Jemuran di halaman belakang panti dipenuhi popok kain yang melambai seperti bendera kecil, dan Qenna sedang menjepit yang terakhir ketika ponsel di saku gamisnya bergetar.
Pesan dari Armand, tiga baris. Ia sudah berangkat. Kafe kecil dekat stasiun, pukul tiga. Rafa memilih tempatnya, dan Rafa yang bilang akan membayar.
Senin malam, setelah mobil sedan itu keluar dari gerbang, Qenna sempat mengetik pesan yang lama sekali ia hapus dan tulis ulang. Hasil akhirnya hanya dua kalimat: "Pergilah. Tapi ceritakan kepada saya apa pun yang menyangkut saya." Armand membalas satu kata, "Pasti," dan sampai hari ini ia belum pernah melanggarnya.
"Dari siapa?" tanya Andin, menyelinap di antara dua baris jemuran dengan keranjang kosong di pinggang.
"Dari orang yang sedang minum kopi."
"Sama Kak Rafa?" Andin berkedip. "Mereka tidak berantem, kan?"
"Kakak tidak tahu." Qenna menjepit popok itu dan menyadari jarinya sedikit kaku. "Tolong lihat Aksa di kamar. Kalau dia bangun dan Kakak belum selesai, ambil saja, ya."
Andin berlari pergi. Dari jendela dapur, Ibu Aisyah mengawasi sambil mengaduk panci, dan Qenna tahu perempuan tua itu tidak akan bertanya apa-apa kecuali Qenna sendiri yang mulai bicara.
Qenna tidak mulai. Ia mengambil keranjang, menjemur sisa kain, dan menghitung jepitan kayu di tangannya sampai tujuh belas. Baru ketika keranjang itu kosong, Ibu Aisyah muncul di pintu dapur dengan lap di bahu.
"Ibu tidak bertanya," ujarnya.
"Aku tahu, Bu."
"Tapi kalau kamu mau bicara sambil mengupas bawang, bawangnya banyak."
Qenna mengembuskan napas lewat hidung, setengah tawa, dan sesuatu di dadanya melonggar. Ia mengikuti Ibu Aisyah masuk. Di dapur, dengan pisau di satu tangan dan bawang merah di tangan lain, ia mengaku bahwa yang ia takutkan bukan permintaan Rafa. Yang ia takutkan adalah ia akan bisa mengabulkannya.
***
Kafe itu sempit, dengan enam meja kayu dan kipas angin langit-langit yang berputar lambat, jenis tempat yang ditemukan orang karena kebetulan, bukan karena niat. Armand sampai sepuluh menit lebih awal, dan Rafa sudah duduk di meja paling ujung.
Armand nyaris tidak mengenalinya. Rafa lebih kurus, kemejanya putih bersih tetapi lipatan di lengannya terlalu rapi, jenis rapi yang datang dari disetrika sendiri dengan tangan yang belum terbiasa. Sepatunya bersol tipis. Di depannya ada segelas air putih.
"Terima kasih sudah datang," ucap Rafa, berdiri setengah. "Duduklah. Kopi di sini enak. Aku yang bayar."
"Kamu sendiri pesan air putih."
"Aku sudah minum kopi tadi pagi." Rafa tersenyum kecil, jenis senyum yang mengaku bohong sebelum sempat dibantah. "Pesan saja. Kali ini aku tidak akan berpura-pura."
Armand memesan kopi hitam. Pelayan pergi. Kipas berdecit di atas mereka.
"Aku akan langsung," kata Rafa. "Aku mau meminta sesuatu, dan aku sudah menyiapkan diri kamu menolaknya."
"Katakan."
"Jagalah mereka." Kalimat itu keluar datar, tetapi tangannya di atas meja mengepal. "Qenna dan Aksa. Bukan karena aku merasa berhak menyuruhmu. Aku tahu aku tidak berhak. Tetapi aku ayahnya, dan aku tidak bisa ada di sana setiap malam. Aku hanya boleh datang Selasa dan Sabtu, setengah jam tiap kali, dengan seorang ibu tua menjadi saksi. Itu hukumanku, dan aku tidak keberatan." Ia menelan ludah. "Tapi aku keberatan dengan gagasan mereka sendirian."
Armand mengaduk kopinya yang baru datang, perlahan. Ada banyak hal yang bisa ia katakan dan sebagian besar akan terdengar seperti kemenangan.
"Aksa tetap anakmu," ujarnya. "Aku tidak akan pernah mengambil tempatmu. Kalau suatu hari dia memanggilku sesuatu, itu bukan panggilan 'Ayah', dan aku akan memastikan dia tahu siapa yang menggendongnya di ruang depan panti sambil menangis tanpa suara."
Rafa menunduk. Bahunya naik turun sekali.
"Dan soal menjaga," lanjut Armand, "dia tidak butuh dijaga seperti barang. Dia perempuan yang membuka pintu panti sendirian, melahirkan, lalu duduk di depan hakim dan bilang 'tidak' dengan suara yang tidak gemetar. Yang bisa kulakukan hanya berada di dekatnya kalau dia mengizinkan."
"Kamu sudah bilang kepadanya?" Rafa mengangkat wajah. "Perasaanmu."
"Sudah. Dia bilang belum, karena waktu itu talakmu belum diucapkan."
"Dia menolakmu seperti dia menolakku?"
"Bukan menolak." Armand menggeleng. "Menunggu. Dan aku tahu bedanya karena aku sudah pernah menjadi orang yang tidak menunggu siapa pun."
Armand terdiam sesaat. "Bagaimana Aksa Sabtu kemarin?"
Wajah Rafa berubah, seperti seseorang yang disodori satu-satunya topik yang aman. "Dia tersenyum. Bukan kepadaku. Kepada burung di pohon jambu." Ia tertawa kecil. "Tapi aku ada di sana waktu itu terjadi. Ibu Aisyah bilang itu cukup."
"Itu memang cukup."
"Belum," sahut Rafa tanpa kepahitan. "Tapi sudah mulai."
Lalu ia tertawa, pendek dan getir. "Dulu aku bilang kepadanya, di kamar hotel itu, bahwa aku tidak ingin kehilangan semua ini. Perusahaan yang kubangun dari nol. Sekarang aku benar-benar dari nol lagi." Ia memutar gelasnya di meja. "Ruko dua lantai di dekat stasiun. Tiga orang. Kepala keuanganku yang lama ikut karena katanya ia lebih suka gaji kecil dari bos yang menatap matanya. Sekretarisku yang dulu menyerahkan surat pengunduran diri juga ikut; suratnya kutolak, dan dia memilih bekerja dengan gaji setengah. Aku pindah minggu depan, meja-mejanya masih kupinjam dari saudara sepupu. Anehnya, tidurku lebih nyenyak."
"Selamat."
"Jangan. Itu bukan prestasi. Itu cuma yang seharusnya kulakukan lebih dulu."
Pelayan menaruh tagihan. Rafa meraihnya cepat, merogoh dompet, dan Armand melihat jari-jarinya menghitung lembaran dengan teliti, tidak menyembunyikan hitungan itu. Ia tidak menawarkan membayar. Itu satu hal yang ia pelajari dari ibunya: ada orang yang harus diizinkan membayar tehnya sendiri.
"Satu lagi," ucap Rafa, saat dompetnya sudah masuk kembali ke saku. Suaranya turun. "Kalau suatu hari Qenna menikah, dengan siapa pun, aku ingin hadir. Bukan sebagai pria yang pernah menikahinya. Sebagai ayah Aksa, di barisan belakang, tidak bicara. Kalau dia mengizinkan. Hanya kalau dia mengizinkan."
Hening yang lama. Di luar, kereta lewat dan gelas-gelas di rak bergetar halus.
Armand mendengar kata "kalau" yang diucapkan dua kali. Lelaki di depannya tahu persis siapa yang akan berdiri di sisi Qenna pada hari seperti itu, dan tetap memintanya dengan wajah terbuka.
"Itu bukan izinku," sahutnya akhirnya. "Aku tidak berhak memberi atau menolak. Tapi akan kuminta untukmu. Kutanyakan langsung kepadanya, di depan Ibu Aisyah, bukan lewat orang lain."
Rafa mengulurkan tangan. Armand menatapnya sebentar, tangan yang beberapa bulan lalu ia pikir tak akan pernah ia jabat, lalu menyambutnya. Genggaman itu singkat dan kering, tanpa kehangatan, tetapi tidak ada yang melepaskannya lebih dulu dari yang seharusnya.
"Ada satu hal lagi," kata Rafa, berdiri, kursi bergeser di lantai. "Mama menulis sesuatu. Tiga malam ia duduk di meja makan, tidak makan. Ia menyuruhku menyerahkannya kepada Qenna." Ia mengenakan jaketnya. "Aku bilang tidak akan menyerahkan apa pun yang belum diminta. Jadi, kalau suatu hari Qenna bertanya apakah ada titipan, tolong bilang ada. Hanya itu."
"Aku bilang ke Qenna," ucap Armand. "Bukan kamu yang minta, bukan aku yang memutuskan."
"Itu yang kuharapkan."
Rafa pergi lebih dulu, berjalan ke arah stasiun tanpa menoleh, bahunya sedikit membungkuk di bawah jaket yang kebesaran.
Di mejanya, Armand mengeluarkan ponsel dan mengetik dengan dua ibu jari, menghapus, mengetik lagi. Pesannya akhirnya pendek: "Sudah selesai. Ada dua hal yang harus kutanyakan langsung kepadamu, bukan lewat pesan. Kapan boleh?"
Balasan Qenna datang sebelum ia sempat menyimpan ponsel.
"Sabtu, di masjid dekat kantor, sebelum akad Hans. Banyak orang, Ibu juga ada. Dua hal itu penting atau gawat?"
Armand memandang kata terakhir itu agak lama.
"Dua-duanya," tulisnya. "Tapi yang gawat urusan Rafa, bukan urusan kita."