Jam dua belas lewat tujuh menit. Studio Radio Suara Kota terbenam dalam keremangan, hanya disinari lampu meja yang membentuk lingkaran kuning di atas mixer. Damar menggeser headphone-nya, menyandarkan punggung pada kursi yang sudah hafal lekuk tubuhnya. Di luar jendela kaca kedap suara, kota tertidur. Lampu-lampu jalan berbaris seperti deretan mata yang setengah terpejam.
"Anda mendengarkan Lentera Malam, satu-satunya yang menemani Anda sampai fajar. Saya Damar, dan kalau Anda belum bisa tidur juga malam ini, kita senasib," katanya ke mikrofon, suaranya rendah dan hangat. Itu suara yang sudah tiga tahun ia pinjamkan kepada para insomnia, para pekerja shift, para pengemudi truk lintas provinsi, dan orang-orang patah hati yang menelepon hanya untuk didengar.
Lagu lama mengalun mengisi jeda. Damar menyeruput kopi yang sudah dingin. Pak Hasan, satu-satunya teknisi yang menemaninya malam itu, sudah pamit ke ruang belakang untuk meluruskan punggung. Praktis hanya ada Damar dan suaranya sendiri di gedung tua dua lantai itu.
Telepon di papan kendali berkedip. Garis merah. Penelepon.
"Lentera Malam, selamat datang. Dengan siapa, di mana?" Damar membuka saluran dengan refleks yang sudah otomatis.
Hening. Bukan hening kosong, tapi hening yang penuh. Ada napas di ujung sana. Lambat, teratur, terlalu tenang.
"Halo?" Damar mengulang. "Saluran sudah terbuka, silakan bicara."
"Damar." Suara itu akhirnya muncul. Datar. Tidak tinggi, tidak rendah, seperti dibaca dari kertas. "Aku ingin mengaku sesuatu."
Damar tersenyum tipis. Penelepon larut malam memang sering begini, membawa beban yang tak bisa mereka katakan ke siapa pun saat matahari masih ada. "Tentu. Malam memang waktunya jujur. Apa yang ingin kamu lepaskan?"
"Aku membunuh seseorang."
Senyum Damar membeku. Kopi di tangannya terasa tiba-tiba berat. Di luar studio, sebuah lampu jalan berkedip sekali, lalu padam.
"Maaf?" Damar menurunkan suaranya, refleks menjauhkan mulut dari mikrofon, lalu sadar saluran sedang on air. Ia segera memotong, mengalihkan ke jeda lagu otomatis. Sekarang hanya mereka berdua di saluran tertutup. "Kamu bilang apa tadi?"
"Kamu dengar dengan jelas," kata Suara itu. Tidak ada gemetar. Tidak ada penyesalan dalam nada. Hanya keterangan, seolah melaporkan cuaca. "Perempuan. Malam tadi. Di gudang kosong dekat rel, sisi utara kota. Aku menutup matanya supaya dia tidak melihat. Itu satu-satunya kebaikan yang bisa kuberikan."
Bulu kuduk Damar berdiri. Ia menelan ludah. Tangannya, yang sudah ribuan kali menerima telepon, kini terasa asing. "Dengar, kalau ini lelucon, ini sama sekali tidak lucu. Aku akan memutus—"
"Jangan." Hanya satu kata, tapi dingin sekali. "Aku memilih kamu, Damar. Karena kamu satu-satunya yang mendengarkan tanpa menghakimi. Bukankah itu yang kamu bilang tiap malam? Bahwa kamu hanya mendengarkan?"
Damar terdiam. Kalimat itu memang miliknya. Slogan yang ia ucapkan di pembukaan setiap siaran selama tiga tahun. Tapi mendengarnya dipantulkan kembali oleh suara asing ini, di tengah malam yang sunyi, membuat kalimat itu terdengar seperti perangkap yang ia pasang untuk dirinya sendiri.
"Siapa kamu?" tanya Damar pelan.
"Tidak penting. Anggap aku Suara. Sama seperti kamu, kita berdua hanya suara di udara yang tak punya wajah." Ada jeda. Lalu, lebih lembut, hampir seperti bisikan, "Besok pagi kamu akan tahu aku tidak bohong. Dan kalau sudah tahu, aku ingin kamu mengingat satu hal: aku akan menelepon lagi."
Saluran terputus. Nada tut panjang menggantung di telinga Damar.
Ia melepas headphone dengan tangan yang sedikit gemetar dan menatap papan kendali yang berkedip-kedip. Jeda lagu masih berputar, mengisi udara kota dengan melodi yang tiba-tiba terdengar fals di telinganya. Pak Hasan muncul dari pintu belakang sambil menguap.
"Ada apa, Mar? Mukamu pucat."
Damar menoleh. Ia ingin tertawa, ingin bilang ini cuma orang iseng. Tapi tenggorokannya kering. "Pak, tadi… ada yang menelepon. Bilang dia baru saja membunuh orang."
Pak Hasan terkekeh, menggeleng. "Ah, pendengar kita memang aneh-aneh. Minggu lalu ada yang ngaku kemasukan jin. Sudah, lupakan. Lanjut siaran. Masih ada empat jam."
Damar mengangguk pelan. Mungkin Pak Hasan benar. Mungkin ini hanya orang kurang kerjaan yang mencari sensasi. Ia memasang headphone-nya kembali, menarik napas, dan membuka mikrofon.
"Kita kembali di Lentera Malam," katanya, berusaha keras agar suaranya terdengar biasa. Tapi matanya terus melirik telepon, menunggu garis merah itu menyala lagi. Di luar, lampu jalan yang tadi padam masih saja gelap. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Damar merasa studionya yang hangat itu tiba-tiba terasa sangat, sangat dingin.