Mereka menunggu tiga hari sampai keberanian Reza cukup dan jadwal pengasuh cukup longgar. Lalu, di siang bolong—karena Bayu bersikeras mereka melakukannya saat matahari paling tinggi, sejauh mungkin dari pukul tiga—ketiganya menaiki tangga ke lantai tiga, membawa denah lama, palu kecil, dan ketakutan yang mereka sembunyikan masing-masing.
Lantai tiga di siang hari sudah bukan mulut kegelapan, tapi tetap bukan tempat yang nyaman. Debu menutupi segalanya seperti selimut abu-abu yang tak pernah dicuci. Cahaya masuk lewat jendela yang tirainya disibak sejak pagi pembebasan itu, jatuh dalam kolom-kolom tebal yang penuh partikel mengambang. Mereka berjalan menuju kamar paling ujung, kamar Asti, dan di dalamnya dua cekungan debu di tepi ranjang masih ada—persis, tak tersentuh, seakan dua orang baru saja bangkit dari sana semenit yang lalu.
Bayu berdiri di depan cekungan itu sejenak, menunduk. Dalam hati ia berkata, maaf. Lalu ia berbalik ke dinding di belakang ranjang, dinding yang menurut denah lama menyembunyikan ruang ketujuh.
"Di sini," kata Dani, menempelkan denah ke dinding, mengukur dengan jengkal. "Kalau denah lama benar, dinding ini lebih maju sekitar dua meter dari aslinya. Di balik sini, harusnya ada ruang."
Reza mengetuk dinding dengan buku jari, menyusurinya. Bunyi yang sama, padat, di mana-mana—sampai ia mencapai bagian di belakang ranjang. Di sana, ketukannya berubah. Berongga. "Bay. Sini denger." Ia mengetuk lagi. Tuk, tuk, tuk—padat. Lalu, dua jengkal ke kiri: dung, dung, dung—kosong di baliknya.
Bayu menyentuh permukaan dinding itu. Catnya sama dengan sekitarnya, tapi di bawah lapisan debu, jika diperhatikan, ada garis halus—pertemuan dua bidang yang dicat menyatu, jejak samar tukang yang dulu menutup celah. Plesteran yang lebih baru dari dinding aslinya. "Mereka nembok di sini," katanya. "Dua puluh tiga tahun lalu."
Mereka tidak merobohkan tembok—itu terlalu jauh, terlalu berisik, terlalu cepat. Tapi Dani menemukan, di dekat lantai, sebuah bagian yang plesterannya telah retak dan rontok seiring waktu, meninggalkan celah selebar telapak tangan ke dalam kegelapan di baliknya. Bayu berlutut, menyalakan senter, dan mengarahkannya ke celah itu.
Sinar senter menembus debu yang tergantung di udara mati. Di balik tembok, ada ruang. Kecil, sempit, tak berjendela. Lantainya dipenuhi sesuatu—Bayu memicingkan mata—tumpukan, gundukan. Buku-buku. Kertas. Dan di sudut terjauh, di mana senter hampir tak sanggup menjangkau, sebuah kursi tua menghadap dinding, seakan seseorang anak pernah didudukkan di sana, menghadap ke tembok, menghadap ke ketiadaan, sendirian.
"Ada yang di dalam?" bisik Reza dari belakang, suaranya tinggi.
"Nggak ada—" Bayu menelan ludah. "Nggak ada orang. Tapi penuh barang. Kertas. Banyak banget kertas." Ia menggeser senter, dan cahayanya menangkap sesuatu yang lebih dekat ke celah: setumpuk amplop, diikat pita yang sudah lapuk, dan buku catatan bersampul kain dengan nama yang ditulis tangan di sampul. Debu menutupi setengahnya, tapi Bayu bisa membaca dua kata pertama, dan ketika ia membacanya, udara seakan tersedot keluar dari paru-parunya.
Di sampul buku catatan itu, dengan tulisan tangan seorang gadis remaja, tertulis: Asti Wulandari.
"Ruang ini," kata Bayu, suaranya nyaris hilang, "ini tempat dia. Yang sebenarnya. Bukan kamar di luar itu. Di sini. Di balik tembok ini, di ruang yang mereka hapus dari kertas." Ia teringat kata Asti pada Sena, yang diceritakan ulang oleh Bayu yang isinya kembali pada malam itu: aku belajar di sini sendirian setiap malam, sampai pukul tiga. Tapi tak ada yang tahu di mana "sini" itu sebenarnya. Bukan kamar ber-jendela yang terang ini. Melainkan ruang sempit tak berjendela di baliknya, tempat seorang gadis didudukkan menghadap tembok dan dilupakan sampai retak. "Di sinilah dia benar-benar menyerah."
Mereka bertiga menatap celah gelap itu, ke ruang yang tak ada di denah, yang menyimpan suara seorang gadis yang dibungkam selama dua dekade dalam tumpukan kertas berdebu. Dan untuk pertama kalinya, Bayu menyadari bahwa membebaskan Asti pada pagi itu hanyalah menutup satu halaman. Di balik tembok ini, dalam tulisan tangannya sendiri, gadis itu telah meninggalkan seluruh cerita yang tak pernah sempat ia ceritakan kepada siapa pun—kecuali, mungkin, kepada satu orang di malam terakhirnya.