Aku melihat Damar lagi untuk pertama kali sejak penangkapan. Ia duduk menunggu giliran, mengenakan kemeja yang dilipat pada pergelangan. Aku mengenalnya sebagai orang yang beberapa kali datang mengurus rumah. Namun melihatnya sekarang tidak membuat ingatanku tentang pria pada hari Arsa demam tiba-tiba menjadi lengkap.
Aku menunduk pada kertas. Tidak ada kewajiban menemukan wajah dari pandangan beberapa detik. Raka telah meminta aku mengatakan ketidakpastian seperti yang selama ini kujelaskan. Aku mengulang pesan itu sambil menahan tangan agar tidak terus meremas kain.
Identitas Damar dicatat lengkap sebelum keterangannya diminta. Ia kemudian menerangkan hubungan dengan kontrak rumah dan penyewaan berikutnya. Bagian itu sesuai dokumen yang telah diperiksa. Suaranya tenang ketika mengatakan tidak tinggal di rumah pada malam penggeledahan.
Raka menunggu sampai penjelasan selesai, kemudian bertanya mengenai hari-hari sebelumnya. Damar mengatakan kadang melintas untuk urusan sewa atau pengelolaan. Ketika pesan kepada pengelola diperlihatkan, ia mengakui pernah menyampaikan rencana lewat daerah tersebut.
'Apakah Saudara masuk ke rumah yang ditempati Selira pada hari anaknya sakit?'
Damar menatap Raka, lalu menjawab bahwa ia tidak ingat melakukan kunjungan seperti itu. Aku merasakan kursi di bawahku seolah mengecil. Selama berminggu-minggu aku menunggu orang yang dapat mengisi ruang kosong. Sekarang orang tersebut mempunyai kemampuan yang sama untuk berkata tidak ingat.
'Tidak ingat, atau memastikan tidak masuk?' tanya Raka.
Hakim meminta pertanyaannya dijawab jelas. Damar memperbaiki jawabannya. Ia mengatakan tidak masuk ke dapur dan tidak menaruh apa pun. Kalimatnya lebih tegas daripada sebelumnya. Aku mendengar Raka meminta perbedaan jawaban itu dicatat, tanpa mengubahnya menjadi pengakuan.
Keterangan Bu Rini tentang pria di pintu dibahas kembali. Damar mengatakan banyak orang bisa lewat. Ia benar pada bagian itu: Bu Rini tidak pernah menyatakan mampu menunjuk dirinya dari setiap wajah. Aku hampir marah kepada ketepatan yang justru bisa dipakai orang ini untuk menjauh.
Kemudian pertanyaan beralih kepada komunikasi. Damar mengakui nomor yang pernah digunakan mengurus sewa, tetapi mengatakan perlu melihat pesan sebelum menjelaskan pemakaian pada tanggal tertentu. Raka menyerahkan hal itu kepada pemeriksaan yang sedang berlangsung, membatasi pertanyaan sidang pada hubungan nomor tersebut dengan urusan rumah.
'Saya tidak meminta Saudara menjawab dari dugaan,' katanya. 'Saya meminta hubungan yang Saudara akui dicatat.'
Damar mengangguk dengan wajah mengeras. Ia mulai memberi penjelasan panjang mengenai kesibukan dan banyaknya urusan yang membuatnya tidak mungkin mengingat semua kunjungan. Petugas mencatat. Tidak ada teriakan, tidak ada orang tiba-tiba memperlihatkan bukti rahasia dari balik pintu. Yang terjadi justru membuatku lebih lelah: setiap jawaban membuka pekerjaan berikutnya.
Untuk mendukung penjelasannya, ia mengatakan bersedia memberikan catatan komunikasi yang terkait urusan rumah. Ia ingin menunjukkan bahwa kesibukan menyewakan tempat tidak sama dengan mengurus barang terlarang. Permintaan itu diteruskan melalui petugas yang menangani pemeriksaan, dengan penjelasan mengenai pengambilan serta pencatatan bahan yang relevan. Raka tidak menerima ponselnya di meja lalu membukanya sendiri.
Aku melihat Damar berbicara dengan orang yang mendampinginya sebelum menyatakan persetujuan. Ia menanyakan bagian yang akan diperiksa, kemudian menandatangani keterangan penerimaan dokumen. Aku tidak tahu bahan apa yang akan ditemukan. Namun untuk pertama kali, penyangkalannya mulai terikat pada sesuatu yang dapat dibandingkan selain ingatan dan nada bicara. Aku menuliskan permintaan itu pada catatanku, lalu berhenti sebelum menambah bahwa ia pasti sedang menyembunyikan sesuatu. Keputusan menyerahkan bahan belum memberiku pengetahuan tentang isinya.
Aku diminta mengonfirmasi hubungan pembayaran sewa. Aku menyebut yang kuketahui, termasuk pesan dan beberapa kali kunjungannya yang menawarkan bantuan urusan rumah. Ketika ditanya apakah pria yang datang ke toilet adalah Damar yang duduk di ruangan, aku berhenti sebelum menjawab.
'Saya tidak bisa memastikan dari wajah sekarang. Saya tidak melihatnya cukup lama waktu itu.'
Untuk pertama kalinya Damar memandang langsung kepadaku. Aku tidak tahu apakah ia lega, marah, atau ingin memastikan aku tidak akan berubah pikiran. Aku menatap meja lagi. Perasaanku terhadap tatapannya tidak bisa menjadi keterangan baru.
Pemeriksaan hari itu berakhir dengan permintaan tindak lanjut dokumen dan komunikasi yang telah disebut. Damar diberi penjelasan mengenai kewajiban memenuhi pemeriksaan berikutnya. Aku kembali menunggu petugas mengantarku, merasa hari itu telah menghabiskan sesuatu dalam tubuhku meski tidak menghasilkan pengakuan.
Raka berbicara denganku sebentar sebelum kami berpisah. Aku menanyakan apakah jawaban tidak bisa memastikan membuat Damar lolos. Ia menggeleng.
'Kita tidak boleh menuntut wajahmu mengerjakan pekerjaan dokumen dan pemeriksaan lain. Kamu menjawab bagianmu.'
'Tapi dia bisa bilang tidak ingat untuk semua hal.'
'Karena itu jawabannya dibandingkan dengan sumber lain. Ada komunikasi yang dia akui dan ada penyangkalan tentang masuk rumah. Keduanya tetap ada untuk diuji.'
Aku memejamkan mata. Raka tidak memintaku tenang. Ia menunggu sampai aku kembali membuka catatan dan menunjuk pertanyaan mengenai laporan anonim.
'Yang itu belum dijawab.'
'Belum. Masih ditindaklanjuti.'
Di sel sore itu aku menyusun ulang kejadian sidang dalam pikiranku. Aku hampir menambahkan bahwa Damar menatapku seperti orang yang bersalah. Aku menghapus kalimat itu sebelum selesai. Dulu orang di lorong menatapku dan yakin wajahku cukup menjelaskan isi laci. Aku tidak mau memakai keyakinan serupa untuk orang lain.
Aku menulis jawaban yang benar-benar ia ucapkan. Kontrak diakui. Rencana lewat diakui. Masuk dapur disangkal. Kaitan pesan lain menunggu pemeriksaan. Di bawahnya kutulis bahwa aku sendiri tidak memastikan wajah.
Malamnya aku meminta pemeriksaan kesehatan karena kepala berdenyut dan sulit makan sesudah sidang. Petugas meneruskan permintaan. Aku tidak ingin menunggu sampai tumbang hanya karena merasa setiap menit harus dipakai memikirkan Damar. Bila pemeriksaan berlanjut besok atau pekan depan, aku tetap harus mempunyai tenaga untuk mendengar pertanyaannya.
Saat berbaring, aku teringat Arsa menggosok mata sebelum perpisahan. Aku belajar menerima bahwa anak bisa lelah tanpa membuat pertemuan gagal. Malam itu aku mencoba memberi ruang yang sama kepada tubuhku sendiri, menyimpan catatan, lalu menutup mata meski penyangkalan Damar masih terdengar jelas.