PoV Raka
Livia memilih meja dekat jendela kedai. Ia datang sendiri, meletakkan tas di kursi samping, lalu menatap map yang kubawa. Kami sepakat bertemu di tempat umum setelah aku mengatakan ingin menanyakan beberapa hal terkait pemeriksaan perkara, bukan membicarakan hubungan kami.
'Ibumu sudah bicara?' tanyanya.
'Sudah. Tapi aku tidak datang untuk meneruskan kemauannya.'
'Aku juga tidak ingin setiap kali namaku disebut, jawabannya selalu tentang kalian berdua.'
Kalimat itu membuatku menahan jawaban yang sudah kusiapkan. Selama ini aku sibuk mengakui Selira ditekan oleh ibu. Ada bagian lain yang tetap kupakai demi kenyamanan: membiarkan Livia hadir sebagai orang yang menunggu tanpa pernah mengucapkan dengan jelas apa yang tidak akan kuberikan.
'Aku perlu mengatakan ini dulu. Aku tidak menawarkan hubungan. Aku tidak boleh membiarkan Ibu menjanjikan sesuatu atas namaku.'
Livia menatap ke jalan, kemudian mengangguk. 'Baik. Sekarang tanyakan yang mau kamu tanyakan.'
Aku menyebut Damar dan hubungan namanya dengan kontrak. Aku tidak memperlihatkan seluruh berkas atau informasi pengasuhan Arsa. Pertanyaanku terbatas pada apakah ia mengenal pria tersebut, pernah mengurus rumah yang ditempati Selira, atau mengetahui kunjungan sebelum penggeledahan.
Ia mengulangi nama itu. Setelah berpikir, ia mengatakan tidak mempunyai urusan sewa dengannya dan tidak pernah mengatur orang datang ke rumah Selira. Aku meminta ia membedakan tidak mengenal pribadi dengan tidak pernah mendengar nama. Ia menjawab bahwa nama itu tidak menjadi bagian hubungan yang bisa ia jelaskan dalam perkara ini.
'Kalau ada keterangan resmi yang perlu diberikan, aku mau menjawab lewat pemeriksaan,' katanya. 'Tapi aku tidak mau kamu menulis aku bersumpah pada dirimu lalu itu dipakai mengganti apa pun yang seharusnya dicek.'
'Aku akan mencatat ini sebagai percakapan awal. Bukan kesimpulan bahwa semua kemungkinan selesai.'
Aku menanyakan apakah ia membutuhkan nama petugas yang menerima keterangannya, lalu memberikan kontak kantor setelah memastikan ia bersedia dihubungi kembali.
Pelayan datang membawa minuman. Kami menunggu sampai ia pergi. Livia memutar gelas, tidak meminumnya. Ia bertanya apakah aku menemuinya karena curiga perempuan yang pernah dipilih ibu pasti ingin menyingkirkan Selira.
'Aku perlu memeriksa hubungan yang mungkin ada. Tapi penghinaan keluarga tidak membuktikan kamu menyuruh orang menaruh barang.'
'Kamu tahu itu, tapi tetap mudah menganggap aku cuma ingin tempatnya.'
Aku tidak membantah bahwa pikiran itu pernah melintas. Aku menjelaskan informasi yang benar-benar memunculkan pertanyaan: kontrak, kunjungan pria, dan laporan yang mengetahui lokasi laci. Tidak satu pun mencantumkan perintah darinya. Bila nanti muncul bukti, hal itu harus diperiksa. Hari ini tidak ada alasan mengubahnya menjadi pelaku karena ia duduk di meja ibu beberapa tahun lalu.
Livia bertanya apakah aku akan mengatakan hal yang sama kepada Selira. Aku menjawab ya, termasuk bahwa tidak menemukan hubungan pada pemeriksaan awal bukan jaminan untuk setiap kejadian yang belum diketahui. Ia menerima jawaban itu tanpa meminta aku mengumumkan dirinya bersih kepada keluarga.
'Ada yang perlu kamu akui juga,' katanya. 'Kamu membiarkan ibumu bicara seolah aku jawaban untuk perkawinanmu. Aku tidak akan pura-pura tidak pernah senang mendengarnya. Tapi kamu juga menikmati tidak perlu menjelaskan.'
Ucapan itu membuatku menunduk. Aku tidak bisa meminta Livia bertanggung jawab atas setiap harapan yang kubiarkan tumbuh sementara aku mempertahankan citra sebagai orang yang hanya terjepit keadaan.
'Aku minta maaf karena tidak jelas. Aku akan mengatakan kepada Ibu bahwa aku sendiri yang menolak pengaturan itu. Jangan disuruh meneruskan pesan dariku ke Selira.'
'Aku tidak mau menjadi penghubung kalian.'
Sebelum kami berdiri, ponsel Livia bergetar. Ia melihat nama di layar, lalu memperlihatkannya kepadaku: ibu. Aku sempat hendak meminta ia menjawab supaya masalah cepat selesai. Livia lebih dahulu mengatakan tidak ingin mengadakan percakapan bertiga tanpa persiapan. Ia menolak panggilan itu dan mengirim pesan singkat bahwa dirinya akan menghubungi ibu setelah urusannya selesai.
'Kalau dia minta aku datang untuk membujukmu, aku akan bilang tidak,' katanya.
'Biar aku yang menjelaskan ke Ibu juga.'
Ia mengangguk. Keputusan itu tidak memberikan bukti baru mengenai rumah atau narkoba. Namun aku melihat satu pengaturan yang selama ini kubiarkan akhirnya dihentikan oleh orang-orang yang terlibat. Aku tidak meminta Livia menerangkan sikapnya kepada Selira sebagai permohonan diterima. Aku cukup mencatat bahwa ia akan menjawab pertanyaan perkara melalui jalur pemeriksaan, sementara rencana keluarga tidak lagi mempunyai janji dariku untuk diteruskan.
Sesudah pertanyaan selesai, aku menyimpan buku. Livia meminta agar kontak berikutnya mengenai perkara disampaikan dengan alasan yang jelas. Aku setuju. Kami membayar pesanan masing-masing dan berpisah tanpa janji bertemu keluarga. Di mobil, aku menuliskan waktu pertemuan dan batas jawaban yang diberikan, lalu meneruskan kebutuhan pemeriksaan melalui jalur yang semestinya.
Selira mendengar hasilnya pada kunjungan berikutnya. Ia tidak langsung menjawab. Aku mengatakan belum ada keterangan yang menunjukkan Livia menyuruh penempatan barang. Ia menatap gambar rumah, kemudian bertanya apakah Damar sudah diperiksa.
'Belum pada bagian yang kita minta. Proses pengumpulan dokumennya masih berjalan.'
'Kalau begitu jangan kita habiskan semua waktu memikirkan Livia hanya karena aku sakit hati kepadanya.'
Aku mengangguk. Selira mengatakan ia tidak bisa memisahkan luka lama hanya dengan satu kalimat, tetapi tidak mau luka itu menjadi alasan menunjuk orang. Ia meminta jawaban Livia diperiksa sebagaimana keterangan lain jika ada bagian yang perlu diuji.
Kami membicarakan jadwal lanjutan. Aku memperlihatkan daftar permintaan yang sudah diterima dan yang belum dijawab. Selira menunjuk satu baris mengenai pihak pengelola rumah. Ia ingin tahu kapan riwayat penyewaan diperoleh, karena pembayaran yang pernah ia lakukan seharusnya punya jejak.
'Aku tindak lanjuti,' kataku.
Ketika keluar dari ruang besuk, aku merasa pembicaraan hari itu justru memberi lebih sedikit musuh yang mudah kubenci. Itu tidak membuat perkara lebih ringan. Namun aku bisa kembali pada pekerjaan yang dapat mengubahnya: dokumen yang belum dibaca, orang yang belum diperiksa, dan keterangan Selira yang harus dijaga tetap miliknya.