===== BAB 5: Akad Lima Belas Bulan =====
'Kalau kau menjadi istriku, kau mendapat kursi di meja yang selama ini mengubur nama ayahmu.'
Livia menerima kartu hitam itu, bukan sebagai hadiah, melainkan barang bukti. Minggu pagi tinggal kurang dari dua hari. Dalam waktu sesingkat itu, ia harus mengakhiri rencana hidup bersama Gilang, memindahkan ibunya, dan menikahi lelaki yang belum seminggu lalu hanya dikenalnya dari layar rapat.
Maya memastikan akta, klausul kontrak, dan identitas mereka sah. Kresna mengatur upacara sipil tertutup di rumah Ratri. Tidak ada gaun pengantin, undangan, atau janji romantis. Namun kabar bocor pada Sabtu siang. Wartawan mengepung toko Siska dan mempertanyakan apakah putrinya menjual diri untuk lolos dari perkara.
Siska mematikan televisi di kamar aman hotel. 'Kau sungguh akan menikah dengannya?'
'Selama lima belas bulan.'
'Pernikahan bukan sewa apartemen.'
'Bagi keluarga Dirgantara, ini dokumen pengendali perusahaan.'
Siska menatapnya dengan kesedihan lama. 'Keluarga itu mengambil ayahmu. Jangan biarkan mereka mengambilmu juga.'
Livia menunjukkan foto manifest dan menjelaskan hak audit yang akan ia peroleh. Ibunya menyentuh wajah Mahesa pada layar.
'Malam sebelum penerbangan, ayahmu bilang ada penumpang yang tidak boleh diketahui publik,' ujar Siska. 'Ibu mengira dia bercanda tentang pejabat. Setelah kecelakaan, dua orang mengambil tas terbangnya sebelum polisi datang.'
'Mengapa Ibu tidak pernah bilang?'
'Karena mereka tahu sekolahmu. Mereka menyebut namamu.'
Rahasia itu membuat kemarahan Livia pecah. Ia berjalan ke balkon, menangis tanpa suara, bukan karena Siska menyembunyikannya, melainkan karena ancaman tersebut berhasil membungkam keluarganya tujuh belas tahun.
Armand datang membawa pakaian Siska dari toko. Ia berhenti di ambang pintu, meminta izin sebelum masuk. Siska menanyainya langsung.
'Apakah keluargamu membunuh suamiku?'
'Saya belum tahu.'
'Apakah kau akan mengatakan yang sebenarnya jika jawabannya ya?'
'Saya menandatangani kewajiban untuk itu.'
'Kertas tidak punya rasa takut.'
'Saya punya.' Armand tidak mengalihkan pandangan. 'Justru itu alasan saya membutuhkan Livia di ruangan tersebut.'
Siska kemudian meminta berbicara empat mata dengan Armand. Livia tidak mendengar isi percakapan, hanya melihat ibunya memberikan foto keluarga lama. Ketika Armand keluar, matanya merah tetapi wajahnya tetap tenang. Ia mengatakan Siska memintanya mengembalikan Livia sebagai dirinya sendiri setelah lima belas bulan. Armand tidak menjanjikan kebahagiaan; ia hanya berjanji tidak akan menahan Livia dengan uang, ancaman, atau rasa bersalah.
Janji sederhana itu lebih berarti daripada bunga. Livia memasukkan satu salinan kontrak ke tas dan satu lagi ke brankas Maya. Ia juga merekam pernyataan bahwa keputusan menikah dibuat sadar, agar Sabina tidak dapat menuduhnya diculik atau dipaksa. Setiap langkah terasa dingin, tetapi dingin adalah satu-satunya cara menjaga kepalanya tetap jernih.
Siska memberi restu dengan syarat tidak ada kebohongan yang dibiarkan demi mempertahankan rumah tangga. Livia menjanjikan bahwa bila Armand terbukti menjebak Mahesa, cincin dan kontrak tidak akan menghalanginya bersaksi.
Malamnya, Livia menerima gaun sederhana warna gading dari Ratri, tetapi memilih setelan putih miliknya sendiri. Ia tidak ingin memakai simbol keluarga yang belum dipercayainya. Pada Minggu pukul sembilan, ia berdiri di ruang matahari rumah Menteng bersama Armand, Ratri, Siska, Maya, dan Kresna.
Petugas pencatat membacakan kewajiban hukum. Ketika diminta mengucapkan persetujuan, Livia melihat Armand. Tidak ada cinta di sana, hanya kesadaran bahwa keduanya sedang melangkah ke tempat berbahaya.
'Saya bersedia,' kata Livia.
Armand mengucapkan hal sama. Mereka menandatangani akta. Ratri menyerahkan cincin keluarga, tetapi Armand mengeluarkan cincin polos yang telah dipilih sesuai ukuran Livia.
'Tidak ada lambang perwalian,' katanya pelan.
Livia mengangguk dan mengizinkannya memasang cincin. Saat gilirannya, jari Armand terasa dingin. Kamera resmi mengambil satu foto, lalu pintu depan bergemuruh oleh wartawan yang mengetahui lokasi.
Kresna menyarankan mereka tampil bersama selama dua menit. Di teras, teriakan pertanyaan menyerang: apakah Livia hamil, apakah pernikahan ini suap, apakah Armand menutupi sabotase?
Armand menawarkan telapak tangannya tanpa menyentuh. Livia meletakkan tangannya di sana sebagai persetujuan. Ia menyatakan akan tetap bekerja sama dengan regulator dan perkawinan tidak mengubah pencarian fakta. Armand mendukung pernyataannya.
Sabina muncul di antara wartawan, mengenakan setelan merah. 'Sepupuku cepat sekali mengubah tersangka menjadi istri. Semoga penumpang DA-408 menghargai kisah cinta kalian.'
'Mereka lebih menghargai bukti yang tidak kau kirim ke media sebelum pesawat mendarat,' balas Livia.
Kerumunan meledak. Wajah Sabina menegang, tetapi Brawijaya menariknya pergi.
Setelah konferensi singkat, Armand membawa Livia ke penthouse perusahaan. Dua kamar berada di sisi berbeda, dan ruang kerja kecil telah diubah menjadi pusat audit untuknya. Semua sesuai kontrak. Ia bahkan menempelkan daftar staf keamanan pilihan Maya.
'Rapat perwalian besok pukul delapan,' kata Armand. 'Setelah hak suara aktif, kita ke Hangar Arsip Tujuh.'
'Tidak ada alasan menunggu.'
'Kuncinya membutuhkan autentikasi pasangan perwalian yang baru aktif tengah malam.'
Mereka makan malam dalam keheningan canggung. Tanpa jas, Armand tampak lebih muda dan lebih lelah. Livia bertanya mengapa ia belum menikah sebelumnya jika syarat perwalian begitu penting.
Di meja itu mereka menyepakati kebiasaan rumah: tidak memasuki kamar tanpa ketukan, tidak memakai informasi keluarga untuk konferensi pers tanpa pemberitahuan, dan sarapan tidak wajib. Hal-hal remeh tersebut membuat perkawinan mereka terasa anehnya nyata. Livia bahkan memilih rak dapur sendiri, lalu membenci dirinya karena memperhatikan Armand mengingat ia tidak minum kopi setelah malam.
'Karena aku menolak menjadikan seseorang alat keluarga,' jawabnya.
'Sampai saya.'
'Sampai seseorang mencoba menjadikanmu korban keluarga. Kepentingan kita bertemu.'
Livia tidak tahu apakah kejujuran itu menenangkan. Sebelum masuk kamar, Armand menegaskan pintunya dapat dikunci dari dalam dan staf tidak akan masuk tanpa izin.
Pada pukul sebelas lima puluh delapan, kartu hitam Livia menyala. Pada saat sama, sebuah pesan anonim masuk disertai foto Siska sedang tidur di kamar hotel, diambil dari dalam ruangan. Pengawal di koridor tidak melihat penyusup.
Pesan berikutnya muncul sebelum Livia sempat menelepon ibunya.
'Berhenti mencari penumpang tanpa nama, atau ibumu akan mengulang penerbangan terakhir Mahesa.'