Kabar pertama datang dari rumah Mbok Sari di ujung selatan desa, rumah yang paling dekat dengan batas batu kapur merah. Lantai tanahnya, kata perempuan itu sambil gemetar, tiba-tiba sedingin batu kuburan. Tak peduli berapa banyak kayu ia bakar di tungku, dingin itu naik dari bawah, menjalar ke tikar, ke dinding bambu, sampai napasnya sendiri berasap di dalam rumah pada siang bolong. Pada malam hari, katanya, terdengar suara mengikis dari bawah lantai—pelan, sabar, seperti tikus, tetapi lebih besar, lebih dalam, seakan ada yang menggerogoti akar rumahnya dari dalam tanah.
Maya mendengarnya dari Mbok Inah, yang kini bersembunyi bersama mereka—janda tua yang nyaris dibakar atas tuduhan palsu, dan yang kini, dengan ironi yang pahit, menjadi satu-satunya orang dewasa di desa yang sepenuhnya berpihak pada Maya. Mbok Inah membawa kabar itu sambil membawa pula sebungkus singkong rebus yang masih hangat, sebab perempuan tua itu tak pernah datang dengan tangan kosong, bahkan dalam pelarian, bahkan ketika nyawanya sendiri terancam.
"Bukan cuma rumah Sari," kata Mbok Inah, menurunkan suaranya meski tak ada siapa-siapa selain mereka di gubuk. "Tiga rumah di pinggir selatan sudah ditinggalkan. Orang-orang bilang ada hawa kubur naik dari tanah. Ada yang dengar suara mengikis di malam hari. Mereka pikir itu jin, atau hukuman, atau penyihir yang masih bersembunyi. Mereka menyalakan dupa, membaca doa, tapi dinginnya tak mau pergi."
Maya menukar pandang dengan Kaba. Ia tahu apa itu. Ia sudah merasakannya sejak tangannya menyentuh bibir sumur tua.
Malam itu, dengan Kaba di sisinya dan Nenek Larasati menunggu di gubuk dengan kalung tergenggam erat di tangan keriputnya, Maya menyelinap ke salah satu rumah yang ditinggalkan. Pintunya menganga, tikarnya berserakan, periuk dan piring ditinggalkan dalam tergesa. Begitu Maya melangkah masuk, dingin itu menyergap kakinya seperti air sungai di musim hujan, naik ke betis, ke lutut. Ia berlutut, menyibak tikar yang lembap, dan menempelkan tangannya ke tanah lantai.
Di bawah sana, ia merasakannya. Akar.
Bukan akar pohon. Akar ini dingin, licin, dan ia bergerak—merayap perlahan di bawah permukaan tanah desa, menjalar dari arah batas hutan menuju jantung Sumur Kayu. Akar kabut. Perpanjangan tangan Yang Tertidur, menumbuhkan dirinya di bawah rumah-rumah penduduk seperti penyakit yang menjalar di bawah kulit, mengubah tanah hangat menjadi tubuhnya sendiri.
*Ia tak menunggu lagi,* bisik tanah, suaranya gemetar ketakutan, terputus-putus seperti orang yang menggigil. *Segel di atas menipis, maka ia menggali dari bawah. Akar demi akar. Rumah demi rumah. Ia akan mengosongkan desa dari dalam, mendinginkan tanah satu petak demi satu petak, dan ketika tak ada lagi tanah hangat yang tersisa, ketika seluruh Sumur Kayu telah menjadi sedingin kuburan, ia akan bangun seutuhnya.*
Maya menarik napas tajam dan mencabut tangannya. Telapaknya membiru, kaku, dan—ia menahan jeritan—ujung kelingkingnya berkelip, daging berganti kabut tipis selama sekejap sebelum memadat kembali dengan susah payah, tidak sepenuhnya. Ia bahkan tidak menumbuhkan apa-apa. Sekadar menyentuh akar dingin itu sudah merenggut sepotong kecil dirinya, seperti tanah yang lapar itu mencicipinya melalui sentuhan saja.
"Maya." Kaba menangkap pergelangan tangannya, matanya menyala marah dan takut sekaligus di bawah cahaya pelita kecil yang ia bawa. "Jarimu. Lihat jarimu."
"Aku tahu," bisik Maya. Ia menggenggam tangannya menjadi kepalan, menyembunyikan kelingking yang baru pulih separuh, yang kini terasa lebih ringan, lebih jauh dari dirinya. "Aku tahu. Ia bahkan tidak perlu aku gunakan kekuatan. Cukup aku sentuh, dan ia mengambil."
Mereka keluar dari rumah itu dalam diam, menutup pintu yang sudah tak berarti lagi. Di luar, desa Sumur Kayu tampak seperti biasa di bawah bulan separuh—atap-atap rumbia, asap tungku yang menipis, lolong anjing dari kejauhan. Tetapi Maya kini bisa merasakannya di bawah setiap langkahnya: jaringan akar dingin yang menyebar, sabar, lapar, mengubah tanah leluhur menjadi tubuh musuh yang tak terlihat oleh siapa pun kecuali dirinya.
"Mereka panik karena dingin dan suara mengikis," kata Maya pelan saat mereka kembali ke gubuk, kaki menyeret di pematang. "Tapi mereka tidak tahu apa yang sebenarnya tumbuh di bawah mereka. Dan kalau aku beritahu, mereka akan membakarku sebelum aku selesai bicara. Mereka akan bilang akulah yang menanam akar-akar itu."
Kaba diam lama, menatap deretan rumah yang gelap, beberapa di antaranya kini kosong dan ditinggalkan, pintu-pintunya menganga seperti mulut yang kehabisan napas. Lalu ia berkata, suaranya rendah dan keras seperti sumpah, "Maka kita harus menemukan cara menghentikannya tanpa kau habis menjadi kabut. Karena kalau kau terus menyentuh hutan begini, Maya, kalau cukup menyentuhnya saja sudah merenggut tubuhmu, kau tidak akan bertahan sampai melihat anak-anak itu pulang. Dan aku tidak akan menukar nyawamu dengan apa pun. Bahkan dengan desa ini."
Mereka berjalan sisa pematang dalam diam. Di dekat gubuk, Nenek Larasati menunggu di ambang, kalung tergenggam di tangan keriputnya, mata kelabunya menangkap wajah cucunya yang pucat dan langsung tahu. "Sudah mulai," gumam perempuan tua itu, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada mereka. "Akar di bawah lantai. Persis seperti dulu, sebelum tujuh nama itu dibakar. Tanah selalu mengulang ceritanya." Ia tak menjelaskan lebih jauh, hanya menarik selendangnya rapat-rapat, dan untuk sesaat Maya merasa neneknya tahu jauh lebih banyak tentang malam-malam ini daripada yang pernah ia ucapkan.
Maya tidak menjawab. Ia hanya menatap kepalan tangannya, tempat kelingking yang dulu utuh kini terasa sedikit lebih ringan, sedikit lebih jauh dari dirinya, seakan sepotong dari namanya sendiri telah ditelan oleh tanah yang dingin dan tak pernah kenyang.