Raido berpikir beberapa saat sebelum sepenuhnya mengenali wajah wanita yang tidak asing itu. Beliau adalah Celia dari Tim Raja Unus yang sedang menduduki tahta kerajaan periode ini. Entah bagaimana ekspresi wajahnya sekarang—pasti masih sangat datar—sejujurnya dia sedang benar-benar terkejut. Mengikuti Kaylis, Raido akhirnya juga berlutut di satu kaki, memberi hormat.
Dirinya baru saja menyerang seorang raja. Kalau Celia adalah raja yang angkuh, mereka bisa saja dipancung esok pagi juga. Namun sepertinya mereka aman. Celia kelihatannya lega setelah mengetahui bahwa mereka adalah bagian dari pihak Lukario. Setelah suasana hening sesaat, dia berkata, "Berdirilah, cukup."
Tatapan mata birunya sedingin es yang dia ciptakan. Raut wajahnya lurus dan tidak bisa ditebak. Raido segera saja menemukan persamaan di antara mereka berdua: nyaris tidak punya ekspresi wajah selain tatapan tidak berperasaan.
"Loh? Memangnya mereka siapa? Bukan pelakunya?" Salah satu dari dua anak buah yang dibawa Celia angkat bicara sambil mengerjap kebingungan. Mereka berdua memiliki warna rambut perak dan mata biru yang sama seperti Celia, hanya saja mereka terlihat seperti bocah kembar. Wajahnya sama persis, namun yang satu adalah perempuan dan satunya laki-laki.
"Turunkan s*****a kalian, Jina, Juro," pinta Celia. "Laki-laki ini adalah Lukario, Child of Throne dari kerajaan kita, dan dua orang ini prajurit kerajaan," jawabnya sembari melirik pada Lukario, Arius, dan Scato yang sudah kembali berdiri. Jina dan Juro langsung terperangah. "Kemudian...," lanjut Celia, berpindah menatap pada Kaylis dan Raido, lalu melanjutkan, "Aku tidak kenal dua orang ini, tapi sepertinya bisa kutebak."
"Saya yakin anda sendiri juga tahu. Ayo kita ke tempat yang lebih nyaman untuk berbincang sebentar. Melihat kedatangan anda, bahkan membawa dua anak itu jauh-jauh dari utara, Sepertinya kita sedang menghadapi masalah yang sama, kan?" kata Lukario, dia menunjuk pada Sungai Covendale.
Raido sedikit tertegun. Jadi... ternyata Lukario adalah seorang Child of Throne. Lalu, dia juga penasaran apa yang "bisa ditebak" oleh Celia. Dia melirik sedikit pada Kaylis, dan ternyata gadis itu tengah menatap dirinya juga dengan gelisah. Raido tahu gadis itu, bahkan semua orang ini, pasti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Mereka akhirnya berjalan beriringan kembali ke Kota Idaris, sesuai saran Lukario. "Jadi, Yang Mulia Celia, bolehkah saya tahu tujuan kedatangan anda tengah malam begini ke tengah hutan?" tanya Lukario di tengah perjalanan mereka.
"Gunakan saja cara bicaramu seperti biasa ketika kita di istana, Lukario, membuatku geli saja daritadi," potong Celia dengan dingin.
"Baiklah, maaf Celia. Aku sungguh penasaran. Kalau kutebak, kota kampung halamanmu pasti juga terganggu oleh pencemaran di Sungai Covendale ya?" tanya Lukario lagi, memperbaiki bahasanya.
"Benar. Aku sudah lama tidak pulang. Jina dan Juro mengirim surat padaku di istana, jadi aku pergi mengecek ke sana. Sebelum semakin parah, kupikir kami harus cepat-cepat mengatasinya," jawab Celia. "Ngomong-ngomong, aku juga butuh mendengarkan penjelasanmu habis ini. Kutebak pasti akan panjang ya."
"Begitulah," gumam Lukario.
Mereka tiba di depan penginapan. Ketika pintu depan dibuka, mereka disambut oleh restoran yang sudah gelap gulita. Rasanya tidak mungkin mereka berbincang di tengah kegelapan. Lukario saling berpandangan dengan Arius dan Scato. "Yah, sekarang jam dua tengah malam, mau berharap apa?" kata Arius, mengangkat bahunya.
"Kita bisa pakai rumahku," sela Raido. "Cuma di sebelah saja, dekat," tambahnya. Mereka terlihat terkejut mendengar tawaran dari Raido, seolah tidak mungkin bahwa Raido yang bicara seperti itu.
"Baik, ayo," jawab Lukario akhirnya.
Mereka berpindah ke bangunan di sebelah penginapan dan masuk beriringan setelah pintu dibukakan oleh Raido. Kaylis terperangah ketika masuk ke dalamnya. Mereka duduk di sebuah ruang duduk yang berisi sofa-sofa panjang yang empuk. Rumah itu besar dan banyak ornamen-ornamen antik, seperti rumah yang turun-temurun ditempati oleh sebuah keluarga besar, tapi Kaylis belum melihat penghuni lainnya selain Raido dan adiknya sejauh ini.
"Kami baru mulai mengecek kondisi Sungai Covendale sejak lima hari yang lalu, belum banyak informasi yang kami dapatkan, tapi aku bisa langsung tahu bahwa titik masalahnya ada di bagian sungai yang melewati Hutan Zelicia," kata Celia, memulai pembicaraan.
"Ketika para pekerja di kota kami mengambil air dari sungai untuk dibekukan dan dijual, banyak air yang terkontaminasi serbuk-serbuk hitam. Lama-kelamaan semakin banyak. Kami tidak bisa hidup seperti ini terus, soalnya wilayah kami adalah wilayah penghasil es," sambung Juro dengan murung. Dia berpegangan tangan dengan Jina, kembarannya, yang daritadi diam saja. Mereka berdua terlihat manis sekali.
"Serbuk hitam itu berasal dari ini." Raido mengeluarkan serpihan batu hitam dari kantong celananya. "Aku baru berhasil mendapatkan ini dari sungai itu kemarin. Menumpuk sangat tinggi dan banyak di dasar sungai."
Kaylis mengintip sedikit ke tangan Raido. Entah kenapa, batu-batu hitam itu tidak asing baginya, tapi dia juga meragukan ingatannya sendiri.
"Begitu ya? Malam ini sebenarnya kalian berniat menyergap pelakunya diam-diam?" tanya Celia.
"Ya, benar. Kami belum memikirkan solusi lain lagi," jawab Lukario. Melihat pada Lukario, sebenarnya daritadi Celia bertanya-tanya apa gerangan alasan lelaki itu terlibat dengan masalah ini. Sebagai Child of Throne di tengah kondisi kerajaan saat ini, dia seharusnya tidak buang-buang waktu lagi.
Kemudian dia teringat masa-masa berpuluh-puluh tahun yang lalu, ketika Gregorio Flux, Child of Throne pada masa itu, datang untuk merekrut dirinya. Seperti Gregorio saat itu, Lukario pasti juga tengah berjuang dengan berbagai cara saat ini, dan itu bukan urusannya. Oleh karena itu, dia mengurungkan niatnya untuk bertanya meski pertanyaannya sudah sampai di ujung lidah.
"Sejujurnya kami juga berpikiran seperti itu, makanya kami datang tengah malam begini, tapi kelihatannya dalang di balik semua itu membatalkan aksinya hari ini karena mengetahui kedatangan kami atau kalian. Orang bodoh juga akan melakukan hal yang sama," gumam Celia dengan tatapan tajam ke arah jendela. Hujan mulai turun di tengah kegelapan.
"Dan soal serpihan batu hitam itu, sebenarnya kami punya hipotesis," lanjut Celia, menatap pada batu di tangan Raido. "Aku sudah meminta ahli peneliti kimia di istana untuk memeriksa sampel air yang tercemar. Partikel kandungan di dalamnya sama dengan permata-permata yang sudah terdampak kutukan di pertambangan Desa Amethyst."
Kaylis mematung dan dadanya berdegup kencang. Ingatannya berputar pada hari terakhirnya di Desa Amethyst. Kereta-kereta pengangkut di pertambangan yang seharusnya membawa emas berkilauan, malah berisi penuh onggokan bongkahan hitam yang menjijikkan. Lukario juga terlihat kaget.
"Itulah sebabnya sebenarnya ketika matahari sudah terbit, aku bersama Jina dan Juro akan pergi ke Desa Amethyst untuk menyelidiki. Kalian mau ikut?"
"Akan kami pikirkan. Kurasa sekarang waktunya istirahat," jawab Lukario. Hujan di luar sudah semakin deras. Mereka mulai meringkuk kedinginan.
Kaylis memeluk lututnya dengan tangan menggigil dan murung. Dia kedinginan dan tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Celia barusan. Jika benar begitu, tidak menutup kemungkinan jika pelakunya adalah seseorang dari Desa Amethyst. Dia sama sekali tidak bisa menebak motifnya.
"Hei." Raido memanggil Kaylis pelan. "Ikut aku," katanya sembari berlalu pergi. Kaylis berdiri dari sofanya dan mengekor di belakang. Raido membawanya ke sudut lain dari ruangan yang luas itu, ke tepi perapian dengan sofa-sofa kecil. Dia memasukkan beberapa kayu dan menyalakan apinya.
Kaylis tersenyum senang. "Terima kasih, Raido."
Dari tempatnya berada, Kaylis samar-samar bisa mendengar pembicaraan Lukario dan Celia yang masih berlanjut.
"Bagaimana kondisi Daniel?" tanya Lukario. Kaylis melihat Celia memandang muram. "Tidak kunjung membaik. Dia sudah tua—begitu pula aku, Aleeya, Baron, dan Egorius. Penyakitnya menimbulkan komplikasi dan menyerang organ-organ penting di dalam tubuhnya. Waktu kami tidak akan lama lagi," jawab Celia. "Kami semua bergantung padamu, karena... begitu salah satu dari tim raja kami menghembuskan nafas terakhir, habislah sudah."
Kaylis merinding. Dia menutup telinganya rapat-rapat, tidak mau mendengar apa pun lagi. Kemudian, seseorang mengetuk-ngetuk bahunya, berkata "Permisi". Kaylis mengangkat pandangannya dan melihat sosok mirip Raido tengah membawa nampan berisi teh panas.
"Aku Fredo. Kata kakak, ada tamu, jadi kuhidangkan sesuatu—soalnya dia tidak mungkin akan melakukannya," katanya dengan senyum ramah. Dengan terkantuk-kantuk, dia menurunkan secangkir teh untuk Kaylis. Sepertinya dia terbangun karena mendengar suara-suara berisik. Kaylis memperhatikan tangan Fredo yang kuku-kukunya agak membiru. Kepalanya jadi nyut-nyutan lagi. Dia belum siap melihat pemandangan orang sakit-sakitan seperti di desanya dulu.
"Te-terima kasih," ucap Kaylis. Fredo berucap "Sama-sama" dan hendak mengantarkannya ke yang lain. Namun, ketika dia memandang sosok Celia, dia begitu kaget hingga tersandung. Nampannya goyah hingga gelas-gelas jatuh berkelontangan di lantai.
"Iya, benar. Beliau adalah Raja Celia. Maaf tidak mengingatkanmu, jadinya kau terkejut begini," kata Kaylis dengan maklum.
"Wah, aku yang minta maaf. Duh, berantakan begini," jawab Fredo panik, masih tidak habis pikir kenapa kakaknya bisa mambawa seorang raja ke rumah mereka.. Sifat ramah Fredo benar-benar kebalikan dari Raido. Dia mengayunkan satu tangan di udara, dan semua air teh yang membasahi lantai melayang-layang cepat memasuki gelas-gelas yang sudah diberdirikan. "Akan kubuatkan dulu yang baru. Sampai jumpa," katanya, lalu menghilang menaiki tangga. Kaylis terperangah kagum, berharap dirinya juga bisa membersihkan tumpahan teh dengan begitu mudah.
Tak lama kemudian, terdengar lagi suara kaki menapaki tangga kayu. Kali ini Raido muncul dari arah sana. Dia datang pada Kaylis dan menunjukkan sebongkah permata merah di genggaman tangannya. "Ingat ini, kan? Ini milikmu," kata Raido. Itu adalah permata hadiah dari Agrio untuk Kaylis. Waktu dikejar schiver di Hutan Zelicia dulu, Kaylis meminjamkan permata itu pada Raido.
Ketika Raido menyadari bahwa permata itu adalah Red Beryl yang langka dan sangat mahal, dia langsung tahu bahwa dirinya harus mengembalikan ini suatu saat nanti. Dia sedikit heran karena Kaylis dengan mudah menyerahkan permata itu pada orang asing seperti dirinya dengan mudah. Namun mengingat bahwa gadis itu berasal dari Desa Amethyst, mungkin saja tidak sulit untuk mendapatkan permata mahal ini dari sana.
Kaylis mengulurkan tangannya. "Terima ka—"
Ketika dia hendak mengambilnya, tangan Raido kembali terangkat, menarik kembali permata itu. "Kau sedang mempermainkanku sekarang?" tanya Kaylis dengan alis terangkat.
"Akan kukembalikan dengan satu syarat," jawab Raido. "Jelaskan semuanya padaku," sambungnya.
"Apa?" Kaylis balik bertanya.
"Kalian sebenarnya siapa? Apa yang kalian inginkan dariku? Raja Celia datang untuk menyelesaikan masalah di Sungai Covendale karena kebetulan kampung halamannya terkena dampak juga, itu artinya kalian bukan utusan dari istana yang dikirim untuk membantu Kota Idaris seperti katamu waktu itu. Kalian menipuku," kata Raido tajam.
Kaylis membeku di tempatnya. Sekarang semuanya sudah terbongkar, dan dia tinggal ceritakan semua yang terjadi. Raido memang berhak untuk tahu, tapi Kaylis bukan orang yang tepat untuk menceritakannya. Dia melirik pada Lukario yang masih berbincang dengan Celia. Dia merasa perlu meminta izin pada Lukario sebelum membuka mulut. Namun sebenarnya, bagaimana pun caranya juga nanti Raido pada akhirnya harus diberitahu.
"Begini—"
Bruk!
Baru saja Kaylis mulai bicara, terdengar debuman seseorang terjatuh di lantai atas, diikuti dengan suara gelas berkelontangan. "Fredo!"
Raido berteriak sesaat dan dengan panik berlari menuju tangga. Kaylis mengikuti Raido dengan gelisah. Mereka tiba di dapur yang luas. Fredo pingsan di lantai dengan gelas-gelas dan air panas berserakan di sekelilingnya.
***
To be continued.
Published: 6 Agustus 2020