Sebulan menjelang persalinan, tekanan darah Jeslin meningkat. Dokter meminta ia menghentikan pekerjaan sementara dan lebih banyak beristirahat.
Jeslin sulit menerimanya. Ia masih memeriksa surel ketika seharusnya tidur.
Bimo tidak mengambil laptopnya secara paksa. Ia mengingatkan bahwa Jeslin sendiri sudah menunjuk orang untuk menangani usaha.
"Aku takut semuanya berhenti kalau aku berhenti," kata Jeslin.
"Aku pernah merasakan hal yang sama. Perusahaan ternyata tetap jalan. Usaha kamu juga bisa."
Jeslin akhirnya mengaktifkan balasan otomatis dan menyerahkan akses proyek kepada tim. Hari pertama tanpa pekerjaan terasa kosong.
Mereka menggunakan waktu itu untuk berjalan ringan, mengikuti kelas kelahiran, dan membicarakan pembagian tugas setelah Arka lahir.
Bimo mengambil cuti tanpa merasa harus meminta maaf kepada perusahaan. Dewan sudah menyiapkan pengganti sementara.
Pada suatu malam Jeslin mengalami kontraksi palsu. Bimo panik dan membawa tiga tas berbeda ke mobil. Setelah dokter memastikan belum waktunya, Jeslin menertawakannya sepanjang perjalanan pulang.
"Nanti kalau beneran lahir, jangan malah bawa tas kantor."
"Tas rumah sakit udah aku kasih label besar."
Di balik tawa, keduanya menyimpan rasa takut. Namun mereka tidak menutupinya. Menjelang kelahiran, mereka memahami bahwa kesiapan bukan berarti tidak takut. Kesiapan adalah mengetahui kepada siapa meminta bantuan ketika rasa takut datang.
Kontraksi yang sebenarnya datang pukul dua pagi. Jeslin membangunkan Bimo yang langsung mengambil tas rumah sakit dengan tangan gemetar.
"Tenang, Bim. Jangan sampai aku yang harus nyetir."
Bimo mengangguk dan mengatur napas. Mereka tiba di rumah sakit bersama Riana. Persalinan berlangsung panjang karena kondisi Jeslin harus terus dipantau.
"Aku gak kuat," katanya sambil mencengkeram tangan Bimo.
"Kamu boleh takut. Dokter ada di sini. Aku juga di sini."
Bimo tidak memberi perintah atau janji kosong. Ia mengikuti arahan tenaga medis dan menanyakan kebutuhan Jeslin.
Beberapa jam kemudian tangis Arka memenuhi ruangan. Bimo menangis ketika putranya diletakkan di dada Jeslin.
"Dia kecil banget," bisiknya.
"Tapi suaranya kayak papa kamu kalau lagi rapat."
Mereka tertawa dalam kelelahan. Bimo mematikan ponsel kantor tanpa diminta. Seluruh perhatiannya berada pada Jeslin dan Arka.
Ketika Leonardo mendapat kabar dari ibunya, ia hanya mengirim ucapan selamat dan tidak meminta apa pun. Bimo menyimpan pesan tersebut untuk dijawab setelah keluarganya pulang.
Malam itu Jeslin menatap suami dan anaknya. Jalan mereka menuju keluarga ini tidak mudah, tetapi Arka lahir bukan untuk menyelamatkan hubungan. Ia hadir di dalam hubungan yang sudah dipilih dan terus diperbaiki kedua orang tuanya.
Minggu pertama di rumah membuat Bimo sadar cuti melahirkan bukan liburan. Arka terbangun setiap dua jam, sementara Jeslin masih memulihkan tubuhnya.
Bimo mengambil giliran mengganti popok dan menenangkan bayi setelah menyusu. Pada malam ketiga ia hampir tertidur sambil berdiri.
"Taruh Arka di tempat tidurnya," kata Jeslin. "Jangan merasa harus kuat."
Mereka menerima bantuan Riana dan ibu Bimo. Awalnya Bimo merasa gagal karena tidak mampu menangani semuanya sendiri.
"Menjadi ayah bukan berarti menolak bantuan," ujar Jeslin.
Kurang tidur memicu kebiasaan buruk Bimo. Ia mulai membuka surel saat menunggu Arka tidur. Jeslin melihatnya, tetapi tidak langsung marah.
"Kamu sedang cari pelarian atau memang ada urusan penting?"
Bimo menatap layar. Tidak ada hal darurat. Ia menutup ponsel dan mengaku merasa tidak berguna ketika hanya duduk menggendong bayi.
"Menggendong anak kamu juga sesuatu yang berguna. Gak semua nilai harus terlihat dalam laporan."
Bimo membawa persoalan itu ke sesi konseling. Ia belajar menikmati waktu yang tidak menghasilkan keuntungan.
Ketika Arka tertidur di dadanya pada suatu pagi, Bimo tidak mengambil ponsel. Ia hanya memandangi wajah putranya dan membiarkan waktu berjalan tanpa merasa perlu mengejarnya.
Setelah satu bulan, Jeslin mulai merasa kehilangan dirinya. Semua percakapan keluarga selalu berakhir pada Arka. Tidak ada yang bertanya mengenai usaha atau perasaannya.
"Aku sayang Arka," katanya kepada Bimo. "Tapi aku juga kangen jadi Jeslin yang kerja dan punya pembicaraan lain."
Bimo tidak menganggapnya sebagai penolakan terhadap anak mereka. Ia mengatur waktu menjaga Arka agar Jeslin dapat bertemu Fiona dan mengunjungi ruang kerjanya.
Di sana Jeslin menemukan timnya mampu menjalankan proyek tanpa dirinya. Ia senang sekaligus sedikit tersinggung.
"Berarti aku gak dibutuhin?" tanyanya.
"Lo dibutuhin sebagai pemimpin, bukan orang yang mengerjakan semuanya," jawab Fiona.
Jeslin tertawa karena kalimat itu terdengar seperti pelajaran Bimo.
Ia kembali bekerja secara bertahap, dua jam sehari dari rumah. Bimo tidak mengawasi dan tidak menjadikan penghasilan Jeslin sebagai sesuatu yang kurang penting.
Ketika Arka menangis di tengah rapat daring, Bimo mengambilnya tanpa menunggu diminta.
"Aku bisa berhenti rapat," kata Jeslin.
"Dan aku bisa jadi ayahnya. Lanjutkan aja."
Jeslin tersenyum. Menjadi ibu menambah bagian baru dalam dirinya, bukan menghapus semua bagian yang sudah ada.
Enam bulan setelah Arka lahir, Bimo kembali bekerja penuh. Perusahaan sedang membuka cabang baru dan jadwalnya semakin padat.
Ia mulai melewatkan sesi konseling. Dua kali Jeslin menemukannya tertidur di ruang kerja dengan laptop menyala.
"Kita udah pernah sampai rumah sakit gara-gara ini," kata Jeslin.
"Aku cuma capek. Gak pakai obat apa pun."
"Masalahnya bukan cuma obat. Kamu mulai menghilang lagi."
Bimo merasa Jeslin tidak memahami tanggung jawabnya. Pertengkaran mereka berlangsung keras hingga Arka terbangun dan menangis.
Jeslin membawa Arka ke kamar. "Aku gak akan berdebat waktu kita sama-sama marah. Besok kita bicara."
Keesokan pagi Bimo menyadari dirinya memang kembali ke pola lama. Ia menghubungi konselor dan membatalkan perjalanan bisnis yang dapat diwakilkan.
"Maaf gak cukup kalau terus diulang," kata Jeslin.
"Aku tahu. Aku akan memperbaiki sistem kerjaku, bukan cuma janji pulang cepat."
Bimo menunjuk direktur operasional tetap dan melepaskan beberapa keputusan rutin. Perubahan itu membuatnya merasa kehilangan kontrol, tetapi juga memberinya waktu pulang sebelum Arka tidur.
Kembali jatuh tidak berarti seluruh pemulihan gagal. Namun Bimo harus memilih bangkit sebelum orang-orang yang dicintainya kembali membayar akibatnya.
Ulang tahun pertama Arka dirayakan sederhana di rumah. Fiona datang membawa mainan berbentuk laptop dan langsung dimarahi Jeslin.
"Jangan ajarin anak gue kerja dari bayi."
"Ini cuma mainan."
Bimo mengambilnya dan tertawa. "Aku akan pastikan laptop ini punya jam operasional."
Leonardo mendapat izin menghadiri acara bersama petugas. Ia berdiri jauh sampai Jeslin mempersilahkannya mendekat.
"Boleh saya menggendong Arka?" tanyanya.
Jeslin dan Bimo saling berpandangan, lalu mengizinkan. Leonardo memeluk cucunya dengan mata berkaca-kaca.
"Kakek dulu mengajarkan ayahmu bahwa kerja adalah segalanya," katanya kepada Arka. "Semoga ayahmu mengajarkan hal yang lebih baik."
Bimo tidak langsung memaafkan seluruh masa lalu, tetapi mengucapkan terima kasih atas kejujuran tersebut.
Saat lilin dinyalakan, Arka lebih tertarik meremas kue daripada meniupnya. Rumah dipenuhi tawa.
Malamnya Bimo dan Jeslin melihat foto-foto selama setahun terakhir. Ada kelelahan, pertengkaran, konseling, dan banyak momen kecil yang tidak pernah masuk media sosial.
"Kita berhasil setahun," kata Bimo.
"Jangan anggap ini target tahunan. Besok tetap harus dijalani."
Bimo menggenggam tangannya. Ia tidak lagi mengukur kehidupan hanya dari pencapaian besar. Satu tahun Arka mengajarinya bahwa hadir setiap hari jauh lebih penting daripada menjadi sempurna dalam satu kesempatan.