Pada akhir bulan ketiga, Jeslin pulang tanpa memberi tahu Bimo. Ia ingin membuat kejutan, tetapi mendapati apartemen Bimo kosong pada malam hari.
Kecurigaan lama langsung muncul. Ia menelepon sekali dan tidak dijawab.
Beberapa menit kemudian Bimo mengirim pesan bahwa ia sedang dalam sesi konseling kelompok dan akan menelepon setelah selesai.
Jeslin hampir malu pada pikirannya sendiri. Ia menunggu di kedai dekat apartemen.
Bimo datang satu jam kemudian dan terkejut melihatnya.
"Kenapa gak bilang mau pulang?"
"Aku mau kasih kejutan. Ternyata aku yang hampir bikin masalah."
Jeslin menceritakan kecurigaannya. Bimo tidak marah.
"Kita masih punya bekas luka," katanya. "Yang penting kamu gak langsung menuduh atau ngikutin aku."
Mereka menghabiskan akhir pekan bersama. Bimo mengajak Jeslin melihat perubahan perusahaan dan memperkenalkan tim yang kini mengambil sebagian tanggung jawabnya.
Fiona mengatakan Bimo sudah tidak mengirim surel tengah malam selama dua bulan.
"Kemajuan besar," kata Jeslin.
"Jangan terlalu bangga. Aku masih beberapa kali ngetik lalu menyimpannya sebagai draf."
Sebelum Jeslin kembali ke Bandung, Bimo memberinya kunci apartemen. "Bukan supaya kamu mengawasiku. Ini karena aku ingin tempatku juga terasa aman buat kamu."
Jeslin menerima, tetapi tidak berjanji pindah setelah proyek selesai. Masa depan mereka akan dibicarakan, bukan diasumsikan.
Proyek Jeslin selesai lebih cepat dengan hasil baik. Perusahaannya menawarkan jabatan tetap di Bandung. Armand mengatakan kesempatan tersebut dapat membawanya menjadi manajer dalam satu tahun.
Jeslin bimbang. Ia menyukai pekerjaannya, tetapi juga merindukan kehidupan di Jakarta.
Bimo tidak meminta ia pulang. "Pilih berdasarkan hidup yang kamu inginkan, bukan berdasarkan ketakutan kehilangan aku."
"Kalau aku tinggal di Bandung?"
"Kita cari cara. Kalau nanti gak berhasil, kita jujur."
Jeslin meminta satu minggu. Ia mempertimbangkan karier, keluarga, dan hubungannya tanpa menjadikan salah satunya satu-satunya ukuran.
Akhirnya ia menolak posisi tetap, bukan demi Bimo, tetapi karena ingin membangun usaha konsultasi sendiri di Jakarta. Pengalaman proyek memberinya keyakinan untuk bekerja secara mandiri.
"Aku mau punya sesuatu yang kubangun sendiri," katanya.
Bimo menawarkan modal, tetapi Jeslin menolak untuk tahap awal.
"Aku mungkin minta bantuan nanti melalui kontrak profesional. Untuk sekarang aku mau menguji rencanaku sendiri."
"Aku mengerti."
Jeslin pulang ke Jakarta setelah enam bulan. Bimo menjemputnya di stasiun dengan satu buket kecil dan makanan kesukaannya.
"Selamat datang pulang," katanya.
"Pulang ke kota, bukan langsung ke apartemen kamu."
Bimo tertawa. "Aku tahu."
Mereka berpelukan. Enam bulan itu tidak menyembuhkan semua masalah, tetapi membuktikan bahwa hubungan mereka dapat bertahan tanpa pengawasan dan tanpa salah satu orang mengorbankan seluruh hidupnya.
Jeslin menyewa ruang kerja kecil untuk usaha konsultasinya. Ia memakai tabungan sendiri dan mengajak Fiona membantu menyusun sistem administrasi di luar jam kantor.
Klien pertama datang dari usaha milik teman Riana. Nilainya tidak besar, tetapi Jeslin mengerjakannya dengan serius.
Bimo ingin membantu mempromosikan, namun Jeslin meminta ia menunggu.
"Aku gak mau orang datang cuma karena nama kamu."
"Kalau nanti kamu butuh jaringan profesional?"
"Aku akan minta dengan perjanjian yang jelas."
Bimo menghormatinya. Ia hanya membantu memasang rak ketika Jeslin mengizinkan.
Bulan pertama penuh kesulitan. Dua calon klien membatalkan dan pembayaran pertama terlambat. Jeslin hampir menyerah, tetapi tidak menyembunyikan masalah dari keluarganya.
Armand menghubungi dan menawarkan proyek jarak jauh sebagai mitra independen. Jeslin menerimanya setelah memastikan kontrak tersebut tidak membuatnya kembali menjadi pegawai.
Usahanya perlahan bergerak. Pada malam ketika pembayaran besar pertama masuk, Jeslin mengajak Bimo makan di warung sederhana.
"Kali ini aku yang traktir," katanya.
Bimo tersenyum. "Aku bangga, tapi bukan karena jumlah uangnya."
"Karena apa?"
"Karena kamu membangun hidup yang memang kamu pilih."
Jeslin merencanakan ulang tahun sederhana untuk Bimo. Ia mengundang ibu Bimo, Fiona, dan beberapa sahabat dekat.
Bimo pulang tepat waktu dan terkejut melihat apartemennya dihias. Dahulu ia hampir selalu melewatkan ulang tahun demi pekerjaan.
"Aku gak butuh pesta," katanya.
"Ini bukan kewajiban. Kami pengen ada di sini."
Di tengah acara, Leonardo menelepon dari tempat penahanan. Bimo ragu menjawab, tetapi akhirnya menerima panggilan di balkon.
Ayahnya mengucapkan selamat ulang tahun dan meminta maaf karena selama ini hanya menghargai Bimo melalui pencapaian.
"Ayah belum berharap kamu memaafkan," katanya. "Ayah cuma ingin mengakui kesalahan."
Bimo tidak langsung memberi pengampunan. "Terima kasih sudah bilang. Saya butuh waktu."
Setelah panggilan, Jeslin menemukan Bimo menangis. Ia tidak bertanya berlebihan, hanya berdiri di sampingnya sampai Bimo siap bercerita.
Sebelum meniup lilin, Bimo mengatakan satu keinginan.
"Aku pengen hidup yang gak selalu terasa seperti lomba."
"Kalau begitu jangan lupa berhenti di tengah jalan buat makan kue," kata Fiona.
Semua tertawa. Untuk pertama kalinya, ulang tahun Bimo tidak menjadi jeda yang mengganggu pekerjaan. Justru pekerjaanlah yang harus menunggu karena ia sedang merayakan hidup.
Usaha Jeslin mendapat tawaran menangani kampanye perusahaan besar. Setelah membaca nama pemiliknya, ia terkejut karena perusahaan tersebut merupakan calon mitra Bimo.
"Kalau aku ambil, orang bisa bilang aku dapat proyek dari hubungan kita," kata Jeslin.
Bimo memeriksa proses pengadaan. "Nama kamu dipilih lewat rekomendasi Armand. Aku bahkan gak tahu mereka buka proyek."
Jeslin tetap meminta seluruh komunikasi dicatat dan keputusan dibuat oleh tim yang tidak berhubungan dengan Bimo. Ia menerima setelah prosesnya transparan.
Tekanan proyek membuat Jeslin kembali bekerja sampai larut. Suatu malam Bimo datang dan melihat meja dipenuhi kopi.
"Aku gak akan nyuruh kamu berhenti," katanya. "Tapi kamu udah makan?"
Jeslin tersenyum malu. "Belum."
Mereka makan bersama di ruang kerja. Bimo tidak mengambil laptop atau mencoba menyelesaikan tugas Jeslin.
Proyek berhasil, tetapi sebuah akun anonim menuduh Jeslin mendapat keuntungan karena tidur dengan direktur perusahaan mitra. Tuduhan itu menyebar cepat.
Jeslin ingin membalas semua komentar. Bimo menawarkan tim hukum, tetapi keputusan tetap diserahkan kepadanya.
Mereka akhirnya mengeluarkan bukti proses pengadaan dan melaporkan akun yang menyebarkan fitnah. Jeslin tidak menutup usahanya atau mengundurkan diri dari proyek.
"Dulu aku masuk kantor kamu sambil bersembunyi," katanya. "Sekarang aku gak akan bersembunyi dari pekerjaan yang kudapat dengan benar."