Pada sidang berikutnya, kata laci disebut berkali-kali sampai benda itu terasa seperti satu-satunya ruangan di rumahku. Aku menatap foto dapur dan berusaha mengingat bahwa di luar bingkai ada tempat Arsa tidur, ember, rak piring, dan kehidupan yang tidak sedang diterangkan oleh berkas.
Petugas yang menerima informasi awal diminta menjelaskan catatan laporan. Waktunya tercantum sebelum petugas mendatangi rumah. Pelapor menyebut tempat dengan rinci, termasuk posisi barang. Identitas pemakai nomor belum menjadi jawaban yang dapat disampaikan pada pemeriksaan hari itu.
Raka meminta catatan dibaca sesuai urutannya. Ia tidak mengatakan laporan itu pasti palsu. Barang memang ditemukan. Ia menanyakan apakah pengetahuan pelapor mengenai letak barang pernah ditelusuri sampai sumbernya.
'Yang kami tindak lanjuti saat itu adalah informasi dan barang yang ditemukan,' jawab petugas.
'Apakah saksi mengetahui dari mana pelapor memperoleh posisi laci?'
Jawabannya belum memberi nama atau penjelasan tentang cara pelapor mengetahui. Raka meminta keadaan itu dicatat. Aku mendengar suara penanya kembali menyentuh kertas. Untuk pertama kali, sesuatu yang selama ini tampak lengkap diperlihatkan mempunyai bagian yang belum terisi.
Pihak penuntut bertanya apakah ketidaktahuan tentang pelapor mengubah fakta bahwa barang berada di dapur yang kugunakan. Petugas menjawab tempat penemuan tetap sama. Aku merasakan harapan yang sempat naik turun lagi. Ruangan ini tidak bergerak satu arah hanya karena pertanyaan kami mendapat jawaban yang berguna.
Raka menanggapi pada gilirannya. Ia memisahkan tempat barang ditemukan dengan tuduhan bahwa aku mengetahui serta menguasainya. Ia meminta akses orang lain dan hubungan kontrak dinilai bersama, bukan dilepaskan satu per satu sampai masing-masing terlihat tidak berarti.
Bu Rini juga diminta menerangkan bagian yang diketahuinya. Ia tampak gugup ketika berdiri, tetapi menjawab bahwa hari pria terlihat di rumah berbeda dari malam polisi datang. Ketika ditanya apakah pria tersebut membawa barang, ia membatasi jawabannya pada sudut pandang dan waktu ketika ia melihat tangan orang itu.
Aku ingin menunduk agar ia tidak merasa harus melihat reaksiku. Ia sudah pernah khawatir keterangannya mengecewakanku. Hari ini aku berharap ia dapat menjawab tanpa menunggu aku mengangguk. Ketika ia mengakui tidak melihat laci, aku tetap memandang meja sendiri.
Sesudah pertanyaan selesai, ia duduk dengan tas dipeluk rapat. Kami hanya sempat saling melihat sebelum petugas memintaku tetap menghadap ke depan. Aku tidak bisa mengucapkan terima kasih. Namun suaranya yang sempat gemetar sudah menjadi keterangan yang dapat ditanya, jauh lebih berguna daripada cerita tentang tetangga yang pasti membela apa pun kataku.
Aku memperhatikan hakim memeriksa salinan kontrak. Nama Damar ditanyakan kembali. Keterangan mengenai komunikasi dengan pengelola rumah juga dibahas, lengkap dengan sumbernya. Aku tidak diminta mengingat pesan yang tidak pernah ditujukan kepadaku. Ada kelegaan kecil karena pemeriksaan tidak mengubah bahan baru menjadi ingatanku sendiri.
Petugas menerangkan tindak lanjut yang sedang berjalan. Damar akan dimintai keterangan mengenai hubungan penyewaan, rencana berada di sekitar rumah, dan hal lain yang relevan. Belum ada pengakuan hari itu. Raka tidak meminta hakim menganggap pemanggilan sebagai bukti bahwa orangnya bersalah.
Aku menatap deretan kursi kosong. Mungkin beberapa hari lagi Damar akan duduk di salah satunya, menjawab pertanyaan tentang rumah dan kunjungan. Aku mengenalnya dari urusan sewa, tetapi tetap tidak mempunyai kepastian tentang pria pada hari Arsa demam. Aku tidak ingin harapanku mengubah batas ingatan itu.
Saat pertanyaan beralih kepadaku, aku diminta menjelaskan kapan mengetahui bungkusan itu berada di laci. Aku menjawab saat petugas mengeluarkannya malam penggeledahan. Ada pertanyaan tentang peralatan yang kutaruh di dapur dan kebiasaan membuka laci. Aku tidak memberikan jadwal palsu agar jawabanku terlihat rapi.
'Saya menggunakan dapur. Saya tidak dapat menyebut jam terakhir membuka laci sebelum kejadian itu,' kataku.
Kalimat itu membuat tenggorokanku sakit. Aku merasa seperti sedang menyerahkan kelemahanku dengan tangan sendiri. Namun pada waktu yang sama, aku tahu tidak akan mampu mempertahankan tanggal yang kupilih hanya karena ruangan menunggu.
Hakim meminta aku menjawab sesuai yang diketahui. Raka tidak menyambung jawabanku dengan cerita tentang menjadi ibu. Ia menandai bagian catatan yang perlu diperiksa, kemudian kembali kepada keterangan tentang akses rumah.
Sesudah pemeriksaan hari itu berakhir, aku menunggu di ruang yang ditunjuk petugas. Raka menjelaskan apa yang sudah dibahas dan apa yang akan diajukan berikutnya. Aku bertanya apakah Damar pasti datang bila dipanggil. Ia mengatakan pemanggilan ditangani petugas dan ia akan menindaklanjuti melalui catatan, bukan menjanjikan kedatangan orang lain.
'Kalau dia bilang tidak pernah masuk, bagaimana?'
'Jawabannya harus dibandingkan dengan dokumen dan keterangan lain. Kita tidak perlu mendahului apa yang akan dia katakan.'
Aku mengangguk, meski bagian dari diriku masih menuntut kepastian. Raka menyerahkan ringkasan jadwal. Di bawahnya ada ruang untuk pertanyaanku. Aku menuliskan agar mereka memeriksa bagaimana pengetahuan tentang laci berpindah kepada pelapor. Kalimat itu tetap sama, tetapi sekarang telah ditanyakan di ruangan yang dapat meminta jawaban.
Dalam perjalanan kembali, aku memikirkan cara Arsa memeriksa wajahku pada kunjungan lalu. Ia tidak bertanya apakah Mama memenangkan sesuatu hari itu. Ia hanya mencari kehadiranku. Aku ingin pulang untuknya, tetapi tidak ingin mengisi pemeriksaan dengan cerita yang kelak tak bisa kujelaskan kepada diriku sendiri.
Di sel, aku membaca ringkasan dan meminta petugas membantu mencatat pertanyaan mengenai jadwal pertemuan berikutnya. Ia meneruskan permintaan melalui bagian pendampingan. Tidak ada kunjungan mendadak sore itu. Aku menunggu kabar sambil mencoba menghabiskan makan.
Malamnya aku terbangun karena suara hujan. Untuk sesaat tubuhku yakin petugas kembali berdiri di pintu kontrakan. Aku meraba ranjang sampai menyentuh selimut, lalu menyebut tempatku berada sekarang dengan suara pelan. Ketakutan itu belum hilang hanya karena berkas mulai memberi ruang kepada keraguanku.
Aku mengambil pensil dan menulis bahwa pada sidang hari ini sumber pengetahuan pelapor belum dapat diterangkan. Sesudah itu kutaruh kembali kertas. Besok aku perlu membaca keadaan yang benar-benar terjadi, bukan ingatan tentang harapan yang membesar setiap kali hujan membuatku sulit tidur.