Nama Herlina Wardana muncul pada tujuh belas akta, tetapi tanggalnya tidak berhenti ketika ia meninggal. Empat perubahan rekening, dua persetujuan klaim, dan satu pemindahan saham dibuat setelah akta kematiannya diterbitkan. Semua memakai identitas singkat HW-1.
Livia menolak menyebut Herlina hidup kembali atau memalsukan kematian. Akta rumah sakit, kremasi, dan pemeriksaan keluarga menunjukkan perempuan itu benar-benar meninggal tiga tahun setelah DA-217. Yang bertahan adalah kewenangannya.
Astera menyimpan sertifikat tanda tangan direksi dalam modul terpisah. Sesudah kematian Herlina, seharusnya sertifikat dicabut dalam dua puluh empat jam. Log pencabutan memang ada. Namun sidik digital memperlihatkan sistem hanya menonaktifkan nama lengkap, sedangkan profil singkat HW-1 dipindahkan ke kelompok keberlanjutan klaim.
'Orang mati dijadikan jabatan,' kata Naya.
'Lebih aman bagi pelakunya daripada mencuri nama orang hidup,' jawab Livia. 'Tidak ada pemilik yang menerima pemberitahuan.'
Empat perangkat pernah memakai profil itu. Perangkat pertama berada di meja Herlina dan berhenti pada hari kematiannya. Perangkat kedua adalah server otomatis Astera. Perangkat ketiga terdaftar pada unit kepatuhan Atlas. Perangkat keempat berpindah antara kantor regulator dan rumah Darya.
Tim membuat peta waktu untuk setiap penggunaan. Profil di meja Herlina hanya bekerja pada jam kantor. Server otomatis berjalan saat jatuh tempo polis. Perangkat Atlas aktif sesudah rapat pemasok. Perangkat yang berpindah muncul menjelang perubahan manifest, pemindahan bukti, atau penerbitan identitas bayangan. Pola keempat tidak membuktikan Darya selalu menjadi pengguna, sebab rumahnya dipakai rapat oleh beberapa orang. Namun alamat itu menolak alasan bahwa semua transaksi merupakan rutinitas komputer.
Maya meminta salinan peta diberikan kepada pembela setiap pihak tanpa nama korban K-2. Bila alamat dan waktu hanya dikuasai penyidik, orang yang dituduh tidak dapat menunjukkan kesalahan jaringan. Livia setuju meski pembukaan data dapat memperlambat perkara. Kecepatan bukan pengganti proses yang dapat diuji.
Armand melihat satu sesi HW-1 terjadi ketika dirinya dirawat di Singapura dengan identitas lain. Pembayarannya mencakup biaya dokter, penjaga, dan surat kematian di Indonesia. Ia memilih rincian medis tetap tertutup, tetapi mengizinkan jumlah serta tujuan institusi diperiksa. Menjadi bukti tidak membuat tubuhnya milik publik.
Server otomatis tidak langsung dibebaskan. Program tetap dibuat manusia dan dapat dipakai menyembunyikan keputusan. Tim memisahkan persetujuan yang lahir dari aturan lama dengan persetujuan yang membutuhkan sentuhan, kata sandi, atau kartu fisik.
Dua klaim setelah kematian Herlina diproses tanpa manusia. Lima transaksi lain memerlukan kartu. Nomor kartu mengarah kepada Yudhistira Pramana, direktur kepatuhan Astera yang dahulu menjadi sekretaris komite klaim. Ia masih bekerja dan datang bersama pengacara ketika dipanggil.
'Kartu itu kartu pemulihan bencana,' katanya. 'Dipakai bila sistem utama gagal.'
'Mengapa memakai identitas orang mati?' tanya penyidik.
'Karena profil itu memiliki izin lintas perusahaan. Saya tidak membuatnya.'
'Anda tahu nama di balik profil?'
Yudhistira diam cukup lama untuk dicatat. 'Saya tahu itu peninggalan Ibu Herlina.'
Ia mengaku menggunakan kartu tiga kali untuk menyelesaikan klaim yang tertahan, tetapi membantah memindahkan saham Dana Lintas. Pengacara menunjukkan jadwal perjalanan yang menempatkannya di Makassar saat satu akta ditandatangani.
Livia tidak menuduh jadwal palsu. Akses kartu dapat dipinjam atau digandakan. Rekaman hotel menguatkan Yudhistira memang berada di Makassar, sementara kartu dipakai dari kantor pusat Jakarta. Berarti setidaknya satu orang lain memiliki salinan.
Pemeriksaan fisik menemukan kartu asli Yudhistira memiliki goresan pada tepi chip akibat berkali-kali dimasukkan ke alat pembaca lama. Kamera ruang arsip Astera menunjukkan ia menyerahkan kartu kepada staf bernama Melati Rukmana dua kali. Melati mengelola pemulihan data setelah Herlina meninggal.
Melati tidak ditemukan di alamat pegawai. Rekening gajinya berhenti enam bulan lalu, tepat setelah K-2 dibekukan. Foto identitasnya cocok dengan perempuan yang pernah masuk pengadilan membawa map untuk Marlina, tetapi kecocokan wajah hanya delapan puluh satu persen.
Marlina melihat foto dalam pemeriksaan terpisah. Ia mengenal suara, bukan wajah.
'Dia membacakan nomor klaim kepada saya,' katanya. 'Kami memanggilnya Penjaga Premi.'
'Apakah dia yang menjalankan HW-1?'
'Kadang. HW-1 bukan orang. Siapa pun yang memegang kartu bisa menjadi Herlina selama satu sesi.'
Keterangan Marlina diuji dengan daftar telepon. Tiga panggilan dari nomor Melati menuju ruang kerja Darya terjadi pada malam perubahan akta. Dua panggilan lain menuju Haris. Tidak ada bukti isi percakapan, tetapi pola itu membuat pencarian Melati menjadi mendesak.
Sementara polisi melacaknya, tim keuangan mengikuti arus uang. Dana Lintas membeli komponen dari lima bengkel dengan harga barang bekas. Mandala Lintas menjualnya kepada Dirgantara sebagai barang baru. Astera lalu menerbitkan polis nilai penggantian penuh. Selisih harga dibagi melalui biaya konsultasi dan dana cadangan klaim.
Sebagian dana cadangan membayar operasi K-2: apartemen sementara, klinik tanpa nama, tiket perjalanan, dan pengacara identitas. Ada pengeluaran sah untuk melindungi korban yang belum dikenal. Ada pula pembayaran untuk membuat orang tetap tidak dikenal.
Pemisahan dilakukan transaksi demi transaksi. Biaya pengobatan darurat tidak ditarik kembali dari penerima yang tidak tahu asal uang. Pembayaran kepada penjaga yang menahan dokumen dibekukan. Klinik diminta memperbaiki rekam pasien tanpa menyebarkan nama lama. Dengan begitu, pembongkaran keuangan tidak menghukum orang yang dahulu menerima pertolongan hanya karena sistem perlindungan telah disalahgunakan.
Rania meminta transaksi yang menyangkut dirinya tidak dibuka ke publik. Tim memberinya ringkasan privat dan memisahkan nomor medis. Rendra memilih seluruh pembayaran atas namanya diumumkan. Pilihan berbeda itu tetap berlaku meski penyelidikan sedang mengejar sumber uang sama.
Armand menemukan satu transaksi yang mencantumkan biaya pemulangan penumpang 2A. Nilainya dibayar dua hari sebelum DA-217.
'Mereka sudah menyiapkan saya untuk dipindahkan sebelum kecelakaan,' katanya.
Livia memeriksa tanggal valuta. Perintah dibuat dua hari sebelumnya, tetapi uang baru dilepas setelah kecelakaan. Deskripsi dapat ditambahkan belakangan.
'Ini membuktikan rekening disiapkan,' katanya. 'Belum membuktikan mereka tahu pesawat akan jatuh.'
Armand menerima batas itu. Ia menyerahkan transaksi kepada ahli tanpa mengunggahnya kepada media.
Sore hari, pencarian kartu cadangan menghasilkan temuan lain. Dalam brankas pemulihan Astera terdapat dua belas amplop bernomor sesuai dua belas pesawat yang dikandangkan. Sebelas berisi salinan sertifikat komponen. Amplop DA-217 kosong.
Setiap sertifikat mencantumkan pemeriksa berbeda, tetapi cap persetujuannya sama: HW-1.
Amplop kedua belas, milik pesawat yang belum pernah memakai Mandala Lintas menurut inventaris, berisi foto Melati berdiri di depan rak Atlas. Di belakang foto tertulis satu kalimat dengan tinta baru.
Jika armada berhenti, buka jalur warisan.
Tulisan itu bukan milik Herlina. Forensik awal menyatakan tinta dibuat kurang dari tiga bulan lalu, ketika Herlina telah lama mati dan Armand belum dipulihkan sebagai orang hidup.
Seseorang yang masih aktif sedang memakai nama Herlina untuk mengarahkan krisis sekarang.