Kursi besi di ruang tunggu pengadilan agama itu dingin dan keras, dan Qenna sudah menggeser duduknya empat kali sebelum Ibu Aisyah menepuk lututnya.
"Berhenti bergerak. Kamu membuat Ibu ikut gugup."
"Maaf, Bu." Qenna merapikan lipatan gamis biru tua di pangkuan, yang sama dengan yang ia pakai di lobi kantor Rafa. Ia sengaja memilihnya. Pagi tadi di panti ia sempat berdiri di depan lemari agak lama sebelum menyadari bahwa dirinya, seperti biasa, sedang memilih pakaian perang.
Pukul sembilan kurang sepuluh. Di seberang lorong, Pak Dimas berdiri dengan map hitam dan kacamata tipis, membaca sesuatu sambil sesekali menggerakkan bibir. Ia sudah menjelaskan dua kali di mobil: sidang pertama hanya pemeriksaan, hakim akan menanyakan apakah pernikahan masih bisa dipertahankan, dan Qenna tidak perlu mengatakan lebih dari yang ditanya. Qenna menyahut "Iya, Pak" dua kali dan melupakan separuhnya.
Ponselnya bergetar di pangkuan. Sindy mengirim foto: Aksa di boks, mulut terbuka lebar, dengan kaus kaki rajut pemberian Alin menutupi kedua kaki dan Andin di belakangnya membentuk tanda damai dengan dua jari. Di bawahnya tertulis, "Sudah minum 90 ml, menangis dua kali, satu karena popok, satu karena Andin menyanyi. Kamu fokus saja di sana, Qen."
Qenna tertawa pendek, dan tawa itu membuat dadanya sedikit longgar.
"Dia baik-baik saja?" tanya Ibu Aisyah tanpa menoleh.
"Dia lebih baik dari aku, Bu."
Aksa ditinggal di panti. Sindy mengambil cuti setengah hari, yang disetujui Hans tanpa pertanyaan sepatah pun, dan Qenna membekali sebotol air susu perah dalam termos kecil dengan tangan yang hampir tidak mau bekerja sama. Sepanjang jalan ia menghitung berapa menit yang tersisa sebelum bayi itu menangis.
Rafa datang pukul sembilan kurang lima bersama pengacaranya. Ia berjas, rapi, tetapi tanpa dasi, dan ketika melihat Qenna, ia hanya mengangguk dari kejauhan dan duduk di bangku yang sengaja dipilih jauh. Pak Dimas menyapa pengacara itu dengan jabat tangan singkat.
Lalu Mama Jamilah muncul dari ujung lorong.
Tidak ada sopir, tidak ada tas kulit. Hanya tongkat dan kerudung krem polos, dan langkah yang diatur supaya tidak terdengar. Ia berhenti beberapa kursi dari Rafa, menatap anaknya sekejap, lalu menatap Qenna. Tubuhnya menegang, seakan menunggu sesuatu dilempar kepadanya.
Qenna memberi satu isyarat dengan dagu. Pendek, tanpa senyum.
Mama Jamilah membalasnya sama pendeknya, lalu duduk di bangku paling ujung, jauh dari mereka semua, kedua tangan di atas gagang tongkat. Ia tidak berbicara kepada siapa pun. Ia tidak menghampiri siapa pun. Rafa memperhatikannya dari sudut mata, dan rahangnya mengeras, dan pada akhirnya ia tidak berdiri.
"Ibu itu menepati janjinya," bisik Ibu Aisyah.
"Janji apa, Bu?"
"Tidak datang dengan amplop." Ibu Aisyah menatap tangan perempuan itu yang kosong. "Ibu kira dia juga tidak akan datang."
***
Ruang sidangnya lebih kecil daripada bayangan Qenna, berdinding krem, dengan meja panjang berlapis kain hijau dan tiga kursi untuk majelis. Hakim yang memeriksa seorang perempuan paruh baya dengan kerudung abu dan suara yang terdengar lelah sekaligus teliti. Panitera di sudut mengetik tanpa mengangkat kepala.
Pemeriksaan identitas berlangsung singkat. Nama, pekerjaan, alamat. Qenna menyebut alamat panti dan merasakan Rafa menoleh sebentar. Lalu hakim membuka berkas, membacanya lama, dan melepas kacamata.
"Pernikahan Bapak dan Ibu tercatat di Denpasar, dan Bapak mengajukan permohonan ikrar talak." Ia menatap keduanya bergantian. "Sebelum melanjutkan, saya wajib bertanya apakah masih ada kemungkinan Bapak dan Ibu berdamai dan melanjutkan pernikahan. Saya tidak bertanya karena formalitas. Ada seorang anak dalam perkara ini, dan saya ingin yakin tidak ada pintu yang masih bisa dibuka."
Qenna merasakan pandangan Rafa di sisi wajahnya, tetapi ia tidak menoleh.
"Ibu Qenna, silakan."
"Tidak," ucap Qenna. Suaranya jernih, lebih jernih dari yang ia kira. "Saya sudah memikirkannya baik-baik. Saya tidak ingin melanjutkan pernikahan ini."
Hakim mencatat. "Bapak Rafa?"
Rafa berdiri. Pengacaranya menyentuh lengannya, tetapi ia sudah berdiri sebelum disentuh. "Yang Mulia, saya mengajukan permohonan ini karena Ibu Qenna memintanya, dan karena itu hak yang seharusnya sudah saya berikan sejak awal. Saya tidak keberatan dengan penolakan itu. Saya tidak akan memintanya berubah pikiran."
"Bapak menyadari konsekuensi pernikahan yang berakhir?"
"Sangat." Ia menarik napas, dan Qenna melihat jari-jarinya mencengkeram tepi meja. "Ada hal yang ingin saya sampaikan sekarang, supaya tercatat. Kami memiliki seorang anak laki-laki berusia sebelas pekan. Saya tidak akan menuntut hak asuh. Aksa tinggal bersama ibunya. Itu keputusan saya sendiri, dan saya akan menandatanganinya dalam bentuk apa pun yang diminta pengadilan."
Qenna menoleh. Ia tidak pernah mendengar ini sebelumnya. Selasa lalu, di teras, Rafa menyetujui tiga syarat, tetapi ia tidak menyebut hak asuh, sebab Qenna sendiri belum memikirkannya. Rafa menatap hakim, bukan dia. Ia tahu apa yang ia lakukan, dan ia melakukannya tanpa meminta pujian.
Hakim mencatat lama. "Dicatat. Bapak boleh duduk."
Setelah beberapa pertanyaan lagi, tentang alamat tinggal Rafa, tentang kesediaan menafkahi anak, tentang apakah ada hal yang belum disepakati, hakim menutup berkas dan merapikannya di meja.
"Pemeriksaan hari ini cukup. Sidang ikrar talak saya jadwalkan Kamis depan, pukul sembilan. Bapak wajib hadir untuk mengucapkan ikrar. Ibu Qenna, kehadiran Ibu dianjurkan." Ia mengenakan kacamatanya lagi. "Saya harap kalian berdua bisa menjaga satu sama lain sebagai orang tua. Itu pekerjaan yang tidak selesai dengan putusan."
***
Di lorong, Pak Dimas memeluk mapnya dengan puas. "Lancar. Lebih lancar dari dugaan saya. Pernyataan soal hak asuh tadi sangat membantu, dan Bu Qenna menjawab persis seperti yang saya harapkan: singkat dan tidak ragu. Perjanjian tertulisnya kita rapikan Jumat depan di kantor saya, setelah ikrarnya selesai."
"Pak Dimas," ujar Qenna, "boleh saya bicara sebentar dengan Rafa? Di sini saja, di lorong."
"Tentu." Pengacara itu menarik diri bersama Ibu Aisyah.
Rafa berdiri tiga langkah darinya, tangan di saku. Wajahnya lelah, tetapi ada sesuatu yang lebih ringan di dadanya.
"Soal hak asuh," ucap Qenna pelan. "Kamu tidak bilang apa-apa hari Selasa."
"Kamu tidak menyuruhku. Aku mau melakukannya tanpa disuruh." Ia mengangkat bahu, canggung. "Kalau aku bilang dulu, itu terdengar seperti menawar. Aku tidak menawar. Aku hanya tidak mau Aksa tumbuh dengan ibu yang takut anaknya diambil."
Qenna menatap lelaki itu lama. Keputusan sebesar itu, dan ia melakukannya di depan hakim, di depan panitera, tanpa saksi yang bisa bersorak. Ia ingin mengatakan sesuatu yang lembut dan ternyata hanya menemukan satu kalimat.
"Terima kasih."
"Itu hakmu." Rafa menunduk, lalu pandangannya bergeser melewati bahu Qenna. "Mama menunggu."
Qenna menoleh. Mama Jamilah sudah berdiri di ujung lorong dengan tongkat, tidak melangkah, tidak memanggil. Ketika Qenna menatapnya, perempuan tua itu mengangkat dagunya sedikit, bukan sikap menantang, hanya sikap orang yang menahan diri sekuat tenaga.
"Qenna," ucapnya serak. "Kamis depan. Boleh saya duduk di barisan paling belakang? Saya tidak akan bicara. Kalau kamu menyuruh saya keluar, saya keluar."
Qenna tidak langsung menjawab. Di belakang punggungnya Rafa menahan napas.
"Duduk saja, Bu," katanya akhirnya. "Di belakang."