Hari berikutnya Damar menghabiskan untuk membangun kebohongan itu sampai ia kokoh, karena ia tahu Suara tidak akan percaya pada satu bisikan saja. Orang ini teliti. Ia memeriksa, ia mengonfirmasi, ia tidak pernah bergerak sebelum yakin. Maka Damar harus membuat umpannya tahan diperiksa.
Ia menemui Rangga diam-diam, lewat pintu belakang Polsek lagi, dan menjelaskan rencananya. Rangga mendengarkan dengan rahang mengeras, dan ketika Damar selesai, ia diam lama.
"Kamu mau memancingnya ke tempat yang kamu pilih dengan umpan ayahmu," kata Rangga akhirnya. "Dengan membiarkan dia mendengar lewat alat sadap yang mungkin dia pasang. Membalik senjatanya sendiri." Ia menggeleng pelan, tapi bukan menolak. "Itu gila. Itu juga, mungkin, satu-satunya cara. Selama ini dia selalu memimpin karena dia yang punya informasi. Kalau kamu bisa membuatnya bertindak berdasarkan informasi palsu, untuk pertama kalinya dia yang buta, bukan kamu."
"Saya butuh Bapak menjual ini," kata Damar. "Kalau dia mengawasi saya, dia juga mungkin mengawasi gerak-gerik Bapak. Saya butuh stasiun kereta itu terlihat nyata. Saya butuh ada jejak. Tiket yang dibeli. Pesan yang setengah terlihat. Sesuatu yang bisa dia konfirmasi sendiri kalau dia mencoba memeriksa."
Maka mereka membangunnya bersama, lapis demi lapis. Damar membeli tiket kereta sungguhan ke kota pesisir itu, kota yang ia duga sebagai kelahiran Suara, dipilih bukan karena ayahnya ada di sana melainkan karena tempat itu akan menggetarkan sesuatu di dalam Suara, terlalu dekat dengan akarnya untuk diabaikan. Damar mengirim pesan ke Lana, yang ia tahu nomornya pernah disusupi, pesan yang seakan tidak sengaja membocorkan rencananya: "Lan, kalau aku gak ngabarin tiga hari, tolong cari aku. Aku nemu jejak ayahku — ke mana dia pergi, di mana dia berakhir. Ada hal yang harus aku selesaikan di sana sebelum mereka nahan aku." Ia menulis pesan itu dengan hati-hati, cukup jelas untuk dibaca penyusup, cukup samar untuk terlihat tulus.
Lalu ia menunggu. Dan sambil menunggu, ia menyiapkan jebakan yang sebenarnya. Bukan di kota pesisir itu. Tidak ada apa-apa di kota pesisir itu. Jebakan yang sebenarnya ada di sini, malam ini, di rumah singgah, karena Damar bertaruh pada satu hal: Suara tidak akan membiarkan Damar menyusuri jejak ayahnya tanpa lebih dulu mencoba mencegahnya, atau memperingatkannya, atau menelepon untuk mengorek seberapa jauh Damar sudah sampai. Apa pun yang sebenarnya Suara ketahui tentang ayah Damar, ia tidak akan tahan membiarkan Damar mengaduk-aduk luka tertua itu sendirian tanpa ia awasi. Ia harus campur tangan. Dan setiap kali Suara campur tangan, ia meninggalkan jejak, sekecil apa pun.
Malam itu, seperti yang Damar harapkan, ponselnya bergetar tengah malam.
"Kamu akan pergi," kata Suara, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ada sesuatu di nadanya yang bukan kendali penuh. Sesuatu yang tergesa. "Ke kota pesisir. Menyusuri jejak ayahmu."
Damar menahan napas. Berhasil. Suara mendengar. Perekam itu memang ada, di suatu tempat di kamar ini, atau di ponselnya, atau di Lana. Tidak penting di mana. Yang penting, Suara menelan umpannya.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Damar, dengan nada yang ia jaga tetap terkejut, bukan menang.
"Tidak penting bagaimana aku tahu," kata Suara cepat, terlalu cepat, dan dalam ketergesaan itu Damar mendengar kemenangan kecil pertamanya. "Dengarkan aku. Jangan pergi sendiri. Apa pun yang kamu kira akan kamu temukan di ujung jejak itu, kamu salah. Ayahmu bukan orang yang kamu kira, dan apa yang menunggumu di sana bukan yang kamu harapkan. Kalau kamu sampai ke sana, kamu harus memberitahuku dulu, sebelum kamu menyentuh apa pun. Berjanjilah, Damar. Berjanjilah kamu akan menghubungiku begitu kamu sampai."
Dan di sanalah Damar mendengarnya. Untuk pertama kalinya sejak telepon pertama berbulan-bulan lalu, Suara meminta sesuatu. Bukan memerintah. Bukan mengancam. Meminta. Suara yang selama ini selalu satu langkah di depan, yang selalu tahu segalanya, kini buta, bergerak berdasarkan peta yang Damar sendiri yang gambar. Dan orang buta yang bergerak tergesa, Damar tahu, akan menabrak sesuatu.
"Aku akan menghubungimu," kata Damar pelan, membiarkan sedikit gemetar palsu masuk ke suaranya. "Aku janji."
Saluran terputus. Damar menatap ponsel di tangannya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum bahagia. Senyum seorang pemburu yang baru saja melihat mangsanya melangkah ke arah yang salah.