Raka meminta waktu berbicara pada sore ketika Arsa sudah selesai makan. Aku menyetujui tempat di luar kamar dan meminta Bu Rini menemani anak sebentar. Ia datang setelah memastikan tidak ada pekerjaan lain yang berbenturan, lalu duduk bersama Arsa yang sedang menyusun mobil.
Di luar, Raka tampak lebih gugup daripada ketika membacakan pembelaan. Tangannya tidak memegang map. Aku berdiri sejenak, kemudian memilih kursi agar kami bisa berbicara tanpa terburu karena orang lewat.
'Aku ingin menikah lagi denganmu,' katanya. 'Aku melamar sebagai orang yang ingin membangun kehidupan bersama. Aku tahu aku pernah gagal melindungi tempatmu dalam perkawinan kita. Aku ingin menjalani yang baru dengan cara yang sudah kita pelajari, bukan meminta kamu melupakan yang lama.'
Aku mendengarkan sampai ia selesai. Selama berbulan-bulan aku telah melihatnya datang, salah, memberi kabar, mendengar, lalu memperbaiki. Ia telah menghadapi ibu tanpa menaruh namaku sebagai alasan bertengkar. Ia belajar menjadi ayah dengan mengikuti kebutuhan anak, bukan menganggap wajah yang mirip memberikan hak mengambil seluruh keputusan.
'Aku masih ingin bekerja,' kataku. 'Aku ingin punya uang yang dapat kuatur dan tetap belajar. Kalau kita menikah, urusan rumah dan Arsa kita bagi. Aku tidak kembali untuk membuat semua orang nyaman sementara aku sendiri kehabisan tempat bicara.'
'Aku setuju. Kita tuliskan yang perlu diatur dan bicarakan kalau keadaan berubah. Aku tidak ingin jawabanku hanya terdengar baik sore ini.'
'Dan ibumu?'
'Aku yang menjaga agar keputusan keluarga tidak diberikan atas namamu. Kamu tetap boleh berkata tidak kepadanya dan kepadaku.'
Aku menatap tangan sendiri. Ada rasa takut yang belum hilang seluruhnya, tetapi rasa itu kini tidak berdiri sendirian. Di sampingnya ada ingatan baru yang cukup lama untuk kutimbang: anak yang dirawat bersama, pekerjaan yang tidak dipaksa kutinggalkan, dan permintaan maaf yang tidak menagih rumah sebagai balasan.
'Aku menerima,' kataku.
Raka memejamkan mata sejenak. Ketika membukanya, ia tidak langsung berdiri memelukku. Ia bertanya apakah boleh mendekat, dan kali ini aku mengangguk. Pelukannya hangat. Aku tidak merasa pintu lama menutup di belakangku. Aku masih mempunyai kesempatan mengatakan apa yang kuinginkan setelah melepaskan tangan.
Kami belum menentukan pernikahan untuk besok atau minggu depan. Kami membicarakan waktu beberapa bulan lagi, biaya yang sanggup kami tanggung, serta tempat tinggal yang perlu dipilih bersama. Administrasi Arsa telah diurus dalam jalurnya. Anak tidak harus dijadikan alasan mempercepat keputusan orang dewasa.
Ketika kami kembali, Arsa sedang menunjuk roda mobil kepada Bu Rini. Ia mengangkat wajah, memanggil Mama, lalu meminta kami melihat jalur yang dibuat dari lipatan kain. Raka berjongkok di sisi lain. Aku duduk di lantai dan membiarkan kabar sore itu menunggu sampai anak selesai bercerita.
Bu Rini pulang setelah waktu yang disepakati. Aku mengucapkan terima kasih dan mengabarkan keputusanku ketika mengantarnya ke pintu. Ia tersenyum, memegang lenganku sebentar, lalu mengatakan ia senang aku bisa memilih tanpa diburu. Ia tidak menyuruhku segera mengemas barang.
Sebulan sesudah lamaran, kami masih tinggal terpisah. Aku bekerja setengah hari dan mulai mempelajari pencatatan sederhana dari pemilik warung ketika ada waktu. Arsa tetap mempunyai rutinitas penitipan, penjemputan, serta pertemuan bersama ayah. Raka tidak menganggap penerimaanku membatalkan semua pengaturan yang membuat hidup anak lebih tenang.
Kami memilih tempat tinggal sederhana setelah melihat beberapa pilihan bersama. Kali ini nama dan tanggung jawab dibaca sebelum kesepakatan dibuat. Aku menyebut bagian yang tidak kusukai, Raka mendengar, dan kami kembali mencari tanpa menjadikan keberatan sebagai tuduhan bahwa aku tidak sungguh ingin menikah.
Kami juga menulis pembagian hari biasa: siapa menyiapkan tas, siapa menjemput bila pekerjaanku selesai lebih lambat, dan bagaimana memberi kabar jika jadwal berubah. Pernah kami tidak sepakat tentang pilihan jam, lalu menunda keputusan sampai memperoleh informasi dari penitipan. Tidak ada orang menganggap pertanyaan itu merusak kebahagiaan menjelang menikah. Bagiku, justru di situlah kesempatan kedua mulai terasa nyata. Kami sedang menyiapkan kehidupan yang tetap berjalan setelah tamu pulang, ketika anak sakit atau piring kotor menumpuk dan cinta perlu terlihat dalam orang yang bangkit mengerjakannya.
Beberapa bulan setelah lamaran, pada hari pernikahan yang akhirnya kami pilih, tidak ada pesta besar untuk membuktikan keluarga telah sempurna. Ada proses yang kami persiapkan dengan cukup waktu, orang-orang yang diundang atas persetujuan, dan Arsa yang lebih tertarik pada makanan kecil daripada urusan orang dewasa. Ibu Raka datang, meminta izin sebelum membantu, lalu menerima ketika aku memilih cara lain.
Aku mengucapkan pilihanku dengan suara yang dapat kudengar sendiri. Tidak ada berkas perkara di atas meja untuk menagihnya. Damar menjalani pidana penjara atas perbuatannya. Rumah kontrakan dan laci itu tidak lagi menentukan nama yang boleh kupakai untuk diriku.
Beberapa minggu kemudian, sebuah pagi biasa menemukan kami bersiap bekerja. Arsa menolak baju yang kupilih dan meminta kaus lain. Aku menghela napas, menanyakan alasannya, lalu tertawa ketika ia hanya menunjukkan gambar yang lebih disukai. Raka menyiapkan tas penitipan sambil memeriksa apakah botol minum sudah masuk.
'Ayah, mobil,' kata Arsa, menunjuk mainan yang tertinggal.
Raka berhenti sebentar. Aku melihat matanya basah, tetapi ia tidak meminta anak mengulang demi mendengar lagi. Ia mengambil mobil, menyerahkannya, lalu memastikan mainan itu boleh dibawa sesuai kegiatan hari itu. Panggilan datang di tengah urusan yang biasa, dari kedekatan yang dibangun perlahan.
Kami keluar setelah memastikan pintu tertutup. Aku memegang kunci yang juga kupunyai, tas kerjaku sendiri, dan tangan Arsa sampai ia beralih untuk diangkat ayahnya. Upahku belum membuat kami kaya. Ketakutan lama kadang masih datang, dan kami belajar membicarakannya tanpa menjadikan diam sebagai kewajiban.
Mantan suamiku pernah berdiri sebagai pengacara ketika aku tidak mampu membuka pintu untuk diriku. Sekarang ia berjalan di sampingku sebagai suami karena aku memilihnya lagi. Pilihan itu tidak membuat suaraku lebih kecil. Pagi ini kami sama-sama mendengar Arsa meminta turun untuk berjalan, lalu menyesuaikan langkah agar ia bisa ikut.
TAMAT