Surat Bu Rini diperiksa di pintu ruang besuk sebelum dikembalikan kepadaku. Aku memegangnya sepanjang jalan ke meja. Raka sudah menunggu dengan map terbuka. Ia bangkit ketika melihatku, kemudian duduk lagi setelah aku memilih kursi di seberangnya.
'Ada kabar apa?' tanyanya.
Aku meletakkan surat di tengah meja. 'Baca dulu.'
Ia mengambilnya. Matanya berhenti cukup lama pada kalimat tentang dinas sosial. Aku menunggu sampai ia meletakkan kertas itu kembali, lalu mendorong sisi belakang yang penuh tulisanku ke arahnya.
'Bu Rini tidak menyebut tempat. Aku tidak tahu siapa yang menjemput. Aku tidak tahu kapan bisa bertemu.'
'Kapan kamu menerima ini?'
Aku menjelaskan sejak titipan makanan datang, pemindahan sel pada hari yang sama, sampai kunjungan Wulan. Raka menulis waktunya. Ketika ia bertanya apakah ada petugas yang memperlihatkan surat pengasuhan kepadaku, aku menggeleng.
'Aku akan mulai dari Bu Rini. Setelah itu ke dinas, minta keterangan penempatan sementara dan cara kamu bisa berkomunikasi dengan orang yang bertanggung jawab.'
'Jangan hanya pulang membawa kata aman.'
Raka mengangkat wajah.
'Aku perlu tahu siapa yang mengatakan itu,' lanjutku. 'Dia sudah makan atau belum. Dia sakit atau tidak. Kalau mereka butuh keterangan dari ibunya, bilang aku masih ada. Aku bisa menjawab dari sini.'
Ia menggeser buku catatannya agar aku bisa melihat. Tiga pertanyaan pertama tertulis seperti yang kuucapkan. Ia menambahkan kebutuhan menghubungi ibu, lalu memberiku waktu membacanya.
Pada baris tentang kesehatan aku meminta ia menambahkan pertanyaan mengenai tidur. Aku tidak tahu apakah demam Arsa sebelum aku ditangkap sempat kembali belakangan ini. Keadaannya waktu itu sudah membaik, tetapi malam di rumah orang lain bisa membuatnya sulit beristirahat. Raka menanyakan kapan terakhir aku menyaksikan demam itu. Aku menghitung dari hari penggerebekan, lalu menyebut bahwa sekarang aku hanya bisa memberi riwayat, bukan keadaan terbaru.
'Bu Rini yang lebih tahu hari-hari setelah aku dibawa,' kataku. 'Tanya dia juga. Jangan berhenti di ceritaku.'
Raka menarik garis di bawah nama Bu Rini. Aku melihat tindakan kecil itu dan teringat betapa dulu aku sering bicara sambil ia membaca pesan di ponselnya. Hari ini ponselnya tetap tersimpan. Perhatian yang semestinya biasa itu membuatku kesal karena masih terasa istimewa. Aku menahan diri agar tidak menilai seluruh perubahan dari satu meja dan satu pagi. Yang penting sekarang pertanyaan-pertanyaanku sampai kepada pengasuh.
'Yang soal sel?' tanyanya.
'Kupikir kamu yang meminta.'
'Aku tidak pernah mengajukan pemindahan.'
Jawabannya cepat. Aku menatapnya, mencari sesuatu pada wajahnya yang bisa membenarkan dugaan lamaku. Ia tidak tersenyum bangga, tidak pula pura-pura merendah. Ia mengambil lembar kosong dari map dan mencatat pertanyaan baru.
'Aku bisa menanyakan dasar pemisahan ini. Tapi aku belum tahu siapa yang memberi instruksi.'
Kursiku terasa keras. Rasa malu naik sampai telinga. 'Aku sudah bilang ke Wulan ada orang yang menjagaku. Aku tidak menyebut namamu, tapi orang bisa mengira begitu.'
Tangan Raka berhenti.
'Dia mengejek Arsa. Aku ingin dia diam.'
Aku mengucapkannya sambil menatap meja. Semalam kalimat itu kelihatan sederhana di kertas; di hadapan orang yang pernah membiarkanku dihina, pengakuan itu jauh lebih sulit. Aku menunggu tegurannya.
'Apa dia menyentuhmu?'
'Kemarin tidak. Dia berdiri di depan sel dan bicara.'
'Sebutkan kata-katanya yang kamu ingat. Yang kamu sendiri dengar.'
Aku mengulang ejekannya. Sesekali aku berhenti, membedakan ucapan Wulan dengan jawaban yang baru kupikirkan sesudah ia pergi. Raka bertanya siapa yang berada di lorong. Aku menyebut petugas yang datang membawa makan, tetapi mengaku tidak tahu berapa banyak percakapan yang didengarnya.
'Kalau kamu ingin mengadukan, ini bisa ditulis,' katanya. 'Aku akan bantu menyusun berdasarkan keteranganmu. Yang tentang pelindung itu juga dicantumkan apa adanya.'
Aku menarik napas. 'Aku mau. Tapi jangan jadikan alasan mengancam dia balik.'
'Tidak akan.'
Untuk pertama kalinya pagi itu, aku bersandar. Di meja ini aku bisa mengaku berbuat keliru tanpa langsung kehilangan hak untuk meminta pertolongan. Kesadaran itu hampir membuatku menangis. Aku menunduk, merapikan ujung surat agar ia tidak melihat.
Raka membuka mulut, lalu mengurungkan sesuatu. Pandangannya turun pada tulisan kecil tentang sendok Arsa. Ia membaca baris itu dua kali.
'Aku bisa menyampaikan kebiasaannya ke pengasuh, dengan izinmu.'
'Sampaikan. Jangan diubah jadi cerita ibunya tidak sanggup mengurus.'
'Aku akan menyebut itu keterangan darimu.'
Sesudahnya ia bertanya apakah aku membutuhkan obat atau pemeriksaan karena tampak sulit tidur. Aku hampir menjawab bahwa aku hanya perlu anakku. Namun kepalaku memang sering berdenyut sejak pindah sel. Aku mengakui keluhan itu dan ia menyarankan aku meminta pemeriksaan kepada petugas kesehatan. Ia mencatatnya sebagai kebutuhan yang harus kusampaikan, tanpa menjanjikan bahwa ia bisa mengatur semuanya dari luar.
Petugas di pintu mengingatkan waktu. Aku mendadak ingin menahan Raka di kursi. Selama ia duduk di sini, ada orang yang sedang mengerjakan pertanyaanku; setelah ia pergi, aku akan kembali mengukur waktu dari suara langkah di lorong.
'Kapan kamu datang lagi?'
'Sesudah mendapat keterangan awal, aku minta jadwal berikutnya. Kalau belum lengkap, yang belum itu juga akan kukatakan.'
'Jangan tunggu semuanya sempurna baru memberiku kabar.'
'Baik.'
Aku mengambil surat Bu Rini. Raka meminta izin menyalin isinya, lalu menulis kalimat-kalimat itu pada buku. Ia tidak mengambil satu-satunya benda yang bisa kubaca ulang malam nanti. Ketika bukunya ditutup, aku melihat tangannya gemetar sedikit.
'Raka.'
Ia menoleh.
'Kalau soal anak membuatmu ingin bertanya seperti waktu itu, tahan dulu. Hari ini cari tahu dia dirawat siapa.'
Rautnya berubah, tetapi ia mengangguk. Tidak ada pertanyaan tentang wajah Arsa atau siapa ayahnya. Aku berdiri ketika petugas memanggil namaku.
Di ambang pintu aku menoleh sekali. Raka sudah memasukkan catatan ke map, bergerak lebih cepat daripada ketika aku datang. Aku berharap langkah cepat itu sampai kepada seseorang yang benar-benar tahu keadaan anakku. Lalu pintu ditutup, memisahkan pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan penantian yang harus kujalani.