Tawaran Suara tidak pergi. Ia menetap di kepala Damar seperti racun yang bekerja lambat, dan keesokan harinya, untuk pertama kalinya, Damar mendapati dirinya tidak menolaknya secara reflek. Ia memikirkannya. Itulah yang paling menakutkan.
Dalam berkas-berkas yang ia kumpulkan, ada satu nama yang menonjol. Seorang bekas pejabat perusahaan, orang yang menurut catatan persidangan secara terang-terangan menyuap saksi untuk mengubah kesaksian tentang malam kematian Sari. Orang yang, setelah pabrik tutup, justru naik pangkat, pindah ke perumahan elite, hidup nyaman sementara keluarga Sari hancur. Namanya ada di daftar Damar sejak lama. Tapi hari itu, Damar tidak menatap nama itu sebagai calon korban yang harus diselamatkan. Ia menatapnya sebagai orang yang pantas.
Ia menemukan alamatnya tidak sulit. Skorsing memberinya satu hal: waktu kosong yang menganga, dan ke dalam waktu kosong itu ia menuangkan obsesinya. Sore itu, tanpa benar-benar memutuskan, Damar mendapati dirinya naik bus ke perumahan elite di sisi timur kota, berdiri di seberang sebuah rumah berpagar tinggi dengan mobil mengkilap di garasinya. Ia menatap rumah itu lama. Di dalam sana, seseorang yang menukar nyawa Sari dengan uang sedang menjalani sore yang nyaman, mungkin sedang menonton televisi, mungkin sedang makan bersama keluarganya.
Damar tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Ia tidak membawa apa-apa. Tidak ada senjata, tidak ada rencana. Tapi ada sesuatu yang panas dan gelap berputar di dadanya, sesuatu yang ia tidak kenal, dan untuk pertama kalinya ia mengerti dari mana asal suara datar tanpa gemetar itu. Kemarahan yang cukup lama dipendam akhirnya berhenti terasa panas. Ia membeku jadi dingin. Jadi presisi. Jadi tenang.
Pintu pagar rumah itu terbuka. Seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk keluar, menyiram tanaman di teras dengan selang, perutnya yang buncit menggantung di atas celana pendek mahal. Damar mengenali wajahnya dari foto lama di berkas, lebih tua sekarang, lebih makmur. Lelaki yang menyuap saksi. Lelaki yang membantu mengubur kebenaran tentang malam kematian Sari. Lelaki yang tidur nyenyak setiap malam selama sepuluh tahun.
Kaki Damar bergerak. Ia menyeberang jalan, jantungnya berdebar, kepalanya kosong dari rencana tapi penuh dari sesuatu yang lebih tua dari pikiran. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan, atau lakukan. Ia hanya tahu ia ingin lelaki itu tahu. Ingin merampas kenyamanan itu dari wajahnya. Ingin melihat ketakutan yang Sari rasakan, yang Wibawa rasakan, yang anak mereka rasakan tumbuh sendirian.
Lelaki itu mendongak, melihat Damar mendekat, dan tersenyum ramah, tidak tahu apa-apa. "Cari siapa, Mas?"
Senyum itu. Senyum orang yang tidur nyenyak. Dan dalam senyum itu, Damar melihat ayahnya. Bukan lelaki gemuk di depannya, melainkan ayahnya sendiri, yang juga pasti pernah tersenyum ramah pada tetangga, pulang ke rumah, makan malam, tidur, setelah menandatangani kertas yang menghancurkan keluarga lain. Dan dalam sekejap yang membuat lututnya lemas, Damar melihat juga dirinya sendiri sepuluh tahun dari sekarang, kalau ia menyeberangi garis ini. Seorang lelaki dengan suara datar tanpa gemetar, yang membenarkan setiap perbuatannya dengan kata keadilan, yang menjadi persis seperti orang yang ia buru.
Damar berhenti. Tepat di tepi trotoar, satu langkah dari lelaki itu. Tangannya mengepal, lalu terbuka. Napasnya, yang tadi tertahan, lepas dalam embusan gemetar.
"Salah rumah, Pak," katanya, suaranya serak. "Maaf."
Ia berbalik dan berjalan menjauh, cepat, lalu lebih cepat, lalu hampir berlari, sampai sudut jalan, sampai ia bersandar di tembok sebuah toko yang tutup dan tubuhnya berguncang oleh sesuatu antara tangis dan mual. Ia hampir melakukannya. Bukan karena Suara memaksanya. Karena ia sendiri yang menginginkannya. Garis itu, yang ia kira terbentang jauh di kejauhan antara dirinya dan Suara, ternyata tepat di bawah kakinya selama ini. Dan ia baru saja, dengan satu langkah, menariknya kembali.