Kabut bergerak lagi, dan kali ini ia tidak datang seperti banjir, melainkan seperti binatang yang mengendap.
Maya merasakannya sebelum melihatnya—getaran yang merayap naik dari tanah ke telapak tangannya yang separuh kabut, dingin yang bukan dingin malam, melainkan dingin lapar. Di kejauhan, cahaya merah dari jantung hutan berdenyut sekali lagi, lalu sekali lagi, semakin cepat, seperti jantung yang baru ingat caranya berdetak. Dan setiap denyut itu menyeret sesuatu bersamanya. Pohon-pohon di sekeliling lubuk mulai bersuara, tetapi bukan dengan bisikan sambutan yang dulu. Mereka mengulang satu hal, berulang-ulang, dan suara itu menggetarkan tulang Maya.
*Ia mengingatmu. Ia mengingat namamu.*
"Penjaga," kata Maya, berlutut di samping tubuh akar yang retak itu. "Apa yang terjadi? Nama apa yang kuucapkan?"
Mata hijau pucat Penjaga meredup dan menyala bergantian, seperti bara di tungku yang hampir mati. Akar-akar yang dahulu menjadi tubuhnya kini mengering satu per satu, mengelupas menjadi serbuk yang ditiup angin yang tak ada. *Jangan ucapkan lagi,* getarnya, dan ada permohonan dalam suaranya. *Tiap kali nama itu keluar dari bibirmu, ia mendengar. Ia tidur ribuan musim, tetapi nama itu adalah satu-satunya hal yang tak pernah ia lupakan. Sebab nama itu milik tangan yang dulu mengikatnya.*
Maya menatap tangannya. Ujung jari-jarinya masih berkelip antara daging dan uap, perlahan memadat, lalu menipis lagi, seakan tubuhnya sendiri tak yakin ia masih ingin menjadi tubuh. Ia menggosokkan kedua telapaknya, seolah gesekan bisa memanggil kembali kehangatan yang telah pergi, tetapi yang ia rasakan hanya dingin asing—dingin yang merembes dari dalam, bukan dari luar. "Tanganku tahu sendiri apa yang harus dilakukan tadi," bisiknya. "Nyanyian itu, cara meletakkan tangan di tanah. Tak ada yang mengajariku. Bagaimana mungkin aku ingat sesuatu yang tak pernah kupelajari?"
Penjaga diam sejenak, dan dalam diam itu pohon-pohon di sekeliling bergetar gelisah, seperti orang-orang yang menahan rahasia di ujung lidah. Bau lubuk berubah—bau tanah basah dan lumut yang dahulu menenangkan kini bercampur dengan sesuatu yang tajam dan logam, seperti darah yang mengering, seperti besi panas. Itulah bau Yang Tertidur, Maya tahu sekarang. Bau kelaparan yang mendekat.
Penjaga tidak menjawab pertanyaan itu. Mungkin ia tak sanggup. Mungkin ia tak berani. Sebagai gantinya, ia merentangkan satu akar yang tersisa—lemah, gemetar—dan menyentuh punggung tangan Maya, tempat kabut paling tebal berkumpul.
*Dengar baik-baik,* getarnya, dan suaranya kini begitu lirih hingga Maya harus menahan napas untuk menangkapnya. *Aku tak punya banyak waktu. Ketika cahaya merah itu mencapai lubuk ini, aku akan padam. Tubuhku sudah terlalu kering untuk menahannya lagi. Tetapi sebelum aku pergi, ingat ini: kalung itu adalah peta dan kunci sekaligus. Ia menyimpan ingatan setiap tangan yang pernah memegangnya. Jangan paksa ia membuka semuanya. Tanyalah pelan-pelan, seperti membangunkan orang sakit. Ia akan menunjukkan jalan—jalan menuju jantung yang tak lewat lubuk ini. Sebab lubuk ini... lubuk ini akan jatuh malam ini.*
"Tidak." Maya menggenggam akar rapuh itu, takut ia akan hancur dalam genggamannya. "Kau membawaku sampai sejauh ini. Kau tidak boleh—"
*Aku sudah mati sejak ribuan musim lalu, anak penjaga.* Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang menyerupai senyum dalam getaran itu. *Aku hanya menunda. Menunggu seseorang dengan darah yang cukup tua untuk menggantikanku. Dan ia datang. Setelah sekian lama, ia akhirnya datang.*
Cahaya merah membanjiri tepi lubuk. Sosok-sosok bengkok mulai berbentuk dari kabut kelabu di antara pohon, mulut-mulut menganga yang menggantikan wajah, tangan-tangan yang terlalu panjang. Napas panjang dan lapar itu terdengar lagi, kini begitu dekat hingga Maya merasakannya menarik udara dari paru-parunya sendiri.
"Maya," Kaba berdiri, mencabut sisa tombak bambunya yang patah, memegangnya seperti pisau pendek meski tahu ia tak berguna. "Kita harus pergi. Sekarang."
Penjaga mengumpulkan sisa kekuatan terakhirnya. Akar-akar yang masih hidup di sekeliling lubuk menggeliat, menyatu, membentuk dinding sulur tipis di antara mereka dan kabut yang mendekat. Tetapi dinding itu sudah mulai layu bahkan sebelum selesai tumbuh.
*Pergi ke tepi,* getarnya. *Ke tepi cahaya, tempat lumut masih hidup. Makhluk-makhluk kabut tak akan menyakitimu di sana—mereka ingat siapa dirimu. Pergi, dan jangan menumbuhkan apa pun kecuali kau harus. Tiap keajaiban memakan tubuhmu. Simpan dirimu untuk jantung.*
Maya ragu. Bagian dirinya yang masih gadis desa ingin tinggal, ingin menahan akar-akar yang sekarat itu, ingin menumbuhkan dinding yang lebih kuat seperti yang ia lakukan di malam ia menyelamatkan Kaba. Tetapi ia ingat ujung jari kakinya yang sudah luruh, ingat peringatan—tiap keajaiban memakan tubuhmu—dan ia menahan tangannya, membiarkan kehangatan di dalam dirinya tetap terkunci, meski itu seperti membiarkan seseorang yang sayang padanya tenggelam tanpa mengulurkan tangan. Itu pelajaran pertama yang paling pahit: kadang tidak menumbuhkan adalah perbuatan yang lebih sulit daripada menumbuhkan.
Maya berdiri, menarik Kaba bersamanya. Tetapi di ambang langkah pertama, ia berbalik. "Namamu," katanya. "Kau tak pernah memberitahuku namamu."
Mata hijau itu menatapnya, dan untuk sesaat yang panjang, ada keheningan di antara segala kebisingan. *Aku sudah lupa,* getar Penjaga akhirnya. *Itulah harga menjadi pohon. Pada akhirnya, kau melupakan siapa dirimu, dan hanya tersisa apa yang kau jaga.* Akar itu menyentuh kalung di dada Maya satu kali terakhir. *Jangan biarkan itu terjadi padamu. Itu pesanku. Tetap jadi Maya, selama yang kau bisa.*
Lalu cahaya merah menelan lubuk, dan dinding sulur runtuh menjadi debu.
Maya dan Kaba berlari. Tanah di bawah kaki mereka bergetar—bukan gempa, melainkan denyut, denyut besar yang naik dari kedalaman, irama yang sama dengan cahaya merah itu. Pohon Raksasa yang dahulu menjulang sebagai rumah Penjaga, batang purba yang lebih besar dari sepuluh rumah, mengerang. Maya mendengarnya dalam bisikan—bukan kata-kata kali ini, melainkan ratapan, ratapan pohon yang telah berdiri ribuan musim dan kini merasakan kelaparan menjalar ke akar-akarnya. Ia tidak berani menoleh untuk melihat apakah pohon itu tumbang. Ia hanya berlari, menggenggam tangan Kaba yang dingin, mengikuti lumut yang menyala satu demi satu seperti tangan-tangan tak terlihat yang menariknya ke arah keselamatan.
Di belakang mereka, mata hijau Penjaga berkedip satu kali lagi—lalu, di tengah dengung kabut yang lapar, padam menjadi gelap. Dan dari jantung hutan, cahaya merah berdenyut dengan irama baru, lebih kuat, lebih bangun, seakan sesuatu yang sangat tua baru saja membuka satu mata yang sangat lapar dan menemukan dunia masih ada di tempatnya.