Orang di depan warung berhenti bicara ketika aku datang bersama Bu Rini. Diamnya berlangsung sampai aku selesai memesan air. Lalu seseorang menyebut kontrakan dan barang di laci dengan suara yang sengaja dibuat cukup jelas.
Aku memegang uang di tangan, menghitung napas sebelum menoleh. Bagian diriku yang masih terbiasa menunggu petugas ingin segera pergi. Bagian lain ingin membacakan seluruh putusan di antara meja yang sedang dipakai makan.
'Saya dibebaskan dari dakwaan,' kataku. 'Kalau mau menanyakan, tanyakan dengan baik. Jangan jadikan cerita yang tidak lengkap sebagai vonis baru.'
Orang itu mengangkat bahu dan berpaling. Tidak ada permintaan maaf. Bu Rini berdiri di samping tanpa menambahkan semua kejadian di rumah. Ia hanya mengingatkan bahwa putusan sudah ada. Aku membayar minuman, lalu memilih duduk daripada membiarkan ucapan itu menentukan ke mana kakiku harus pergi.
Pemilik warung mendekat sesudah meja di belakang kosong. Aku menanyakan apakah masih membutuhkan orang untuk mencuci dan membantu menyiapkan hidangan. Ia memandang tanganku, kemudian menanyakan jam yang bisa kujalani.
'Saya perlu waktu untuk pengurusan anak,' jawabku. 'Saya ingin mulai dengan setengah hari. Saya tidak mau menjanjikan sampai malam lalu terus meninggalkan pekerjaan.'
Ia menjelaskan kebutuhan paling ramai, besarnya upah harian, dan tugas yang harus selesai. Aku menghitung dengan biaya kamar yang sudah kubayar. Penghasilan itu tidak membuat seluruh masalah hilang, tetapi bisa membantu makan dan kebutuhan pribadi jika biaya pengasuhan diatur bersama ayah Arsa.
'Soal kabar tadi, saya tidak akan pura-pura belum pernah ditahan,' kataku. 'Putusannya bisa saya perlihatkan. Saya tidak meminta Ibu membela saya kepada semua pelanggan.'
Pemilik mengatakan ia ingin orang datang tepat waktu dan bekerja sesuai kesepakatan. Aku meminta waktu memastikan rencana pengasuhan sebelum mengambil jadwal tetap. Kami sepakat mencoba satu hari, lalu membicarakan jadwal berikutnya dengan jujur. Tidak ada tawaran menjadi pemilik usaha atau pinjaman besar yang muncul untuk menyelesaikan hidupku sekaligus.
Aku mulai mencuci pada siang itu. Air sabun membuat kulit yang lama tidak bekerja seperti itu cepat terasa perih. Aku belajar letak piring, cara pemilik memisahkan pesanan, dan tempat menaruh gelas yang baru dicuci. Kesalahan kecil membuatku gugup, tetapi tidak ada orang mengubahnya menjadi penilaian tentang kepantasanku sebagai ibu.
Pada akhir giliran, upah dihitung di depan. Aku menerimanya dan menuliskan hari kerja pada catatan sendiri. Punggungku pegal. Untuk pertama kalinya rasa lelah mempunyai jumlah yang bisa kubawa pulang, bukan hanya akibat memikirkan berkas yang belum selesai.
Bu Rini menemuiku sesudah pekerjaannya. Kami membicarakan penjagaan Arsa. Ia bersedia membantu pada keadaan tertentu dengan jam yang disepakati, tetapi tidak sanggup menjadi pengasuh tetap setiap hari. Aku memintanya tidak merasa perlu berkata ya hanya karena pernah merawat anakku saat ditangkap.
'Saya tetap ingin ketemu dia,' katanya.
'Tentu, Bu. Saya cuma tidak mau semua orang menulis nama Ibu sebagai jawaban tanpa bertanya.'
Kami lalu melihat tempat penitipan anak yang berada pada jalur menuju warung. Aku tidak langsung mendaftarkan. Aku menanyakan penanggung jawab, pengaturan anak yang masih menyesuaikan diri, jam kegiatan, dan biaya. Aku meminta kesempatan melihat ruang serta berbicara dengan pengasuh melalui pertemuan yang diizinkan, bukan hanya mengandalkan papan nama di depan.
Penanggung jawab menjelaskan bahwa awal penitipan bisa dilakukan bertahap dengan kehadiranku lebih dahulu. Aku mencatat biaya dan dokumen yang perlu dibawa. Jadwal setengah hari cocok dengan pekerjaan yang sedang kucoba, tetapi aku masih harus membicarakan pembiayaan serta kesiapan Arsa dengan pihak pengasuhan sementara.
Aku juga meminta keterangan penyelenggaraan dan nama penanggung jawab yang dapat diperiksa. Catatan itu kusimpan untuk dibawa kepada petugas pengasuhan, bersama pertanyaan tentang kecocokan untuk usia Arsa. Ketika diperbolehkan melihat ruang dari area kunjungan, aku memperhatikan tempat istirahat dan cara pengasuh menanggapi anak yang menangis. Aku tidak memotret anak lain atau meminta data mereka. Yang kubutuhkan adalah penjelasan pekerjaan orang yang kelak menjaga anakku, cara memberi kabar, dan tindakan bila ia sakit. Aku meminta waktu mempertimbangkan, lalu mengucapkan terima kasih tanpa menandatangani pendaftaran hanya karena merasa sudah terlalu lama bertanya. Kepulangan Arsa memerlukan keputusan yang dapat kujelaskan, bukan sekadar tempat kosong yang menerima.
Di jalan pulang, aku menelepon petugas untuk menyampaikan pilihan yang telah kulihat. Kami mengatur pembahasan bersama Raka karena biaya pengasuhan adalah kebutuhan anak. Petugas meminta aku membawa catatan pertanyaan dan jadwal kerja, agar rencana tidak hanya berbunyi akan ada yang menjaga.
Raka menerima undangan itu tanpa menawarkan agar aku berhenti bekerja lalu tinggal di apartemennya. Ia menanyakan biaya yang harus disiapkan dan bersedia mendengar penjelasan langsung. Aku mengatakan keputusan belum selesai; ia tidak perlu membayar kepada tempat mana pun sebelum kami menyepakati pengaturannya.
Malamnya aku menghitung uang harian. Ada bagian untuk makan, ada yang kusimpan. Aku tidak menambahkan angka yang belum diperoleh agar terlihat mampu. Aku juga tidak mengurangi kebutuhan Arsa hanya untuk membuktikan bisa menanggung semuanya sendiri. Anak tidak perlu membayar harga atas ketakutanku kepada bantuan yang dahulu pernah bersyarat.
Keesokan pagi aku kembali ke warung sesuai janji. Orang yang kemarin berbisik tidak menyapaku. Aku tetap menyusun piring, menerima tugas, dan bertanya ketika belum memahami pesanan. Tidak ada perubahan besar pada mulut tetangga setelah aku bekerja sehari. Putusan tetap benar meskipun mereka belum bersedia mengubah cerita.
Saat istirahat, aku menuliskan pengaturan yang akan kubawa ke pertemuan: jam kerja, hari penyesuaian tanpa mengambil giliran, biaya penitipan, dan bantuan terbatas Bu Rini bila ada keadaan mendesak. Di bawahnya kutulis nomor yang dapat dihubungi untuk masing-masing urusan.
Sesudah pulang, aku membersihkan sudut kamar yang akan dipakai Arsa. Lantai sudah kering ketika aku meletakkan kain bersih. Aku belum tahu hari pertama bersamanya akan semudah apa. Namun jika ia meminta Mama saat aku harus bekerja, setidaknya jawabannya sedang kususun bersama orang yang benar-benar akan berada di dekatnya.