Manusia senang sekali merasa dirinya punya kendali penuh atas tubuhnya sendiri. Padahal kenyataannya tidak begitu.
Coba saja suruh jantung berdetak lebih pelan ketika sedang gugup. Nggak akan bisa. Coba saja suruh telapak tangan berhenti berkeringat ketika sedang takut. Sama saja, nggak akan bisa. Tubuh punya sistemnya sendiri yang bekerja tanpa perlu meminta izin lebih dulu pada pemiliknya.
Rhea pernah mempelajari ini di kelas. Ketika manusia berhadapan dengan sesuatu yang dianggap sebagai ancaman, ada tiga respons yang mungkin muncul; fight, flight, atau freeze. Melawan, kabur, atau membeku.
Yang paling sering dibicarakan orang biasanya cuma dua yang pertama. Melawan kedengarannya berani, kabur kedengarannya pengecut. Dua-duanya gampang dinilai orang lain. Sementara yang ketiga jarang dibahas karena dari luar tampak seperti tidak melakukan apa-apa.
Padahal membeku itu bukan pilihan. Tidak ada manusia yang berdiri diam sambil berkata dalam hati, "Oke, kali ini gue mau membeku aja, ah." Membeku terjadi begitu saja ketika otak menghitung dengan sangat cepat lalu menyimpulkan bahwa melawan tidak aman dan kabur juga tidak mungkin. Jadi otak mengambil opsi terakhir; mematikan semuanya.
Rhea tau teorinya. Nilai ujiannya untuk materi itu bahkan tidak jelek-jelek amat. Sayangnya, teori tetaplah teori. Ketika ancaman itu benar-benar berdiri satu meter di depan mata, lengkap dengan celemek cokelat dan senyum yang terlalu lebar, semua teori di kepala Rhea rontok tak bersisa.
***
"Rheanina, kan? Ya ampun, beneran Rheanina!"
Sherly meletakkan nampan di meja sebelah begitu saja, seolah pesanan pelanggan lain tidak lebih penting dari pertemuan ini. Perempuan itu berdiri terlalu dekat, membungkuk sedikit supaya wajahnya sejajar dengan wajah Rhea.
"Gila, ya! Dunia sempit banget! Lo ngapain di Jakarta?"
"Kuliah."
Suara Rhea keluar juga akhirnya. Hanya saja terdengar asing di telinganya sendiri. Datar, tipis, seperti suara orang lain yang kebetulan lewat.
"Kuliah di mana?"
"Wikramawardhana."
"Wih, hebat! Gue mah nggak kuliah. Kerja aja di sini, baru tiga bulanan," ujar Sherly sambil mengibaskan tangan. "Eh, lo tau nggak? Anak-anak angkatan kita bikin grup, lho. Rame banget. Nanti gue masukin, ya!"
Rhea tidak menjawab. Bukan karena tidak sopan, tapi karena memang tidak ada yang bisa keluar. Tenggorokannya seperti disumbat kapas.
Sherly sama sekali tidak sadar. Atau mungkin sadar tapi memilih pura-pura tidak sadar. Rhea tak pernah bisa membedakan yang mana. Dari dulu juga begitu.
Ada tipe manusia tertentu yang punya kemampuan luar biasa untuk melupakan kesalahannya sendiri. Bukan selalu karena mereka jahat, tapi karena bagi mereka kejadian itu memang cuma sebesar biji sawi. Yang mereka lupakan adalah kenyataan bahwa biji sawi yang sama bisa tumbuh jadi pohon besar di halaman orang lain.
"Ngomong-ngomong ...." Sherly tertawa kecil, tawa yang ringan sekali. "Lo masih suka disuruh-suruh orang nggak, sih? Dulu lo baik banget mau gue suruh nganterin ini-itu diem-diem. Coba kalau nggak ada lo, mati gaya gue!"
Deg!
Ada bunyi berdengung yang tiba-tiba muncul di telinga Rhea. Bukan bunyi dari kafe, bukan bunyi mesin kopi, bukan pula bunyi musik yang sedari tadi mengalun pelan dari pengeras suara di sudut ruangan. Bunyi itu datang dari dalam kepalanya sendiri.
Kalimat Sherly yang diucapkan seringan itu--seolah sedang membicarakan cuaca atau harga cabai--adalah kalimat yang selama bertahun-tahun jadi bahan mimpi buruk Rhea. Enam bulan yang tak pernah dijelaskan siapa-siapa. Bulan-bulan setelahnya yang jauh lebih buruk lagi.
Dan orang yang memulai semuanya kini berdiri di sini, tertawa, memakai celemek cokelat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Rhea mendorong kursinya ke belakang. Dia harus keluar. Sekarang.
"Gue ke toilet dulu," ucap Rhea.
Baru dua langkah, lantai kafe itu tiba-tiba miring. Bukan Rhea yang miring, tapi lantainya. Setidaknya begitu yang Rhea rasakan. Pandangannya menyempit dari pinggir, seperti lampu panggung yang dimatikan pelan-pelan sampai tinggal satu titik kecil di tengah.
Prang! Gelas di meja Rhea jatuh entah tersenggol siapa.
Setelah itu tidak ada apa-apa lagi.
***
Yang Rhea ingat berikutnya adalah bau kopi dan langit-langit yang salah.
Butuh beberapa detik sebelum Rhea sadar bahwa dia sedang berbaring di sofa panjang dekat kasir, dengan ranselnya diganjal di bawah kaki dan seseorang mengipasinya pakai buku menu.
Namanya vasovagal syncope. Pingsan yang dipicu oleh stres, rasa takut, atau rasa sakit. Pembuluh darah melebar, tekanan darah turun mendadak, aliran darah ke otak berkurang, lalu tubuh mengambil jalan pintas paling efisien yang dia tau; menjatuhkan diri supaya kepala sejajar dengan jantung.
Sederhananya, tubuh Rhea barusan memutuskan untuk merobohkan dirinya sendiri demi menyelamatkan dirinya sendiri. Ironis sekali.
"Mbak, kita panggilin ambulans, ya?" tanya seorang laki-laki berkemeja hitam. Sepertinya penanggung jawab kafe ini.
"Nggak usah, Mas. Beneran nggak usah. Saya cuma telat makan," tolak Rhea.
Bohong, memang. Tapi menjelaskan yang sebenarnya jelas jauh lebih melelahkan.
Lagi pula apa yang mau Rhea jelaskan? Bahwa dia roboh gara-gara ditanyai basa-basi oleh seorang pelayan kafe? Buat orang lain kedengarannya konyol. Buat Rhea sama sekali tidak konyol.
Di belakang laki-laki itu, Sherly berdiri sambil menempelkan kedua telapak tangan ke pipinya. Panik, tapi paniknya terlalu berisik. Dia terus mengulang kalimat yang sama pada siapa saja yang lewat, "Ini temen SMA aku, lho! Beneran! Kita satu angkatan!"
Rhea memejamkan mata. Kepalanya masih berat.
"Mas, tolong ambilin ponsel saya di meja. Terus telepon kontak yang paling atas di riwayat panggilan," pinta Rhea.
Sebenarnya Rhea bisa saja minta ditelepon Aalea. Sepupunya itu tinggal tidak sampai empat puluh menit dari sini dan sudah pasti akan datang sambil mengomel panjang lebar. Rhea juga bisa minta ditelepon ibu kos.
Tapi Rhea tau betul siapa yang ada di urutan paling atas riwayat panggilannya. Dan dia tetap meminta nomor itu yang ditekan.
Manusia memang begitu. Mulutnya bisa berbohong sesuka hati, tapi kebiasaannya tidak pernah bisa.
***
Sagas datang dua puluh menit kemudian.
Rambutnya berantakan, napasnya belum rapi, dan tali helm ojek online masih tergantung di jari telunjuknya karena dia lupa mengembalikannya sampai harus balik lagi ke depan. Baru kali ini Rhea melihat Sagas seberantakan itu.
"Rhe?" Sagas berjongkok di samping sofa. "Kamu kenapa?"
"Pingsan doang. Nggak usah panik."
"Aku nggak panik kok."
Padahal tangan Sagas gemetar waktu membantu Rhea duduk. Dasar pembohong.
"Wah, ini pacarnya, ya?" celetuk Sherly dari belakang.
Rhea tak menjawab. Sagas juga tidak. Dia cuma menyampirkan ransel Rhea ke bahunya sendiri, lalu memapah Rhea keluar dari kafe itu tanpa banyak bicara.
Dari arah pintu masih terdengar suara Sherly, "Rhe! Kapan-kapan mampir lagi, ya!"
Rhea tidak menoleh.
***
Ibu kos ribut setengah mati begitu melihat Rhea dipapah masuk. Beliau langsung menyeduhkan teh manis hangat dan meletakkannya di meja kecil kamar Rhea, lengkap dengan wejangan panjang supaya anak kos tidak telat makan.
Sagas sendiri sempat keluar sebentar dan kembali membawa bungkusan bubur dari depan komplek. Rhea makan sedikit-sedikit sementara Sagas duduk di lantai, menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Kamu nggak harus cerita, Rhe," kata Sagas tiba-tiba.
Rhea berhenti menyendok.
"Cerita apa?"
"Apa aja. Aku nggak nanya kok."
Justru karena Sagas tidak bertanya, Rhea malah jadi ingin bicara. Manusia memang aneh. Kalau didesak, malah mengunci diri. Kalau dibiarkan, malah membuka pintunya sendiri.
"Perempuan yang tadi itu ... gue kenal dia dari SMA," ucap Rhea pelan. "Terus ...."
Rhea berhenti. Lidahnya lagi-lagi kehilangan elastisitasnya.
Ada terlalu banyak yang harus dijelaskan. Tentang enam bulan itu. Tentang apa yang terjadi setelahnya di sekolah. Tentang satu kesalahan besar yang Rhea lakukan waktu itu dan sampai sekarang belum berani Rhea sebut namanya keras-keras.
"Gue pernah ngelakuin sesuatu yang buruk waktu SMA, Gas," kata Rhea akhirnya. "Buruk banget. Tapi gue belum bisa cerita sekarang."
Selama ini Rhea memang selalu berusaha supaya Sagas hanya melihat sisi-sisi baiknya saja. Bukan karena Rhea senang berpura-pura, tapi karena Rhea takut. Takut kalau bagian yang buruk itu sampai ketahuan, Sagas akan pergi juga pada akhirnya.
Rhea menunduk, menunggu. Menunggu Sagas bertanya lebih jauh, atau menunggu wajah Sagas berubah. Dua-duanya sama-sama menakutkan.
Ternyata tidak ada yang terjadi.
"Ya udah," jawab Sagas santai. "Nanti kalau kamu udah siap, cerita ke aku. Kalau ternyata nggak siap-siap juga, ya nggak apa-apa."
"Lo nggak penasaran?"
"Penasaran. Tapi penasaran aku bukan urusan kamu," katanya. Lalu Sagas mengangkat wajahnya dan menatap Rhea lurus-lurus. "Jadi apapun itu, asal bukan tindak kejahatan, aku tetap sayang kamu."
Rhea buru-buru mengalihkan pandangan ke arah jendela. Buru-buru pula dia menyendok buburnya banyak-banyak sampai pipinya menggembung, supaya punya alasan yang sah untuk tidak menjawab apa-apa.
***
Sagas pamit pulang setelah memastikan bubur Rhea habis. Hanya saja, baru dua langkah menuju pintu, kakinya berhenti.
Matanya berhenti di pojokan kamar, di sela antara lemari dan dinding. Di sana ada sebuah pot yang sudah lama sekali tidak kena cahaya.
"Rhe," panggil Sagas, "Leyya kenapa?"
Rhea ikut menoleh, lalu meringis. Daun-daun Leyya menguning di ujungnya. Batangnya lemas, condong ke satu sisi seperti orang yang kehabisan tenaga. Sudah beberapa hari begitu, tapi Rhea sendiri terlalu banyak pikiran sampai tidak sempat mengurusnya.
"Nggak tau. Padahal gue siram terus, kok."
"Nah, itu masalahnya."
Sagas berjongkok, mengangkat pot itu, lalu menekan permukaan tanahnya dengan ujung jari. Tanahnya becek. Dia mengorek-ngorek pelan pakai sendok teh yang tergeletak di meja, membuat tanah yang sudah memadat itu jadi gembur lagi. Daun-daun yang sudah menguning dia petik satu per satu.
"Bunga matahari itu nggak butuh banyak air, Rhe. Dia butuh matahari," terang Sagas. "Ditaruh di dalam kamar begini, cahayanya cuma sedikit. Tanahnya jadi lama keringnya, akarnya kelamaan basah, terus busuk."
Rhea manggut-manggut. Anak psikologi memang tidak diajari begini di kampus.
Rhea memperhatikan tangan Sagas yang bergerak pelan dan telaten itu. Tangan yang sama yang tadi sore gemetar waktu membantunya duduk di kafe. Entah kenapa, melihat tangan itu mengurusi daun-daun kuning membuat dada Rhea terasa hangat dan perih di waktu yang bersamaan.
Padahal Leyya cuma tanaman. Tidak bisa bicara, tidak bisa mengeluh, tidak bisa bilang terima kasih. Tapi Sagas mengurusnya seperti mengurus manusia.
"Jadi harus gimana?"
"Taruh di luar aja, di teras. Yang penting kena matahari langsung, sebanyak-banyaknya. Terus siramnya rutin dua kali, pagi sama sore. Jangan asal ingat aja terus disiram banyak-banyak."
"Oh."
"Selain itu ...." Sagas menyerahkan pot itu ke tangan Rhea, lalu tersenyum. "Kalau Leyya kelihatan lemas lagi, kabarin aku aja. Jangan nunggu sampai kuning kayak gini."
Setelah pintu ditutup dan suara langkah Sagas hilang di ujung lorong kos, Rhea masih berdiri di tengah kamar. Memegangi pot itu dengan dua tangan. Tidak beranjak ke mana-mana.