Adrian Lesmana tidak langsung ditangkap. Inisial AL dapat dimiliki banyak orang, dan catatan Haris belum diketahui tanggalnya. Ketua panel menonaktifkan akses Adrian serta menunjuk sekretaris pengganti. Adrian diminta menyerahkan perangkat dan tetap boleh didampingi pengacara.
'Saya tidak pernah memegang daftar saksi,' katanya.
Ia mengakui bekerja sebagai analis junior pada penyelidikan lama DA-217. Tugasnya menggabungkan transkrip dan laporan komponen. Nama Mahesa sebagai kapten ceroboh masuk melalui draf yang ia susun.
'Berdasarkan data apa?' tanya Maya.
'Pita kokpit yang diberikan Darya dan hasil teknis yang menyatakan alarm muncul saat kecepatan tinggi.'
'Anda memeriksa sumber asli?'
'Tidak. Saya baru dua puluh enam tahun. Atasan mengatakan bukti sudah diverifikasi.'
Kelalaian lama tidak membuktikan ia menjalankan PULANG sekarang. Namun riwayat pegawainya menunjukkan Adrian menjadi penghubung Cakra Rekam saat sistem arsip dipindahkan enam tahun lalu. Ia menandatangani pengecualian yang membuat salinan kartu Ratih tidak kedaluwarsa.
Adrian mengatakan pengecualian diperlukan agar ribuan berkas lama tetap dapat dibaca. Ahli membenarkan alasan teknis itu masuk akal. Masalahnya, hak membaca ikut membawa hak membuat lampiran karena konfigurasi salah.
Dokumen pengadaan menunjukkan Cakra Rekam pernah memperingatkan risiko tersebut, tetapi Adrian menyetujui penundaan perbaikan karena anggaran. Ia tidak menerima uang pada transaksi itu. Keputusannya tetap lalai: akses tulis dibiarkan enam tahun meski solusi sudah dihitung. Panel memisahkan kelalaian pengadaan dari dugaan penggunaan sengaja sekarang.
Sidang dilanjutkan dengan sekretaris baru dan rekaman manual cadangan. Darya, Haris, serta Melati memberi tiga versi tentang malam DA-217.
Darya mengatakan ia hanya ingin memindahkan pesawat dari gerbang, tidak menyangka kemudi gagal. Haris mengatakan ia percaya komponen sudah diganti dan hanya menyediakan akses darurat. Melati mengatakan ia diminta membuka klaim untuk memindahkan uang serta dokumen, bukan merencanakan benturan.
Ketiga versi dapat sama-sama mengandung bagian benar tanpa menghapus tindakan mereka. Panel menyusun tabel tentang siapa mengetahui apa pada setiap menit.
Setiap saksi menerima tabel dan boleh menandai kesalahan tanpa menghapus versi lain. Darya mengoreksi lokasi kendaraan. Haris mengoreksi waktu ia menerima hasil uji. Melati menolak satu kolom tentang akses kartu. Semua koreksi disimpan dengan warna berbeda dan akan diuji terhadap log. Cara itu membuat perbedaan terlihat, bukan diringkas menjadi kalimat yang seolah disepakati.
Darya mengetahui peringatan awal, klaim Mahesa tentang uji gagal, serta penumpang 2A. Haris mengetahui rekaman uji, perintah karantina Bram, dan penerbitan ulang sertifikat. Melati mengetahui kategori klaim serta jalur dana, tetapi tidak berada di kendaraan operasi. Tidak ada satu pun memegang seluruh gambaran. Masing-masing tetap memiliki kesempatan menghentikan bagian yang dikuasainya.
Fira hadir sebagai ahli medis independen atas pilihannya sendiri. Ia menjelaskan bahwa empat menit keterlambatan pemadam mungkin memengaruhi dua korban, tetapi data luka tidak cukup untuk kepastian individual. Astera tidak boleh memakai ketidakpastian itu untuk menolak seluruh tanggung jawab kontraktor.
'Ketidakpastian medis bukan angka nol,' katanya. 'Ia juga bukan izin mengarang kepastian.'
Keluarga dua korban memilih laporan medis ditinjau. Keluarga lain tidak. Panel memisahkan lampiran agar keputusan pertama tidak membuka data kedua.
Salma menjelaskan jalur warisan sebagai ahli aktuaria. Versi asli hanya menghitung biaya layanan sementara. Halaman yang membuat rute berpindah permanen memakai rumus lain dan menghapus peringatan konflik kepentingan.
Atlas menghadirkan ahli yang menyatakan kedua rumus masih lazim. Salma tidak berdebat tentang kelaziman. Ia menunjukkan metadata bahwa halaman permanen dibuat dua tahun setelah tanda tangan Brawijaya.
Dita menyerahkan risalah keluarga yang membuktikan suara ayahnya dipakai menyetujui kerja sama tanpa memberitahunya tentang lampiran. Ia meminta penyidik tidak menganggap dirinya wakil ayah. Kesaksiannya terbatas pada dokumen yang ia lihat.
Livia duduk sebagai pihak yang tanda tangannya dipalsukan, bukan pemeriksa sidang. Pengacaranya memutar rekaman penolakannya terhadap pelepasan komponen. Tim regulator membandingkan dengan model suara palsu yang belum sempat dibuat. Pola napas serta jeda di model berasal dari presentasi DA-408, bukan percakapan saat ini.
Adrian diminta menjelaskan nomor perkara rahasia yang muncul dalam pesan PULANG. Nomor itu dibentuk oleh sistem sekretariat dan hanya terlihat oleh tujuh orang. Bayu tidak termasuk. Ratih dapat membaca sesudah sidang, tetapi pesan terkirim saat ia duduk di ruang utama.
Adrian termasuk satu dari tujuh. Ia juga memiliki akses dari rumah karena bertugas menyiapkan agenda.
Enam orang lain diperiksa dengan standar sama. Dua berada di ruang keluarga korban tanpa perangkat, satu sedang memimpin simulasi, dan tiga memakai kartu pada terminal berbeda. Alibi digital tidak dianggap mutlak karena kartu dapat dikloning. Namun pemeriksaan menyempitkan kapan serta melalui jalur mana nomor perkara dapat keluar.
'Apakah kartu Anda pernah dipinjam?' tanya ketua panel.
'Tidak.'
Log menunjukkan kartunya membuka ruang kontrol dua malam sebelum sidang. Adrian mengaku datang memeriksa mikrofon, tetapi kamera tidak memperlihatkan wajah karena lampu lorong mati.
Polisi menemukan pesan Astera pada telepon istrinya tentang klaim pendidikan anak, bukan pengobatan. Tidak ada ancaman atau penahanan dana. Adrian tidak mempunyai tekanan serupa Bayu yang segera terlihat.
Saat diminta membuka penyimpanan awan, Adrian memberikan kata sandi. Folder kerjanya memuat semua draf resmi. Tidak ada daftar saksi atau pesan PULANG. Pemeriksa kemudian menemukan ruang penyimpanan kedua yang dibuat memakai surel lama penyelidikan DA-217.
Adrian mengatakan tidak ingat kata sandinya. Riwayat masuk terakhir berasal dari alamat rumahnya pada malam identitas Armand dipulihkan.
Pengadilan mengizinkan pemulihan terbatas. Folder kedua berisi tiga versi laporan DA-217: versi lapangan yang menyebut peringatan awal, versi Darya yang memindahkan waktu alarm, dan versi final yang menuduh Mahesa lepas landas ceroboh.
Ada pula memo Adrian kepada atasannya tujuh belas tahun lalu. Ia mempertanyakan perbedaan waktu dan meminta pita asli. Memo itu diberi cap jangan dilanjutkan.
Adrian bukan sekadar penulis tuduhan. Ia pernah mencoba bertanya, lalu menyimpan bukti bahwa pertanyaannya dihentikan.
Ia mengatakan menyimpan folder karena takut suatu hari Mahesa benar. Livia tidak memberinya pengampunan atas dasar kalimat itu. Adrian tetap menandatangani laporan final dan tidak pernah menghubungi keluarga korban. Upaya bertanya adalah fakta yang meringankan sebagian gambaran, bukan penghapus tujuh belas tahun diam.
Siska membaca memo Adrian dan memilih tidak menemuinya. Ia mengizinkan memo masuk bukti, tetapi menolak dijadikan tempat Adrian meminta maaf sebelum kebenaran tindakannya selesai diperiksa. Maya menyampaikan pilihan itu tanpa menambahkan tekanan moral.
Pilihannya dicatat utuh.
Namun pada halaman terakhir folder terdapat daftar saksi yang diperbarui minggu ini. Nama serta alamat perlindungan telah dihapus, tetapi kolom status berisi satu instruksi aktif.
Saksi kedua belas harus hadir sebelum laporan final atau seluruh koreksi dinyatakan konflik kepentingan.