Gedung regulator diperiksa sebelum pintu sidang dibuka. Sinyal pesan kepada sopir berasal dari pemancar kecil yang dipasang di bawah meja ruang transkrip. Perangkat itu dapat dijalankan dari jarak jauh dan tidak menyimpan sidik jari yang utuh.
Daftar petugas transkrip memuat nama Mila Kusuma, pekerja kontrak yang masuk dua minggu lalu. Foto kartu aksesnya mirip Melati Rukmana, tetapi meja sudah kosong. Di loker tertinggal wig pendek, kacamata tanpa ukuran, dan salinan agenda sidang.
Polisi menutup pintu keluar tanpa menahan keluarga korban di dalam. Mereka diberi pilihan menunggu, pulang, atau mengikuti sidang melalui sambungan terpisah. Empat keluarga pulang. Tiga pindah ke ruangan daring. Siska tetap duduk bersama Maya.
'Kalau ditunda, orang itu mendapat yang dia inginkan,' katanya. 'Tapi keputusan bukan milik saya sendiri.'
Ketua sidang meminta persetujuan setiap kelompok dan menunda dua jam untuk pemeriksaan keamanan. Sidang dilanjutkan hanya pada bukti yang sudah dibagikan sebelumnya. Temuan perangkat baru tidak dipakai sampai semua pihak menerima salinan.
Ruang utama tidak disusun seperti pengadilan pidana. Panel teknis duduk sejajar dengan wakil keluarga, serikat, maskapai, dan ahli independen. Tujuannya menetapkan rangkaian kejadian serta perbaikan keselamatan. Pertanggungjawaban pidana berjalan pada jalur lain.
Darya menjadi saksi pertama. Ia mengakui membatalkan perintah tunda Mahesa, tetapi mengatakan tindakan itu diperlukan agar gerbang tidak tertutup dan pemeriksaan dapat dilakukan di area putar.
'Mengapa ancaman kepada keluarga kapten diperlukan?' tanya wakil keluarga Anwar.
'Saya sedang menegakkan prosedur penumpang tak tercatat.'
'Dengan menyebut nama anak kapten?'
Darya meminta pengacaranya menjawab. Ketua sidang mengingatkan bahwa ia boleh menolak bila berisiko memberatkan diri. Penolakannya dicatat, tidak ditafsirkan sebagai pengakuan teknis.
Ahli lalu memutar bagian interkom yang telah disetujui keluarga. Suara Darya menyebut pemeriksaan terhadap Siska dan Livia. Panel bertanya apakah tekanan itu memengaruhi keputusan Mahesa bergerak. Ahli manusia-faktor menjelaskan bahwa kapten tetap memiliki wewenang formal, tetapi informasi palsu, ancaman, dan perubahan jalur mempersempit pilihan nyata.
Haris memberi keterangan melalui layar. Ia mengaku meminta penerbitan ulang sertifikat Bram dan memberi kunci kepada Darya. Menurutnya, kunci hanya untuk keadaan darurat operasi.
'Anda juga hadir pada uji yang gagal,' kata ketua panel.
'Saya hadir sebagai pilot penghubung. Saya bukan insinyur.'
'Anda mendengar perintah karantina Bram?'
'Saya mendengar diskusi. Saya mengira penggantian selesai.'
Salinan daftar memperlihatkan paraf Haris pada halaman yang mengeluarkan DA-217 dari karantina. Pengacaranya menyatakan paraf hanya bukti penerimaan dokumen. Panel tidak memutus niat, tetapi mencatat Haris mempunyai pengetahuan lebih besar daripada yang ia nyatakan sesaat sebelumnya.
Brawijaya tidak dipanggil untuk membela keluarga. Ia menjelaskan kegagalan tata kelola: rapat tanpa notulen, sertifikat yang dapat dipakai jarak jauh, dan budaya menyelesaikan bahaya secara internal. Ia juga mengaku menyembunyikan kotak komunikasi.
'Apakah perusahaan akan tutup bila kotak dibuka saat itu?' tanya Livia dari meja audit.
'Mungkin.'
'Apakah itu alasan keselamatan?'
'Tidak.'
Jawaban singkat tersebut tidak membersihkan Brawijaya, tetapi untuk pertama kalinya ia berhenti menyebut keluarga sebagai alasan.
Panel memeriksa keputusan menara. Pengendali hanya menerima status siap bergerak. Teknisi hanya menerima instruksi pengaturan ulang, bukan salinan uji gagal. Awak kabin tidak tahu penumpang 2A sedang ditambahkan. Mahesa menjadi satu-satunya orang di pesawat yang memegang sebagian besar potongan, tetapi ia juga sedang ditekan untuk tidak mempercayainya.
Wakil awak kabin meminta panel tidak membuat Mahesa menjadi satu-satunya tokoh berani. Dua pramugari telah menahan pintu karena daftar penumpang belum cocok. Salah satunya mencatat kursi 2A pada kertas katering yang kemudian hilang dari laporan. Tindakan mereka tidak menghentikan rangkaian, tetapi membuktikan keberatan muncul di lebih dari satu tempat.
Armand mengingat seorang awak memintanya menyebut nama lengkap sebelum duduk. Ia tidak mampu mengingat wajah dengan pasti. Panel mencocokkan jadwal dan memperoleh dua kemungkinan. Keduanya dicatat tanpa memilih hanya untuk memberi cerita satu pahlawan baru.
Simulasi kedua memakai hujan, genangan, dan posisi penghalang yang direkam malam kejadian. Enam belas dari dua puluh percobaan dengan keterlambatan kemudi keluar dari permukaan. Empat berhenti sebelum penghalang. Tanpa keterlambatan, sembilan belas berhenti aman. Hasil tidak mengubah kemungkinan menjadi kepastian, tetapi menempatkan komponen sebagai faktor besar.
Salah satu keluarga bertanya siapa pembunuh sebelas orang. Ketua panel tidak memberi satu nama.
'Laporan keselamatan menjawab apa yang gagal dan mengapa pengaman tidak bekerja,' katanya. 'Pengadilan akan menentukan kesalahan tiap orang. Bila kami memilih satu penjahat untuk memudahkan cerita, sistem yang membantu kecelakaan ini akan tetap ada.'
Keluarga itu tidak puas, tetapi diberi ruang menyatakan keberatan dalam lampiran tanpa disunting.
Keluarga lain meminta kata korban mencakup orang yang hidup dengan akibat, termasuk pekerja yang dipaksa diam. Seorang kerabat menolak karena khawatir perhatian bergeser dari sebelas orang meninggal. Panel tidak memaksakan kesepakatan istilah. Laporan utama memakai definisi hukum, sedangkan lampiran mencatat kedua pandangan. Perbedaan dibiarkan terlihat, bukan dirapikan agar sidang tampak harmonis.
Livia menyadari proses seperti itu jauh lebih lambat daripada konferensi pers. Namun justru kelambatan memberi tempat bagi fakta yang dahulu dibuang: peringatan Roni, catatan awak, suara Mahesa, dan pilihan keluarga yang tidak sama.
Ketua panel memberi waktu tujuh hari untuk koreksi angka dan tiga puluh hari untuk keberatan metodologi. Tidak ada pihak boleh mengubah rekaman dasar. Semua revisi akan muncul sebagai lapisan baru, bukan penggantian diam-diam seperti laporan pertama.
Draf temuan menyebut lima faktor: komponen dengan riwayat dihapus, peringatan yang diubah, pembatalan tunda melalui akses tidak sah, informasi menara yang terputus, serta penghalang dan respons darurat yang memperbesar korban. Mahesa dinyatakan berupaya menghentikan keberangkatan dan kembali, bukan memulai lepas landas.
Siska tidak meminta nama Mahesa dicetak lebih besar. Ia meminta nama sebelas korban ditempatkan pada halaman pertama dan penumpang 2A disebut sebagai penyintas, bukan penumpang gelap.
Armand menyetujui setelah ditanya langsung. Pemulihan identitas tidak memberinya hak menentukan bagaimana korban lain dikenang.
Pada pemeriksaan respons darurat, petugas menemukan kendaraan pemadam tiba empat menit lebih lambat karena satu gerbang servis dikunci. Kunci gerbang dipegang kontraktor Astera yang ditugaskan melindungi barang bernilai klaim. Petugas itu lebih dulu mengarahkan tim penyelamatan bangkai menuju kompartemen dokumen.
Sebelas kematian tidak otomatis dikaitkan dengan keterlambatan tersebut. Catatan medis harus diperiksa satu per satu. Namun prioritas penyelamatan bukti perusahaan di atas jalur manusia menjadi temuan baru.
Maya meminta log klaim Astera dibuka sampai detik. Satu pengajuan nilai penuh DA-217 masuk pukul 22.33, ketika pesawat masih bergerak menuju area putar dan dua menit sebelum benturan tercatat panel.
Pengajuan itu memakai profil HW-1.
Seseorang memulai klaim sebelum api, sebelum pemberitahuan kecelakaan, dan sebelum siapa pun seharusnya tahu pesawat akan keluar dari permukaan.