Malam itu siaran berjalan seperti biasa sampai pukul dua belas kurang sedikit, saat Damar memutar sebuah lagu lama untuk mengisi jeda menjelang jam jangkar. Lagu itu balada yang sudah ratusan kali ia putar, melodi yang ia hafal sampai ke setiap ketukannya. Ia menyandarkan punggung, menutup mata sejenak, menunggu garis merah yang ia tahu akan datang.
Lalu ia mendengarnya.
Di tengah lagu, di sela bait kedua dan ketiga, ada sesuatu yang seharusnya tidak ada. Bukan bagian dari rekaman. Sebuah suara, samar, hampir tertelan musik, tapi cukup jelas untuk membuat mata Damar terbuka dan bulu kuduknya berdiri. Napas. Lambat, teratur, terlalu tenang. Lalu sebuah bisikan, nyaris tak terdengar, terjalin ke dalam melodi seperti benang gelap dijahit ke kain terang.
"Aku di sini, Damar."
Damar melompat ke depan, mencabut headphone lalu memasangnya lagi, menaikkan volume monitor. Lagu itu mengalir terus, dan di balik suara penyanyi yang sudah lama mati, bisikan itu kembali, lebih jelas sekarang, seolah seseorang berdiri di studio yang sama dan menempelkan mulut ke mikrofon yang sama.
"Frekuensi ini milikku juga sekarang. Kita berbagi udara."
"Pak Hasan!" Damar berteriak ke ruang belakang, suaranya pecah. Pak Hasan tergopoh keluar. "Ada suara. Di siaran. Di tengah lagu. Bukan dari saya. Cek alurnya, cepat!"
Pak Hasan terburu-buru ke perangkat, jarinya menari di atas tombol dan layar. Lagu selesai, dan Damar segera membuka mikrofon untuk mengisi udara dengan kalimat-kalimat kosong yang ia paksa terdengar tenang, sementara di dalam dadanya jantungnya menabrak tulang rusuk. Apakah pendengar di luar sana juga mendengar bisikan itu? Atau hanya monitor studio? Ia tidak bisa tahu, dan ketidaktahuan itu meneror.
Setelah ia memutar lagu berikutnya dan menutup mikrofon, Pak Hasan menghampirinya dengan wajah pucat, menggeleng-geleng. "Mar, aku tidak bisa jelaskan. Aku cek semua. Alur audio kita bersih. Lagu itu file asli, tidak ada sisipan di filenya. Kalau suara itu masuk, dia masuk di suatu titik antara perangkat kita dan pemancar. Atau—" Pak Hasan menelan ludah. "Atau dia masuk ke jaringan kita. Streaming kita, atau sinyalnya sendiri. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah lihat yang begini."
Damar menatap papan kendali, lalu jendela kaca, lalu kegelapan di luar. Selama ini Suara menyerang dari luar: telepon, pesan, foto, perekam di kamar. Selalu ada batas, selalu ada dinding kaca studio yang memisahkan dunia Damar dari dunia Suara. Tapi malam ini batas itu runtuh. Suara tidak lagi menelepon dari luar untuk masuk ke frekuensi. Suara telah masuk ke dalam frekuensi itu sendiri, menyusup ke panggung udara yang selama tiga tahun adalah benteng Damar, ruang paling aman yang ia miliki.
Pukul dua belas lewat tujuh menit. Garis merah menyala.
Damar menatapnya lama sebelum membuka. Saat ia membuka saluran tertutup, suara datar itu sudah menunggu, dan kali ini ada sesuatu yang baru di nadanya — kepuasan yang dingin.
"Kamu mendengarku tadi," kata Suara. Bukan pertanyaan.
"Bagaimana kamu melakukannya?" Damar nyaris berbisik. "Bagaimana kamu masuk ke siaran saya?"
"Apa pun yang bisa kamu pancarkan, bisa aku susupi. Apa pun yang kamu kira milikmu, sebenarnya bisa kupinjam." Jeda. "Aku ingin kamu mengerti sesuatu, Damar. Studio itu, mikrofon itu, frekuensi itu — kamu mengira itu tempat aman. Kamu bersembunyi di baliknya selama tiga tahun. Tapi tidak ada tempat aman. Tidak untuk anak dari orang yang berutang nyawa. Aku bisa menjangkaumu di mana pun kamu bicara. Bahkan di tempat kamu paling merasa di rumah."
Damar mencengkeram tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih. "Apa yang kamu mau dari semua ini?"
"Aku ingin kamu tahu bahwa permainan kita tidak punya dinding," kata Suara, lembut, dan kelembutan itu membekukan udara. "Mulai sekarang, setiap kali kamu mengudara, ingat bahwa aku bisa ada di antara not-not lagumu, di sela kata-katamu, di hening yang kamu kira kosong. Frekuensi yang sama, Damar. Selalu frekuensi yang sama." Napas teratur itu melambat. "Besok malam, aku akan memberimu sesuatu yang lebih dari sekadar bisikan. Aku akan memberimu sebuah nama, dan sebuah jam. Dan kamu akan harus memilih: berlomba menyelamatkannya, atau mendengarkannya jadi berita. Tidurlah dulu. Kamu akan butuh setiap menit."
Saluran terputus. Dari ruang belakang, petugas penyadap keluar sambil menggeleng — sinyal kabur, sisi barat, hilang. Tapi Damar nyaris tak mendengarnya. Ia menatap mikrofon di hadapannya, benda yang selama tiga tahun adalah sahabat dan benteng dan suaranya sendiri, dan untuk pertama kalinya ia merasa benda itu menatap balik, tidak lagi sepenuhnya miliknya. Suara telah merampas hal terakhir yang Damar kira tak bisa direnggut: rasa aman di balik mikrofonnya. Dan di luar, kota tidur tanpa tahu bahwa di antara melodi yang menemani mereka tertidur, ada bisikan gelap yang baru saja menjadikan udara itu medan perang.