"Kamu mau sampe kapan kerja di kantor Bimo?" tanya Julianto, Ayah Jeslin.
Jeslin menghela nafas. Ia paling benci harus bertengkar dengan ayahnya saat sedang sarapan. Apalagi makan bersama dengan keluarganya merupakan hal yang sangat jarang.
"Kita lagi makan, Pa. Jangan ngebahas sesuatu yang ujung-ujungnya kita bakalan berantem deh," protes Jeslin dengan nada pelan. Ia berusaha untuk tidak menggunakan nada tinggi di depan ke dua orang tuanya. Ini masih pagi hari. Ia tidak ingin memulai harinya dengan sebuah pertengkaran.
"Iya, Pak. Kita selesaikan makan dulu lah," ucap Riana.
"Sudah enam bulan kamu kerja di sana, Jeslin. Kamu itu ngapain sih sebenernya? Apa yang dicari di sana? Papa gak ngerti jalan otak kamu," kata Julianto.
"Yah just kerja aja, Pa. Cuma isi waktu sebelum kerja beneran aja," jawab Jeslin sambil menusuk telur mata sapi di piringnya tanpa selera.
"Kerja beneran?" Julianto meletakkan sendoknya. "Jadi selama enam bulan ini kamu kerja bohong-bohongan?"
"Bukan gitu maksudnya, Pa."
"Papa udah siapin posisi buat kamu di kantor. Bukan posisi kacangan, Jeslin. Papa udah ngomong sama Pak Wibowo, tinggal kamu dateng."
Jeslin menaruh garpunya. "Aku belum mau, Pa."
"Kenapa?"
"Karena aku pengen tahu rasanya kerja di tempat yang orang-orangnya gak kenal nama belakang aku."
Julianto terdiam sejenak.
Riana buru-buru mengisi kekosongan itu dengan menuangkan teh ke gelas suaminya. "Pak, sudah. Anaknya lagi belajar. Biarin dulu."
"Belajar apa? Jadi staf biasa di perusahaan orang?"
"Perusahaan orang itu salah satu yang terbesar di bidangnya, Pa," sahut Jeslin.
"Papa tahu perusahaan apa itu." Julianto menatap putrinya lurus-lurus. "Papa juga tahu siapa yang punya."
Sendok di tangan Jeslin berhenti di udara.
Riana melirik suaminya dengan tatapan memperingatkan, tapi Julianto sudah kembali menyendok nasinya, seolah kalimat barusan hanyalah komentar biasa tentang cuaca.
Jeslin menelan ludah. "Pa—"
"Papa gak akan ikut campur." Julianto mengunyah tanpa memandangnya. "Papa cuma mau kamu inget satu hal. Kalau kamu kerja di tempat pacar kamu diam-diam, suatu hari nanti salah satu dari kalian bakal kepaksa milih: hubungan atau kerjaan. Papa cuma gak mau kamu ada di ruangan itu waktu pilihan itu datang."
Jeslin tidak menjawab.
Ia menghabiskan sarapannya dalam diam, mencium tangan kedua orang tuanya, lalu keluar rumah dengan perasaan yang jauh lebih berat daripada saat ia bangun tadi.
***
Kantor selalu punya cara membuat Jeslin lupa pada masalahnya sendiri.
Begitu masuk ke lantai tujuh, ia langsung ditelan oleh suara telepon berdering, printer yang mengerang, dan Fiona yang setengah berlari sambil membawa setumpuk map.
"Jes! Untung lo dateng. Bu Clarina minta revisi deck yang kemarin, deadline jam dua." Fiona menaruh map-map itu di meja Jeslin. "Gue udah bilang gak mungkin, dia bilang mungkin."
"Ya udah, berarti mungkin."
"Lo kok kalem banget sih."
"Kalo gue ikutan panik, siapa yang ngerjain?"
Fiona menepuk bahunya dan berlalu.
Jeslin menyalakan laptopnya. Ia baru membuka slide kedua ketika sebuah gelas kertas diletakkan di sudut mejanya.
"Kopi susu, gula setengah, es dikit." Fadlan berdiri di samping mejanya dengan gelasnya sendiri di tangan. "Bener, kan?"
Jeslin mengangkat wajah. "Kok kamu hafal?"
"Kan tiap hari lo pesen itu. Gue kan bukan batu."
"Makasih ya, Lan. Berapa?"
"Gak usah." Fadlan menarik kursi kosong dari meja sebelah dan duduk. "Anggep aja bayar utang. Kemarin lo yang traktir makan malem."
Jeslin tersenyum tipis. Ia hendak menjawab ketika ekor matanya menangkap gerakan di ujung ruangan.
Bimo berdiri di depan lift.
Bukan hal aneh. Bimo memang sesekali turun ke lantai tujuh. Yang membuat jantung Jeslin melompat adalah arah pandangannya: bukan ke ruang rapat, bukan ke meja Clarina, melainkan tepat ke sudut tempat Fadlan duduk terlalu dekat dengan mejanya sambil tertawa.
Jeslin buru-buru menegakkan punggung dan menarik laptopnya lebih dekat.
"Kenapa?" tanya Fadlan.
"Gak apa-apa. Gue lanjut ya, deadline."
Fadlan mengangguk dan bangkit. "Semangat."
Ketika Jeslin mengangkat kepalanya lagi, Bimo sudah tidak ada di depan lift.
***
Ponsel Jeslin bergetar pukul satu siang.
**Bimo:** Ruang rapat kecil lantai 12. Sekarang.
Jeslin menghela napas panjang, menyimpan file, dan naik.
Ruang rapat kecil itu satu-satunya tempat di gedung ini yang tidak berdinding kaca. Alasan itulah yang membuat Bimo selalu memilihnya setiap kali ada hal yang tidak boleh dilihat siapa pun.
Bimo berdiri membelakangi pintu, tangannya di saku celana.
"Kamu manggil aku pas jam kerja?" Jeslin menutup pintu. "Kalau ada yang lihat gimana?"
"Siapa laki-laki itu?"
"Hah?"
"Yang duduk di sebelah meja kamu tadi pagi."
Jeslin menatapnya. "Fadlan. Anak tim gue. Kenapa?"
"Dia beliin kamu kopi."
"Iya. Terus?"
"Terus dia hafal pesenan kamu."
Jeslin menyilangkan tangan di depan dada. "Bimo."
"Aku cuma nanya."
"Kamu gak lagi nanya." Suara Jeslin turun. "Kamu lagi nuduh, cuma pakai nada nanya."
Rahang Bimo mengeras. Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara. Dari luar ruangan terdengar samar suara troli katering melewati koridor.
"Kamu tahu terakhir kali kamu hafal pesenan aku kapan?" tanya Jeslin akhirnya.
Bimo tidak menjawab.
"Tiga bulan lalu kamu beliin aku kopi hitam. Aku gak minum kopi hitam, yang. Aku gak pernah minum kopi hitam seumur hidup aku."
"Jes—"
"Aku gak marah." Jeslin menggeleng, dan yang membuat kalimat itu menyakitkan adalah karena ia benar-benar tidak marah. "Aku cuma pengen kamu sadar, orang yang kamu cemburuin itu cuma inget hal kecil tentang aku. Itu doang. Dan kamu ngerasa terancam sama itu."
Bimo memejamkan mata. Ketika membukanya lagi, sesuatu di wajahnya sudah runtuh.
"Maaf," katanya.
"Aku bukan minta maaf, Bim."
"Terus kamu minta apa?"
Jeslin memandanginya lama.
"Sabtu ini," ucapnya. "Seharian. Tanpa laptop, tanpa telepon kantor, tanpa mendadak-ada-meeting."
"Sabtu ini aku ada—"
Jeslin mengangkat sebelah alis.
Bimo menghela napas panjang, mengeluarkan ponselnya, dan mengetik sesuatu selama beberapa detik. Lalu ia membalik layarnya ke arah Jeslin: seluruh jadwal Sabtu, dihapus.
"Ke mana?" tanya Bimo.
Senyum pertama Jeslin hari itu akhirnya muncul.
"PIK," jawabnya. "Aku mau es krim."