Hans berdiri di depan gerbang panti selama tiga menit penuh tanpa masuk, dan Armand, yang berdiri di belakangnya memanggul kardus susu bayi, akhirnya mengetuk bahunya.
"Kamu mau masuk atau mau membuka cabang?"
"Aku sedang menghafal." Hans memegang kotak martabak telur di depan dadanya dengan dua tangan, seperti membawa kitab suci. Kotaknya masih hangat. Dari dalam bungkus plastik, uap tipis mengembun di sudut-sudutnya. "Dua kalimat. Hanya dua. Aku sudah mengulangnya sepanjang jalan, dan sekarang aku lupa kalimat pertamanya."
"Kalimat pertamanya, 'Sindy, aku ingin bicara.'"
"Terima kasih. Itu terlalu mudah."
"Kamu yang bilang tidak ada lelucon." Armand menggeser kardus di pundaknya. "Dan tidak ada parfum."
Hans mengendus kerah kemejanya. "Sudah kubuang. Semalam. Botolnya kuletakkan di meja, memandangnya selama sepuluh menit, lalu kuseret ke tempat sampah luar supaya aku tidak punya kesempatan mengambilnya lagi." Ia menarik napas panjang. "Aku wangi sabun sekarang. Kamu bisa mencium?"
"Aku bisa mencium martabak."
"Itu juga bagus." Hans menegakkan bahu. "Ayo."
Dari teras terdengar suara anak-anak, tawa Andin, dan dentingan sendok pada gelas. Ibu Aisyah duduk di kursi plastik hijau seperti biasa, rajutan di pangkuan. Qenna di kursi rotan dengan Aksa tertidur di dadanya, Sindy di bangku kayu sambil mengupas jeruk untuk dua anak kecil yang menunggu dengan mulut terbuka. Lalu mereka semua melihat siapa yang masuk dari gerbang.
Hans berjalan dengan kaki yang bergerak sendiri. Ia berhenti di depan teras, satu anak tangga dari Sindy, menaruh kotak martabak di meja dengan hati-hati, lalu berdiri tegak, tangan lurus di samping badan seperti murid di hadapan guru.
"Sindy." Suaranya lebih serak dari rencana. "Aku ingin bicara. Di sini, di depan semua orang, karena kamu bilang tempat yang bukan IGD, dan kupikir tidak ada tempat yang lebih jujur dari ini."
Jeruk di tangan Sindy berhenti dikupas.
"Aku sudah lama suka kamu. Aku tidak mengatakannya dengan baik waktu itu, dan sesudahnya aku berusaha membuktikan lewat hal-hal kecil yang mungkin tidak kamu lihat, teh tanpa gula banyak, jalan memutar, bawa bekal ekstra." Hans menelan ludah. "Aku bukan orang yang paling serius. Aku tahu. Tapi aku ingin menjadi orang serius untuk satu orang, dan orang itu kamu. Aku ingin menikahimu. Setelah ini aku akan datang ke keluargamu dengan benar. Tapi aku ingin mendengar jawabanmu dulu, di sini."
Andin menahan napas hingga pipinya menggembung. Anak sembilan tahun yang pernah mengacungkan sandal menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Sindy meletakkan jeruk. Ia berdiri pelan dan menyeka tangan di rok. Matanya sudah berkaca-kaca, hidungnya merah.
"Kamu hafal itu?"
"Aku lupa kalimat pertama."
"Tapi kamu ingat kalimat kedua."
"Aku tidak ingat sama sekali. Aku bicara dari kepala." Hans nyaris tertawa dan hampir menangis di saat yang sama. "Itu masuk hitungan?"
Sindy memandang martabak telur di meja. Memandang Hans. Memandang Qenna sekilas, yang mengangguk sangat kecil, lalu kembali pada lelaki yang berdiri gemetar di anak tangga.
"Aku mau," ujarnya.
Andin memekik. Seorang anak laki-laki melompat dari bangku.
"Tapi," Sindy mengacungkan satu jari sebelum sorak sorai pecah, "kamu harus berhenti memakai parfum itu. Selamanya. Aku tidak mau menikahi lelaki yang membuat sahabatku mual setiap kali lewat."
Hans menutup mata sesaat. Lalu ia tertawa. Bukan tawa lelucon, melainkan tawa orang yang akhirnya diizinkan bernapas. "Sudah kubuang semalam. Demi Tuhan. Tukang sampah komplek rumah dinas bisa jadi saksi."
"Siapa yang kamu panggil jadi saksi?"
"Nanti kuceritakan seumur hidup."
Sindy tertawa dan menangis sekaligus, dan ketika Hans melangkah naik dengan tangan terbuka, ia menepis tangan itu dengan gerak menyuruh sabar, menunjuk Ibu Aisyah. "Dulu. Minta berkah dulu."
***
Ibu Aisyah meletakkan rajutannya. Hans membungkuk dan mencium punggung tangannya dengan takzim yang tidak dibuat-buat, begitu pula Sindy, dan perempuan tua itu mengusap kepala keduanya bergantian.
"Ibu tidak punya apa-apa untuk diberikan selain doa," katanya. "Kalian ini dua anak yang sudah lama berputar-putar. Semoga rumah kalian nanti kecil tetapi hangat, dan kalau kalian bertengkar, bertengkarlah sambil makan."
Andin dan anak-anak menyerbu martabak. Dalam tiga menit kotak itu kosong, dan Hans, yang tidak kebagian, dihibur Sindy dengan separuh jeruk.
Armand menurunkan kardus susu di pojok teras, mengusap bahu yang pegal, dan tertawa. Pada awalnya tawa itu kecil, seperti bunyi gelas bertemu gelas. Lalu semakin lama semakin besar, sampai punggungnya membungkuk dan ia harus memegang tiang teras. Matanya berair. Ia tertawa seperti lelaki yang menyimpan sesuatu di dadanya selama berbulan-bulan lalu tiba-tiba menemukan pintu keluarnya, tawa lepas yang di warung bakso baru separuh keluar. Dua anak kecil berhenti mengunyah dan memandangnya dengan mulut penuh.
"Hans," Armand tersengal, "sepuluh menit yang lalu kamu lupa kalimat pertamamu ...."
"Berhenti tertawa," ucap Qenna.
Armand menoleh.
"Armand, berhenti tertawa. Anak-anak sampai melongo. Nanti mereka menirunya." Ia berkata sambil tersenyum, tetapi di tengah kalimat ia menyadari apa yang baru keluar dari mulutnya. Tidak ada Bapak. Tidak ada Pak. Hanya satu nama, dua suku kata, lepas begitu saja seperti burung yang ia tak sengaja lepaskan dari sangkar.
Tawa Armand berhenti seketika. Ia menatap Qenna, mulutnya setengah terbuka, mata berair karena dua sebab sekaligus. Qenna tidak menariknya kembali. Ia mengangkat dagu sedikit, tanda bahwa ia tahu persis apa yang ia ucapkan.
"Maaf," gumam Armand, suaranya serak. "Aku ... aku tidak apa-apa. Terima kasih."
Dari pojok, Ibu Aisyah memandang mereka berdua, lalu menunduk pada rajutannya dengan senyum kecil yang tidak ia sembunyikan. Sindy dan Hans sedang sibuk berbisik dan sama sekali tidak melihat. Atau berpura-pura tidak melihat.
Beberapa menit kemudian, ketika Hans pergi ke mobil mengambil sesuatu dan Armand ikut menemaninya, Sindy menyelinap ke sisi kursi rotan dan menunduk sampai bibirnya hampir menyentuh telinga Qenna.
"Qen."
"Jangan."
"Aku belum bilang apa-apa."
"Wajahmu yang bilang." Qenna mengangkat Aksa sedikit, menyembunyikan separuh mukanya di balik kepala kecil itu. "Itu keceplosan. Tidak lebih."
"Keceplosan yang pas sekali, tepat waktunya." Sindy menahan tawa. "Aku tidak akan bilang siapa-siapa. Hanya Hans."
"Sindy."
"Dan Andin. Dan Citra." Sindy menegakkan diri sambil mengangkat tangan menyerah. "Bercanda, Qen. Bercanda. Tapi kamu tidak menariknya kembali, dan aku lihat itu."
Qenna tidak menjawab. Aksa menggeliat di dadanya, menguap lebar, dan di bawah sinar sore yang miring ke teras ia merasa pipinya hangat, bukan oleh matahari.
Sebelum pamit, Armand merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah amplop kecil berwarna krem.
"Titipan," ujarnya. "Dari Siska. Ia menyerahkannya langsung kepadaku kemarin dan memintaku menyampaikannya. Papa Ahsan dan Mama Sulastri mengundang makan siang hari Selasa. Hanya tujuh orang. Kamu, Ibu Aisyah, Aksa, aku, dan mereka bertiga." Ia menggaruk tengkuk. "Kamu tidak harus datang. Siska tahu itu. Ia bilang kalau kamu menolak, ia mengerti."
Qenna membuka amplop, membaca tulisan tangan rapi yang miring ke kiri: tiga baris undangan dan satu baris tambahan di bawahnya, tanpa kata maaf.
"Datang bersama Ibu Aisyah dan Aksa, ya," isi baris terakhir. "Aku mau kalian semua melihat apa yang kuakui."
Qenna menatap Ibu Aisyah, yang hanya mengangkat bahu kecil, menyerahkan keputusan itu sepenuhnya. Ia melipat kertas itu dan menyelipkannya ke saku gamis.
"Selasa," katanya kepada Armand. "Kami datang."