Sembilan bulan setelah Livia keluar dari ruang audit Dirgantara, masa sewa apartemen yang diberikan dalam kontrak lama berakhir. Pemilik menawarkan perpanjangan, tetapi Livia dan Armand memilih pindah.
Mereka tidak pergi karena apartemen itu buruk. Di sana mereka belajar memasak bergantian, menyimpan dua jadwal terapi pada kulkas, dan bertengkar pertama kali tanpa ada petugas yang mencatat. Namun alamatnya masih muncul pada lampiran kontrak empat hari yang dulu memaksa keputusan.
Mereka mencari rumah sebagai dua penyewa biasa. Armand menyerahkan bukti penghasilan dari lembaga pendamping penyintas. Livia menunjukkan kontrak kerjanya di pusat bantuan risiko identitas. Ganti rugi tidak dijadikan jaminan pinjaman dan tidak ada saham Dirgantara dalam formulir.
Agen properti pertama mengenali nama mereka dan menawarkan potongan bila kisah pernikahan boleh dipakai untuk promosi. Mereka pergi sebelum melihat kamar kedua.
Rumah yang akhirnya dipilih berada di jalan kecil dekat halte, cukup jauh dari bandara sehingga suara pesawat hanya terdengar tipis. Dinding dapurnya kusam. Halaman belakang hanya muat meja serta dua pot. Pemilik tidak mengenali mereka sampai pemeriksaan dokumen selesai, lalu tetap menagih harga yang sama.
'Ini tidak punya ruang arsip,' kata Armand.
'Bagus. Arsip kita tinggal di lembaga yang bertanggung jawab.'
Mereka menandatangani sewa dua tahun. Livia membayar uang muka dari tabungannya, Armand membayar biaya pindah serta bagian sewa pertama. Daftar kontribusi dibuat untuk kejelasan pribadi, bukan sebagai syarat perkawinan. Jika salah satu kehilangan pekerjaan, mereka akan membahas ulang.
Siska membantu membungkus buku. Ratri membawa tanaman jeruk, lalu bertanya dahulu sebelum menaruhnya di halaman. Armand mengizinkan satu pot dan menyarankan pot kedua dibawa pulang. Ratri tertawa singkat, sedikit terkejut bahwa batas dapat disampaikan tanpa pertengkaran.
Brawijaya tidak datang. Ia sedang menjalani putusan serta program pengembalian aset. Ia mengirim surat tanpa dokumen waris, cek, atau permintaan pertemuan. Armand membacanya tiga hari kemudian dan menjawab satu halaman. Hubungan mereka tetap terbatas pada surat yang dapat dihentikan kapan saja.
Di kantor baru, Livia menangani permohonan seorang perempuan bernama Maya yang tanda tangannya dipakai mantan atasan untuk membuka utang pemasok. Maya ingin nama dibersihkan, tetapi tidak ingin perkara pidana karena masih bergantung pada pesangon.
Livia menjelaskan jalur perdata, koreksi bank, pelaporan tertutup, dan risiko setiap pilihan. Ia tidak berkata bahwa keberanian berarti membawa semua orang ke pengadilan. Maya memilih koreksi kredit lebih dahulu dan menunda tindakan lain tiga bulan.
Ketika atasan Livia meninjau berkas, ia menemukan Livia telah mencatat terlalu banyak dugaan pola dari pengalamannya sendiri. Livia menerima koreksi, menghapus dua asumsi, lalu meminta rekan kedua mewawancarai Maya. Keahlian tidak membuatnya kebal terhadap proyeksi.
Armand bekerja pada kelompok penyintas yang identitasnya salah dicatat setelah bencana. Ia membantu merancang formulir keberatan singkat dan aturan bahwa keluarga tidak otomatis menjadi wali. Pada kasus sulit, ia masih terbangun malam hari karena merasa namanya akan hilang lagi.
Ia memberi tahu Livia tanpa meminta istrinya berjaga. Terapis membantu membuat rencana: menyalakan lampu, memeriksa satu dokumen hidup, lalu berhenti. Livia boleh menemani bila terbangun, tetapi bukan satu-satunya alat pemulihan.
Hubungan mereka tidak menjadi sempurna setelah pengadilan. Livia pernah marah karena Armand setuju diwawancarai media tanpa memberi tahu. Armand pernah menganggap diam Livia sebagai penolakan, lalu memaksanya menjawab saat belum siap. Mereka meminta maaf atas tindakan yang tepat, bukan menyebut trauma sebagai pembebasan tanggung jawab.
Pada ulang tahun pernikahan pertama, sebuah majalah menawarkan pemotretan di rumah radio. Mereka menolak. Siska bertanya apakah mereka akan mengadakan akad ulang agar ada kenangan yang bebas dari kontrak.
Livia dan Armand membahasnya selama satu minggu. Mereka akhirnya memutuskan tidak perlu mengganti hari lama dengan upacara yang lebih indah. Persetujuan sekarang tidak membutuhkan bukti pertunjukan.
Mereka mengundang Siska, Ratri, Mira S., dan dua rekan lembaga untuk makan malam di rumah baru. Tidak ada panggung. Livia memasak terlalu banyak nasi, sedangkan Armand membakar ikan pertama. Di akhir makan, mereka membagikan kunci cadangan hanya kepada Siska untuk keadaan darurat, dengan amplop yang boleh dibuka bila keduanya tidak dapat dihubungi.
Kunci itu tidak membuka rekening, server, rute, atau hak atas tubuh siapa pun.
Mira membawa kabar bahwa koreksi dua puluh sembilan profil hampir selesai. Dua puluh tiga orang menerima nama semula, tiga memilih nama baru, dua meminta catatan lama disegel, dan satu perkara masih menunggu keputusan karena dua identitas legal bertabrakan. Tidak ada satu bentuk pemulihan dipaksakan kepada semuanya.
Rania tetap memakai nama pilihannya dan menolak publikasi. Rendra mengizinkan kisah akses AD-0 dipakai untuk pelatihan dengan wajah disamarkan. Sari menulis sendiri pernyataan tentang dana pengobatan, memastikan orang tahu penerima bantuan tidak bersalah atas sistem yang membayar mereka.
Ningsih memperoleh batu nisan dengan nama yang dipilih keluarganya. Biaya berasal dari dana pemulihan, bukan sumbangan yang mengharuskan foto. Livia mengetahui kabar itu melalui laporan triwulan dan tidak datang tanpa undangan.
Sengketa bidang kesepuluh Jalur Warga belum diputus. Kedua keluarga menerima pembayaran sementara untuk penggunaan akses, ditempatkan di rekening bersama. Penerbangan tetap berjalan. Ketidakselesaian itu tidak lagi dipakai untuk menekan mereka menerima harga murah.
Rapat audit model tiga lapis mengundang Livia dan Armand sebagai warga, tetapi tidak menyediakan kursi khusus. Mereka hadir sekali, mengajukan pertanyaan tentang masa simpan data penumpang, lalu pulang sebelum pemungutan suara karena tidak punya hak suara rute.
Di halte, Armand memperlihatkan pesan dari Dirgantara. Perusahaan menawarinya posisi penasihat kehormatan tanpa kuasa operasional. Ia menolak dan menyarankan jabatan itu dihapus karena tidak memiliki tanggung jawab terukur.
'Dulu aku ingin mereka mengembalikan semuanya,' katanya.
'Sekarang?'
'Aku ingin mereka berhenti membuat kursi yang hanya membutuhkan nama.'
Livia menggenggam tangannya setelah bertanya dengan tatapan. Bus datang terlambat delapan menit, sebuah keterlambatan biasa yang tidak mengaktifkan manifest, ahli waris, atau protokol rahasia.
Malam itu mereka memasang papan kecil di dekat pintu rumah. Hanya dua nama dan nomor rumah. Tidak ada logo keluarga atau perusahaan.
Mereka juga menulis daftar barang milik masing-masing, bukan karena sedang bersiap berpisah, melainkan agar kasih sayang tidak mengaburkan hak. Buku Mahesa tetap milik Livia. Jam, surat lama, dan pembayaran ganti rugi tetap milik Armand. Perabot yang dibeli bersama dicatat bersama. Keduanya menandatangani setelah membaca, lalu menyimpan salinan pada laci berbeda.
Tidak ada saksi perusahaan. Bila daftar berubah, mereka sendiri yang akan membahasnya.
Rumah tersebut bukan hadiah karena bertahan, bukan jaminan agar mereka tetap menikah, dan bukan bukti bahwa perkara telah membuat mereka lebih kuat. Ia hanya tempat yang mereka pilih, bayar, rawat, dan dapat tinggalkan bila suatu hari pilihan berubah.
Untuk sekarang, keduanya masuk dengan kunci masing-masing.