinding tak kasatmata yang berdiri di sepanjang garis ini. Selama segel kuat, hutan berhenti di sini, kabut tak berani melewatinya. Tetapi sekarang segel meluruh, anak penjaga. Dan ketika dinding tak kasatmata itu menipis dan berlubang, bahkan warna yang menandainya kehilangan maknanya. Cat mengelupas karena batas yang sesungguhnya sedang sekarat. Tanda di luar luruh karena yang ditandai di dalam sudah hampir mati.*
Maya menarik tangannya perlahan. Ia menatap sepanjang deretan batu yang membentang ke utara dan selatan, dan kini ia bisa merasakannya dengan jelas—dinding kabut yang dulu padat dan kokoh di garis ini, yang dulu terasa seperti tembok benteng, kini tipis, berlubang, compang-camping seperti kain tua. Di beberapa tempat, ia bahkan bisa merasakan hutan mengintip melewati batas, akar-akar dinginnya menjulur masuk ke tanah desa tanpa ada lagi yang menghalangi, seperti tamu tak diundang yang pintunya sudah jebol.
"Kaba," katanya pelan, suaranya nyaris hilang ditelan kabut. "Garis ini tidak lagi melindungi mereka. Sebentar lagi tidak akan ada batas sama sekali. Hutan dan desa akan menjadi satu tanah, satu tubuh. Dan ketika itu terjadi—"
"Yang Tertidur tidak perlu menunggu anak-anak datang ke batas," Kaba menyelesaikan, bangkit berdiri, suaranya berat seperti batu. "Ia bisa mengambil siapa saja, di mana saja. Bahkan di tengah desa. Bahkan di balik pintu terkunci."
Sosok kabut tua mengambang ke samping Maya, dan getarnya penuh duka yang akrab, duka tujuh generasi.
*Segel hampir runtuh total. Inilah mengapa aku tak bisa lagi menunggu untuk menebus, mengapa aku menampakkan diri padamu sekarang dan bukan menunggu kau lebih siap. Ketika garis terakhir pudar seluruhnya, ketika batu-batu ini telanjang dari merahnya, Yang Tertidur akan bangun seutuhnya. Dan ketika itu terjadi, tak ada nyanyian di seluruh dunia yang cukup cepat untuk menidurkannya lagi. Kau harus bergegas, anak penjaga. Pecahan nyanyian pertama menunggu di ingatan kalungmu. Tetapi waktu menipis seperti cat di batu ini—serpih demi serpih, sampai habis.*
"Berapa lama lagi?" tanya Maya pada sosok kabut itu, suaranya nyaris tak terdengar. "Berapa lama sampai batas ini lenyap seluruhnya?"
*Aku tak bisa menghitung dengan waktu manusia,* jawab sosok itu, getarannya berat. *Tetapi lihatlah cat ini. Ketika batu yang terakhir telanjang dari merahnya, ketika tak ada satu serpih pun tersisa di sepanjang garis ini—saat itulah dinding hidup telah benar-benar mati. Dan dari yang kulihat, anak penjaga, batu-batu di selatan sudah hampir putih seluruhnya. Tinggal beberapa purnama. Mungkin kurang.* Kabutnya berpilin, dan Maya merasakan ketakutan tua di dalamnya, ketakutan dari yang dulu menyebabkan semuanya. *Aku tahu ini terlalu cepat untukmu. Aku tahu kau belum siap. Tetapi tanah tak mengenal belas kasihan pada yang belum siap. Hanya pada yang bertindak.*
Maya berdiri lama di garis batu yang sekarat itu, menatap Hutan Kabut yang merayap semakin dekat dengan setiap embusan angin, dan untuk pertama kalinya ia menyadari dengan sepenuh hati betapa kecil pertahanan desa yang sesungguhnya. Selama ini penduduk Sumur Kayu mengira garis merah adalah benteng tak tertembus. Mereka mengira ketakutan mereka, perburuan mereka, kayu bakar dan doa malam mereka, adalah yang menjaga mereka aman dari mulut iblis. Tetapi yang sesungguhnya menjaga mereka selama tujuh generasi adalah tubuh para leluhur yang justru mereka bakar—dan dinding hidup itu kini hampir habis terurai, dan tak seorang pun di desa yang tahu.
Saat mereka berjalan kembali, Maya memungut sebongkah serpihan cat merah yang telah terkelupas, rapuh dan ringan di telapaknya. Ia menggenggamnya pelan, dan serpihan itu hancur menjadi debu di antara jari-jarinya, jatuh ke tanah seperti pasir dari jam pasir yang waktunya hampir habis. Di belakangnya, kabut merayap melewati garis yang dahulu tak boleh dilewati, masuk ke tanah desa dengan sabar dan lapar, dan tak ada satu pun penduduk di balik pintu-pintu mereka yang menyadari bahwa benteng terakhir mereka sedang luruh menjadi serpihan merah, ditiup angin kemarau ke seluruh ladang.