Maya memindai cek, amplop, dan formulir sebelum menyegelnya. Livia tidak menandatangani apa pun. Kresna mengirim pemberitahuan sengketa kepada Astera, pengadilan, regulator, dan perwalian sebelum tengah malam.
Balasan Astera datang dalam waktu tujuh menit. Perusahaan mengaku sistem mengirim dokumen secara otomatis setelah menerima koreksi kematian. Mereka menolak menyebut kustodian kedua tanpa perintah pengadilan.
'Otomatis selalu menjadi tempat orang menyembunyikan keputusan,' kata Livia.
Armand membaca ketentuan polis. Bila pasangan menolak santunan, pengendalian hak suara tidak langsung pindah. Ada masa keberatan dua puluh empat jam, meskipun formulir sengaja menampilkan tenggat lebih pendek.
'Mereka berharap kau panik,' katanya.
'Mereka salah memilih janda.'
Kata itu keluar dengan getir. Armand menatapnya, lalu tertawa pendek untuk pertama kali sejak dinyatakan mati. Ketegangan di ruangan retak cukup lama agar semua orang dapat bernapas.
Pagi berikutnya, mereka menerima izin memeriksa gudang Pusat Pemulangan Penumpang. Bangunannya berada di belakang rumah sakit lama, bukan di kompleks maskapai. Rak besi menyimpan kotak dari puluhan kecelakaan, disusun berdasarkan tanggal korban dipulangkan kepada keluarga.
Petugas arsip bernama Hana menjelaskan bahwa tim sementara DA-217 terdiri atas maskapai, rumah sakit, kepolisian, asuransi, dan pencatatan sipil. Masing-masing membawa daftar sendiri. Tugas pusat adalah menyatukan nama, tubuh, barang, dan klaim.
'Kalau satu nama tidak cocok?' tanya Livia.
'Diberi baris nol sampai identitasnya selesai.'
Baris nol bukan nomor korban. Ia tempat menahan kasus yang belum boleh masuk hitungan resmi.
Kotak DA-217 kehilangan tiga map. Buku peminjaman mencatat map diambil oleh Dokter Suradipa lima tahun lalu untuk digitalisasi. Tidak pernah dikembalikan. Hana mengaku baru bekerja dua tahun dan tidak tahu mengapa dokter keluarga memiliki akses.
Naya memeriksa daftar elektronik. Data waktu kecelakaan menunjukkan DA-217 berhenti pukul 22.41. Ambulans pertama tiba pukul 22.49. Pasien anonim diterima klinik pukul 23.18. Selama tiga puluh tujuh menit, Armand tidak muncul sebagai penumpang, korban, penyintas, atau pasien.
'Cari kendaraan pemulangan, bukan ambulans,' kata Livia. 'Kalau mereka sudah memutuskan menghapus namanya, mungkin mereka tidak memakai jalur medis resmi.'
Hana menemukan formulir bahan bakar. Sebuah mobil jenazah milik Astera keluar dari pagar pukul 22.56 dan tiba di klinik pukul 23.17. Kendaraan itu tercatat kosong.
Armand menyentuh bekas luka di pergelangan tangannya. 'Mereka mengangkutku sebagai jenazah.'
'Itu dugaan,' kata Livia, meski tenggorokannya mengeras. 'Kita cari pengemudi.'
Nama pengemudi adalah Yusuf Hamdani. Catatan menyebut ia meninggal delapan tahun lalu. Naya tidak berhenti pada data kependudukan. Ia menemukan pembayaran pensiun yang masih masuk setiap bulan dan penarikan tunai di cabang Ungaran.
Mereka menghubungi Rendra Kusuma, teknisi feri yang pernah dinyatakan mati. Rendra menjawab setelah Maya menjelaskan perkara. Ia mengaku dibantu seorang petugas bernama Yusuf untuk memulihkan identitasnya.
'Yusuf bilang kematian administratif kadang dibuat bukan untuk menyembunyikan tubuh, tetapi untuk memindahkan hak sebelum tubuh bisa bicara,' kata Rendra melalui telepon. 'Dia takut Astera mencarinya.'
Rendra memberi alamat bengkel kecil di lereng Ungaran. Livia meminta perlindungan polisi setempat, tetapi tidak mengirim tim Dirgantara. Mereka berangkat dengan mobil Maya, disertai dua penyelidik regulator.
Yusuf ditemukan sedang memperbaiki mesin pemotong rumput. Usianya tujuh puluh dua tahun. Ia tidak menyangkal nama, tetapi meminta bukti bahwa Armand benar orang yang dibawanya.
Armand memperlihatkan bekas bahu dan foto gelang tanpa menyerahkan benda asli. Yusuf duduk di bangku kayu, wajahnya berubah pucat.
'Saya kira anak itu mati di klinik,' katanya.
'Saya hidup,' jawab Armand.
'Itu yang saya lihat.'
Tujuh belas tahun lalu, Yusuf diperintahkan Brawijaya membawa seorang pemuda yang ditemukan di dekat pintu darurat DA-217. Tubuhnya bernapas, tetapi petugas berseragam maskapai melarang nama dicatat. Yusuf menolak menggunakan mobil jenazah sampai dokter Suradipa menandatangani perintah.
'Apakah Brawijaya menyuruh Anda menyatakan dia mati?' tanya Livia.
'Pak Brawijaya bilang bawa tanpa daftar. Yang memberi label jenazah adalah perempuan dari Astera.'
Yusuf tidak ingat namanya. Ia hanya ingat perempuan itu memakai pin burung perak dan menyebut pemuda tersebut sudah mati bagi perusahaan sebelum pesawat berangkat.
Kalimat itu mengubah urutan kejadian. Penghapusan mungkin direncanakan sebelum kecelakaan, bukan dilakukan karena kepanikan sesudahnya.
Yusuf juga melihat Mahesa masih sadar ketika Armand dikeluarkan. Kapten itu terjepit, tetapi berulang kali meminta penyelamat mengambil tas dari bawah kursi 2A. Seorang petugas lain mengambil tas lebih dahulu dan menyerahkannya kepada lelaki di luar pagar.
Menurut Yusuf, Mahesa tidak meminta dirinya ditolong lebih dulu. Ia menunjuk ke arah pemuda tanpa nama dan mengatakan penumpang itu membawa daftar yang harus tiba pada penyelidik. Yusuf mengira yang dimaksud daftar penumpang. Baru sekarang ia menyadari Mahesa mungkin berbicara tentang dokumen lain.
'Apakah Mahesa menyebut putrinya?' tanya Armand.
Yusuf menggeleng. 'Dia hanya berkata keluarganya jangan disentuh. Saya tidak tahu siapa keluarganya sampai berita menyalahkan dia.'
Livia menulis jawaban itu tanpa menangis di depan saksi. Setelah tujuh belas tahun, satu kalimat tidak cukup membersihkan nama ayahnya. Namun kalimat tersebut menunjukkan apa yang Mahesa pikirkan ketika kesempatan menyelamatkan dirinya hampir habis.
'Brawijaya?' tanya Armand.
'Bukan. Lelaki itu lebih kurus. Wajahnya tertutup darah atau cat merah.'
Yusuf menyimpan satu benda dari malam itu: sobekan label perawatan yang menempel pada selimut Armand. Ia mengambilnya karena nomor kendaraan pada label berbeda dari mobil yang digunakan. Label tersebut memuat kode DP-0 dan tanda tangan dua huruf, RS.
Dokter Suradipa bernama lengkap Rahmat Suradipa.
Sebelum penyelidik menyegel label, Yusuf meminta perlindungan bagi cucunya. Ia telah dinyatakan meninggal atas permintaan sendiri setelah dua orang mendatangi rumah dan menawarkan uang agar ia lupa. Pemalsuan kematiannya merupakan pelanggaran, tetapi penyelidik setuju memisahkan perkara itu dari keselamatannya sebagai saksi.
Dalam perjalanan pulang, Armand diam terlalu lama. Livia bertanya apakah ia mengenali pin burung perak. Armand mengatakan lambang tersebut pernah dipakai Astera untuk program perlindungan pewaris, tetapi ia tidak tahu siapa pengelolanya.
'Ayah pernah melarangku ikut program itu,' katanya. 'Aku kira karena biaya.'
Naya mengirim foto lama direksi Astera. Di baris depan ada lima orang memakai pin burung. Salah satunya Ratri Dirgantara, tercatat sebagai penasihat kehormatan program selama dua tahun setelah DA-217.
Livia memperlihatkan foto kepada Armand. Ia tidak meminta lelaki itu memilih antara bukti dan neneknya.
Armand memperbesar wajah Ratri, lalu menyimpan salinannya ke berkas penyelidikan. 'Periksa dia seperti yang lain.'
Malam itu, polisi menemukan mobil Ratri di halaman klinik Suradipa. Pintu terbuka, obatnya tertinggal, dan tidak ada tanda perlawanan. Di kursi belakang terdapat daftar waktu perjalanan tiga puluh tujuh menit yang baru saja mereka susun.
Seseorang telah mengikuti penyelidikan mereka, dan Ratri menghilang tepat ketika namanya masuk ke dalamnya.