Damar tidak tidur lagi malam itu. Setelah siaran, ia mengunci diri di kamar dan menghampar semua catatannya di lantai. Bekas ban motor. Puntung rokok yang ditata rapi. Seseorang memang sering datang ke menara air itu. Seseorang yang sabar, yang teliti, yang punya kebiasaan menata bahkan sampah rokoknya. Pola pikir yang sama dengan yang menutup mata korban dengan hati-hati.
Pagi-pagi sekali, Damar kembali ke perpustakaan kota, satu-satunya tempat yang menyimpan arsip koran lokal lengkap dari sepuluh tahun lalu. Ia menghabiskan berjam-jam membuka lembaran-lembaran berdebu tentang kebangkrutan PT Mukti Sandang. Dan di sanalah, di sebuah berita kecil di halaman dalam, ia menemukan nama yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
Seorang buruh perempuan, korban PHK massal, ditemukan tewas di rumahnya tak lama setelah pabrik tutup. Kasusnya saat itu disebut bunuh diri. Tapi keluarganya, dalam wawancara koran, bersikeras itu pembunuhan yang ditutupi. Nama buruh itu: Sari. Dan nama yang menarik perhatian Damar lebih jauh adalah nama yang disebut sebagai suami korban, yang saat itu menuntut keadilan sampai bertahun-tahun lamanya namun tak pernah digubris polisi: Wibawa.
Damar menyalin semuanya. Sebuah pola mulai terbentuk dalam benaknya, kabur tapi nyata. Pabrik mati. Buruh yang hancur. Keadilan yang tak pernah datang. Dan sekarang, sepuluh tahun kemudian, seseorang membunuh dan menelepon penyiar radio untuk mengaku, sambil berkata berulang kali tentang keadilan. Bukankah itu yang kalian sebut keadilan?
Tapi ada satu detail kecil di artikel itu yang membuat Damar berhenti, membaca ulang, lalu termenung tanpa tahu kenapa. Dalam laporan persidangan perdata yang diajukan keluarga Sari menuntut pertanggungjawaban perusahaan, disebut nama pengacara yang membela PT Mukti Sandang — yang membuat gugatan keluarga Sari kandas, gugur di meja hijau. Sebuah nama yang, entah bagaimana, terasa pernah ia dengar. Bukan terkenal, bukan tokoh besar. Hanya nama yang menggantung di sudut ingatannya seperti aroma yang ia kenal tapi tak bisa ia tempatkan. Damar mengernyit, mencoba menggali dari mana ia mengenal nama itu, lalu menyerah. Ia terlalu lelah. Mungkin nama yang umum. Ia menyalinnya saja ke catatan, dan melanjutkan.
Apakah Suara itu Wibawa? Suami yang istrinya mati dan tak pernah mendapat keadilan? Atau apakah ini terlalu mudah, terlalu rapi, persis seperti yang akan diumpankan Suara kepadanya?
Damar memutuskan mengambil risiko. Ia mencari alamat lama keluarga Wibawa dari arsip, sebuah gang di pinggiran kota. Sore itu ia ke sana. Rumah yang ia cari ternyata sudah lama kosong, jendelanya pecah, halamannya ditumbuhi ilalang. Tetangga sebelah, seorang nenek yang menyapu teras, memberitahunya bahwa Wibawa sudah pindah entah ke mana bertahun-tahun lalu, "setelah istrinya meninggal, orangnya jadi aneh. Sering ngomong sendiri. Bilang dia akan bikin semua yang bersalah membayar."
"Bu tahu Wibawa kerja di mana sekarang?" tanya Damar.
Nenek itu menggeleng. "Gak ada yang tahu. Tapi anaknya dulu sekolah di SMK dekat sini. Anaknya satu, laki-laki. Namanya… siapa ya. Yang jelas mirip bapaknya, pendiam, matanya dingin."
Anak. Suara itu terdengar tidak terlalu tua. Mungkin bukan Wibawa sang ayah, melainkan anaknya — yang tumbuh besar dengan dendam seorang ayah yang kehilangan segalanya. Damar mencatat semua ini, tangannya gemetar bukan karena dingin, tapi karena ia merasa makin dekat, dan makin dekat berarti makin berbahaya.
Tapi ada satu kemungkinan lain yang menggerogotinya sepanjang sore: korban kedua. Petunjuk pertama. Nama berawalan sama dengan kota kelahiran. Kalau Suara memilih korbannya dari orang-orang yang terkait pabrik — orang-orang yang ia anggap "bersalah" — maka mungkin korban kedua pun ada di daftar nama yang sudah ia salin dari koran lama. Damar membuka catatannya, menyusuri nama demi nama, mencocokkan tiap nama dengan kota kelahiran yang kadang disebut di artikel biografi singkat. Dan satu nama menonjol seperti lampu menyala dalam gelap.
Bayu. Bekas mandor pabrik yang dalam satu wawancara lama mengaku berasal dari Banyuwangi. B dan B. Nama berawalan sama dengan kota lahir. Cocok. Persis seperti yang dijanjikan petunjuk itu. Jantung Damar berdebar keras. Untuk pertama kalinya, petunjuk pertama itu bekerja — bukan hiasan, bukan teka-teki kosong, tapi saringan yang benar-benar menyaring. Bayu masih tinggal di kota; alamatnya bahkan tercantum di sebuah daftar reuni buruh yang ia temukan di forum lama. Damar yakin ia telah menemukan korban kedua sebelum Suara sempat menjangkaunya. Ia akan memperingatkan Bayu. Ia akan menyelamatkan satu nyawa, dan ia akan membuktikan pada Rangga bahwa teka-teki itu nyata.
Malam itu, di studio, Damar nyaris berharap Suara menelepon, supaya ia bisa memancingnya, memastikan dugaannya. Tapi telepon itu tak datang. Yang datang justru sesuatu yang lain.
Menjelang pukul tiga pagi, saat Pak Hasan tertidur di kursinya, sebuah pesan masuk ke ponsel pribadi Damar. Nomor tak dikenal. Damar membukanya, dan darahnya membeku.
Pesan itu hanya berisi sebuah foto. Foto dirinya sendiri, dari belakang, sedang menaiki tangga besi menara air di kompleks pabrik tua dua malam lalu. Diambil dari kejauhan, dalam gelap, oleh seseorang yang berdiri di bawah, mengamati. Di bawah foto itu ada satu baris teks:
"Kamu pintar, Damar. Aku senang aku tidak salah memilihmu. Tapi jangan terlalu cepat. Permainan ini baru mulai."
Damar berdiri dari kursinya begitu cepat sampai headphone-nya terjatuh. Ia menatap layar, lalu menatap ke jendela kaca studio, ke kegelapan kota di luar. Suara itu ada di sana malam itu. Mengawasinya menaiki menara. Mengikutinya. Selama ini, sementara Damar mengira ia yang sedang memburu, ternyata ia juga yang sedang diburu.
Tangannya bergerak cepat menyalin nomor itu, lalu mengetik pesan ke Iptu Rangga: "Pak, dia kirim foto saya. Dia mengikuti saya. Ini nomornya. Tolong lacak." Ia menekan kirim, lalu menelepon nomor Rangga, sekali, dua kali. Tidak diangkat. Pukul tiga pagi.
Damar menatap nomor asing itu di layar. Dengan jari yang nyaris tak bisa ia kendalikan, ia menekan tombol panggil ke nomor tersebut. Berdering sekali. Dua kali. Lalu tersambung. Tapi tidak ada suara. Hanya napas. Napas lambat dan teratur yang sudah ia kenal, yang kini terdengar begitu dekat, seolah orang itu berdiri tepat di balik dinding studio.
"Halo, Damar," kata Suara itu pelan, sebelum Damar sempat bicara. "Kenapa kamu masih di studio jam segini? Pulanglah. Hati-hati di jalan. Jalanan sepi tengah malam itu… berbahaya."
Saluran terputus. Dan Damar, untuk pertama kalinya, benar-benar takut bukan untuk orang asing yang akan jadi korban berikutnya — melainkan untuk dirinya sendiri.