Putusan ganti rugi Armand dibacakan tanpa menghitung nilai manusia sebagai satu angka. Hakim membagi kerugian menjadi biaya pengobatan, hilangnya identitas sipil, penggunaan dokumen, kehilangan penghasilan, dan dampak psikologis.
Astera bertanggung jawab pada pembiayaan bayangan serta polis. Regulator pada perubahan catatan dan kegagalan pengawasan. Dirgantara pada manfaat serta kelambatan mengoreksi setelah mengetahui ketidaksesuaian. Suradipa, Darya, Haris, Yudhistira, dan pihak lain menghadapi kewajiban pribadi sesuai perkara terpisah.
Tidak ada satu pembayaran yang membebaskan semua pihak. Armand tidak diwajibkan menandatangani kerahasiaan tentang pengalaman sendiri. Data medis orang lain tetap tertutup.
Pengadilan menolak permintaan mengembalikan jabatan CEO sebagai kompensasi. Jabatan bukan benda pribadi dan perusahaan memiliki pekerja serta pemegang kepentingan lain. Armand boleh melamar melalui tata kelola baru setelah konflik selesai.
Lima rute juga tidak diberikan. Kepemilikannya sedang diperiksa bersama koperasi dan komunitas. Pemulihan identitas tidak mengubahnya menjadi pewaris izin.
Benda pribadi yang disita ketika ia dinyatakan mati dikembalikan setelah inventaris. Beberapa surat rusak, satu jam tangan hilang, dan rekening lama telah ditutup. Nilainya diganti, tetapi salinan surat tidak dapat diciptakan kembali.
Armand memilih sebagian ganti rugi membayar terapi serta tempat tinggal. Sebagian ditempatkan pada dana koreksi identitas independen. Ia tidak menyumbangkan semua; pengadilan menegaskan ia berhak memakai uang bagi hidupnya sendiri.
Dana koreksi tidak dinamai Armand atau Mahesa. Pengelolanya lembaga bantuan dengan wakil penyintas. Penerima tidak perlu menceritakan kasus di depan publik.
Astera mengajukan banding pada pembagian kerugian psikologis, bukan status hidup. Regulator menerima putusan dan mengumumkan audit kartu orang mati. Dirgantara menerima kewajiban institusional sambil mempertahankan pembelaan individu.
Brawijaya memberikan permintaan maaf dalam sidang. Ia mengakui tahu ada penyintas tanpa nama setelah seminggu dan tidak mencari. Armand mendengar tanpa mengatakan memaafkan.
'Saya menerima bahwa Anda mengatakannya,' jawabnya. 'Saya belum tahu apa yang akan saya lakukan dengan itu.'
Ratri meminta berbicara pribadi. Armand setuju dengan pendamping terapi. Ia tidak membahas rute atau saham. Ratri mengaku bertahan pada cerita kematian karena mencari kemungkinan lain terasa seperti mengkhianati Bram serta membuka perusahaan.
Armand menjawab bahwa ketakutan ibunya nyata, tetapi ia yang hidup dalam akibat. Percakapan berhenti tanpa pelukan. Mereka sepakat mencoba lagi bulan berikutnya.
Livia tidak hadir pada pertemuan ibu-anak. Ia menunggu di rumah dan tidak menuntut laporan lengkap. Menjadi pasangan bukan hak membaca seluruh terapi keluarga.
Ketika putusan keluar, media menyebut Armand menang. Ia mengoreksi bahwa beberapa perkara masih banding dan individu belum diputus. Identitasnya tidak menunggu banding; bagian itu final.
Suradipa menerima dakwaan pemalsuan medis. Darya pada penyalahgunaan akses serta tekanan operasi. Haris pada sertifikat, penahanan komunikasi, dan penghilangan bukti. Yudhistira pada klaim serta identitas HW-1. Masing-masing dapat membela diri.
Alina menghadapi perkara kematian Ningsih serta penahanan bukti. Kerja samanya memutus PULANG menjadi pertimbangan, bukan penghapusan. Miko menghadapi pemalsuan dan akses saksi. Niken, Bagas, Karman, Tania, Deni, Joni, serta pihak Cakra menjalani perkara sesuai tindakan.
Gilang dan Sabina mendapat berkas terpisah untuk keterlibatan DA-408. Mereka bukan sekadar saksi. Gilang mencuri profil serta diam; Sabina memilih tekanan dan menyembunyikan foto; keduanya kemudian membantu membuka bukti.
Surya didakwa merancang serta menjalankan krisis audit. Niken didakwa mengubah inventaris. Bukti tidak menunjukkan mereka bermaksud mencelakakan penerbangan; DA-408 adalah sabotase data serta reputasi, bukan kecelakaan fisik.
Livia mengajukan ganti rugi profesional sendiri. Ia meminta koreksi kredensial, biaya hukum, kehilangan kerja, dan penggunaan tanda tangan. Ia tidak meminta saham atau posisi tetap.
Dirgantara menawarkan kembali sebagai direktur audit setelah jeda. Livia belum menjawab. Ia ingin melihat komite permanen bekerja setidaknya tiga bulan.
Pada malam putusan, Armand mengeluarkan jam tangan baru yang dibelinya sendiri. Ia tidak mencoba mengganti benda lama secara simbolis.
'Saya ingin punya sesuatu yang waktunya mulai saat saya memilih,' katanya.
Livia membantunya mengatur tanggal. Mereka tidak memilih hari kecelakaan, pemulihan identitas, atau perkawinan. Mereka memilih hari biasa itu.
Besoknya, jam menunjukkan pukul yang sama dengan pertemuan pertama Livia dan Armand secara kebetulan. Historian tidak ada lagi untuk mengubah kebetulan menjadi takdir.
Di berkas putusan terdapat satu perintah penting: semua lembaga harus menerbitkan daftar kewenangan yang masih memakai profil orang mati. Tenggatnya tiga puluh hari.
Daftar awal menemukan empat puluh tiga profil pada regulator, Astera, Cakra, dan Dirgantara. Sebagian hanya arsip baca. Sembilan masih dapat menulis.
SA-0 salah satunya, tetapi delapan lainnya belum pernah diperiksa.
Salah satu profil tulis berada pada kantor pertanahan yang mengelola sebelas bidang Jalur Warga.
Profil itu memakai nama Daru Winata.
Dasar perhitungan putusan dibuka. Biaya pengobatan memakai kuitansi, kehilangan penghasilan memakai rentang profesi, bukan anggapan Armand pasti menjadi CEO, dan dampak psikologis dinilai ahli tanpa membuka terapi lengkap. Lima rute dikeluarkan dari nilai pribadinya.
Barang Helena serta Bram dipisahkan dari barang Armand. Ratri boleh mengajukan klaim keluarga. Paspor bayangan disimpan sebagai bukti, bukan diberikan untuk dipakai. Riwayat perjalanan palsu dikoreksi tanpa menghapus jejak perkara.
Dana koreksi identitas memberi Armand kursi pembentuk selama enam bulan, lalu ia wajib mundur. Ia tidak dapat memilih penerima atau membaca berkas tanpa izin. Livia tidak duduk sebagai pasangan pendiri. Bila bekerja pada lembaga bantuan, konfliknya akan dinilai.
Sidang profesional Livia dipisahkan dari perkara Armand. Perkawinan tidak menggabungkan kerugian. Bukti DA-408 dapat dipakai silang hanya melalui pengadilan. Kompensasi Fira, Salma, Dita, serta pemilik profil lain tidak bergantung pada hasil Livia.
Regulator mulai menonaktifkan sembilan profil tulis dengan pengamat. Setiap profil difoto statusnya sebelum dicabut. Arsip baca tetap diberi tanda pemilik meninggal. Kartu Daru pada pertanahan tidak dibuang karena penggunaan namanya perlu dibuktikan.
Tesa meminta nama ayahnya tidak disebut sebagai pelaku hanya karena profil masih aktif. Pengadilan menegaskan kewenangan digital dan manusia dipisahkan. Prinsip yang memulihkan Armand kini berlaku bagi orang lain.
Kartu Daru dinonaktifkan dalam sidang yang disaksikan Tesa melalui layar. Sistem membuat tanda terima bahwa tidak ada hak berpindah kepadanya. Riwayat sebelas transaksi tetap dapat dibaca.
Regulator lalu memeriksa delapan profil lain dengan prosedur sama. Tiga hanya memperbarui arsip, empat mengubah tanah, dan satu menyentuh manifest. Keluarga pemilik nama dihubungi sebelum publikasi.
Armand menyatakan putusannya tidak boleh menjadi alasan menunda koreksi orang lain sampai tujuh belas tahun. Dana baru menyediakan biaya pengacara, tetapi keputusan tetap milik keluarga.
Keluarga Daru memilih memakai bantuan hanya untuk audit profil, bukan tuntutan tanah. Keluarga profil lain memilih penasihat berbeda. Tidak ada satu putusan Armand yang menjadi formulir pemulihan universal.
Pilihan mereka tetap mandiri.