Mereka berencana berangkat ke gua tebing pada malam berikutnya. Tetapi malam berikutnya tidak datang seperti yang mereka rencanakan—sebab pada sore hari, ketika matahari mulai condong dan kabut mulai merayap turun lebih awal dari biasanya, terdengar jeritan dari batas desa.
Bukan jeritan amarah. Bukan jeritan perburuan. Jeritan ngeri, lalu jeritan nama, lalu nama itu diulang-ulang oleh banyak suara sekaligus, dan nama itu menembus dinding lumbung tua dan membuat Maya membeku.
"Tirta."
Ia tidak memikirkan bahaya. Ia tidak memikirkan perburuan, atau Sembada, atau api. Ia hanya berlari—keluar dari lumbung, melintasi ladang dalam cahaya senja, menuju batas desa tempat kerumunan berkumpul. Kaba berteriak memanggilnya, lalu menyusul, dan Nenek Larasati serta Mbok Inah tertinggal di belakang, terlalu lemah untuk mengejar.
Di garis batu kapur merah yang catnya mengelupas, di tempat Tirta dahulu meninggalkan sandal jepitnya, anak gembala itu berdiri.
Kerumunan desa mengelilinginya dalam setengah lingkaran, dan tak satu pun berani mendekat. Sebab Tirta yang berdiri di sana—Tirta yang hilang berhari-hari lalu, Tirta yang ditelan kabut, Tirta yang ibunya telah menangis sampai kering—bukanlah Tirta yang utuh.
Separuh tubuhnya nyata. Separuh tubuhnya kabut.
Maya menerobos ke depan kerumunan dan berhenti, dadanya remuk oleh apa yang dilihatnya. Anak itu berdiri dengan satu kaki yang menapak tanah dan satu kaki yang berkelip jadi uap. Lengan kirinya nyata, kotor, kurus. Lengan kanannya transparan, melayang sedikit, larut di tepinya seperti tepi mimpi. Setengah wajahnya adalah wajah anak yang ketakutan dan kelelahan; setengahnya lagi adalah kabut yang berputar pelan, dengan mata yang menatap tanpa benar-benar melihat. Ia bernapas—Maya bisa melihat dadanya naik turun—tetapi tiap embusan keluar sebagai uap putih yang melayang ke arah hutan, seakan napasnya sendiri ditarik kembali ke tempat ia datang.
"Tirta," bisik Maya, berlutut beberapa langkah darinya, menahan diri untuk tidak menyentuh, takut sentuhan akan menghancurkannya. "Tirta, kau dengar aku?"
Anak itu menoleh. Mata nyatanya menemukan Maya, dan untuk sesaat, ada pengenalan di sana—pengenalan, dan ketakutan, dan kelelahan yang dalam. "Kak Maya," suaranya datang seperti dari sumur yang dalam, bergema, separuh tertelan kabut. "Aku dingin. Aku sangat dingin. Dan ada sesuatu yang menarik napasku. Aku coba menahannya, tapi ia terus menarik. Aku ingin pulang. Tapi aku tidak bisa pulang seluruhnya. Sebagian dari aku masih di sana. Di tempat yang merah."
Kerumunan di belakang Maya bergumam ngeri. Seseorang menangis—ibu Tirta, Maya mengenali suaranya, menjerit nama anaknya, ditahan oleh tetangga agar tidak berlari ke arah sosok yang setengah bukan anaknya itu.
Maya mengulurkan tangannya yang separuh kabut—tangannya sendiri yang berkelip—dan untuk pertama kalinya ia mengerti dengan dingin yang menusuk: ia dan Tirta luruh dengan cara yang sama. Bedanya, ia memberikan dirinya pada hutan dengan sukarela, sepotong demi sepotong, sebagai harga keajaiban. Sementara Tirta—napas Tirta dicuri, dihisap, sedikit demi sedikit, di jantung tempat Yang Tertidur menahannya. Anak ini tidak melebur karena memberi. Ia melebur karena dimakan.
Dan kerumunan melihat tangan Maya. Mereka melihat jari-jarinya yang berkelip jadi kabut—sama persis dengan lengan anak gembala yang berdiri di hadapan mereka. Bisik-bisik menjalar. Seseorang berkata, cukup keras untuk didengar, "Tangannya seperti tangan Tirta." Dan untuk pertama kalinya, gumam itu bukan gumam tuduhan. Itu gumam orang-orang yang mulai mengerti bahwa gadis yang mereka sebut penyihir menanggung luka yang sama dengan anak-anak yang ingin mereka selamatkan—bahwa apa pun yang merenggut Tirta juga sedang merenggut Maya, sepotong demi sepotong.
"Dengarkan aku, Tirta," kata Maya, dan ia membuat suaranya selembut bisikan pohon. "Aku akan menjemputmu. Sisa dirimu yang masih di sana—aku akan membawanya pulang. Kau hanya perlu bertahan. Tahan napasmu sebisamu. Jangan biarkan ia menarik semuanya. Bisakah kau melakukan itu untukku?"
Sosok setengah-kabut itu mengangguk—gerakan yang membuat setengah wajahnya beriak seperti permukaan air. "Akan kucoba, Kak." Lalu, lebih lirih: "Tapi cepatlah. Anak-anak lain di sana mulai berhenti melawan. Mereka mulai lupa caranya menahan. Mereka mulai... menghilang."
Dan dengan kata-kata itu, sosok Tirta mulai memudar—bukan pergi, melainkan ditarik, kabut di tubuhnya merembet menelan bagian-bagian yang masih nyata, sampai ia hanya tinggal bayangan uap di garis batu merah, lalu hanya kabut, lalu hilang ke arah hutan, kembali ke tempat yang merah.
Sandal jepit kecilnya tertinggal di tanah, di tempat yang sama dengan dahulu.
Maya berlutut di hadapan sandal itu, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia merasakan bukan ketakutan, melainkan kemarahan—kemarahan yang dingin dan tajam, kemarahan yang memberinya kejernihan. Tenggat itu nyata sekarang. Bukan lagi ancaman yang jauh. Napas anak-anak sedang dihisap, satu demi satu, dan ketika napas terakhir habis, tidak akan ada lagi yang bisa dijemput pulang.
Ia mengambil sandal jepit kecil itu dan menggenggamnya. Karet murahan yang sudah aus, dengan tali yang pernah putus dan diikat ulang oleh tangan seorang ibu. Benda paling biasa di dunia. Tetapi di telapak Maya, benda itu terasa seperti janji, seperti tugas, seperti nama yang harus ia ingat ketika hutan mencoba membuatnya lupa.
Di belakangnya, ia mendengar kerumunan terdiam. Mereka telah melihat apa yang dilihatnya. Mereka telah mendengar anak gembala itu memohon dengan suara dari dalam sumur, telah melihat napasnya melayang ke arah hutan, telah menyaksikan bahwa kabut tidak mengambil anak-anak mereka karena ilmu hitam seorang janda tua, melainkan karena sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih lapar. Dan untuk pertama kalinya, sebagian dari mereka tidak menatap Maya dengan kebencian. Mereka menatapnya dengan sesuatu yang lebih rumit—sesuatu yang berbahaya bagi cengkeraman Sembada atas desa, sesuatu yang menyerupai pertanyaan, dan menyerupai harapan.