Papa Ahsan tidak menyuruhnya duduk.
Ia menunggu dengan punggung disanggah dua bantal, tangan kanan di atas selimut, tangan kirinya diam di sisi tubuh seperti benda yang bukan miliknya lagi. Siska berdiri di kaki ranjang dengan amplop tebal di tangan dan wajah anak yang tertangkap basah, padahal ia belum melakukan apa-apa.
"Papa dengar semuanya."
"Pa, aku belum menerima ...."
"Papa tidak bertanya." Napas Papa pendek-pendek. Ia memberi isyarat agar Siska menaruh amplop di nakas. "Besok sopir Papa mengembalikan itu ke alamat yang tertulis di pojoknya. Bukan karena Papa tidak butuh uang. Papa mau perempuan itu tahu bahwa rumah ini tidak bisa dibeli dengan cara yang sama untuk kedua kali."
"Kedua kali?"
Papa menatap langit-langit. "Papa pernah menukar kamu dengan nama baik dan kenyamanan, Sis. Dua keluarga, satu perjodohan, tidak ada yang bertanya apakah kamu bisa tidur malam. Tadi, di balik pintu, Papa mendengar orang melakukan hal yang sama kepada kamu dari sisi lain." Rahangnya bergerak. "Rasanya tidak enak. Papa tidak tahu kenapa Papa harus menunggu sampai setua ini untuk tahu."
Mata Siska memanas. "Papa menampar aku di rumah ini juga, dan sekarang Papa bicara begitu."
"Papa tahu." Tidak ada pembelaan dalam suaranya. "Itu sebabnya Papa tidak minta kamu menyetujui apa pun. Papa hanya minta kamu berhenti melakukan hal yang Papa dulu lakukan kepadamu: memutuskan apa yang benar sebelum melihat orangnya."
"Kalau kamu mau tahu perempuan yang disebut-sebut itu seperti apa, jangan tanya Mama Jamilah. Pergi ke sana. Lihat sendiri. Kalau ada yang harus kamu katakan, katakan kepadanya, bukan lewat orang."
"Aku tidak tahu apakah dia mau melihatku."
"Itu urusannya." Papa memejamkan mata. "Urusanmu hanya datang."
***
Selasa berikutnya Siska turun dari taksi di ujung gang dan berjalan kaki sisanya, dengan kantong kertas berisi sekotak kue yang ia beli di toko roti dekat rumah dan tidak ia ingat memilihnya.
Panti itu lebih kecil dari yang ia bayangkan. Catnya putih kusam, pagarnya besi tua, di halaman ada jemuran anak-anak dan sepeda kecil tanpa pedal. Dua anak yang sedang bermain kelereng berhenti begitu melihatnya, dan salah satunya berteriak ke dalam rumah:
"Kak Andin! Ada tante cantik!"
Gadis berkepang yang muncul di pintu menatap Siska dari kepala sampai kaki dengan sorot yang tidak ramah. "Tante yang di lobi," katanya pelan, bukan bertanya.
"Saya Siska. Boleh saya ...."
"Tunggu."
Andin menghilang. Siska berdiri di bawah pohon mangga, memegang kantong kertas dengan dua tangan, dan memutuskan bahwa kalau ia diminta pergi, ia akan pergi tanpa membantah.
Yang keluar bukan penolakan. Qenna muncul di teras dengan gamis abu-abu, bayi dalam gendongan kain yang disilangkan, dan rambut diikat sederhana. Wajahnya letih, ada bayang gelap di bawah matanya, tetapi tatapannya tenang.
"Silakan naik, Bu Siska."
Siska naik tiga anak tangga. Di meja teras sudah ada dua cangkir teh, uapnya masih menari. Andin ternyata tidak hanya menyuruh menunggu. Anak itu rupanya sudah menyiapkan sebelum Siska sempat mengetuk.
"Ini," ujar Siska kepada Andin, menyodorkan kantong kertas. "Bukan sogokan. Saya tidak tahu harus membawa apa."
Andin mengintip isinya dengan curiga. "Rasa cokelat?"
"Cokelat dan keju."
"Anak-anak suka keju." Hanya itu, tetapi bahu gadis itu turun sedikit, dan kantong kertas itu ia peluk ke dada seolah baru saja diberi tugas penting.
"Saya tidak membawa foto," ucap Siska tiba-tiba, bodoh dan terburu-buru. "Atau ponsel yang merekam. Boleh Ibu lihat tas saya kalau mau."
"Tidak perlu." Qenna duduk di kursi rotan. Sebelum menjawab lagi, Aksa merengek di gendongannya, kecil dan menuntut. "Sebentar. Dia lapar."
Qenna menyampirkan ujung kain ke bahunya dengan gerak yang tampak sudah dilakukan ratusan kali, menunduk, dan bayi itu langsung diam. Hanya ada bunyi hisapan lembut dan embusan angin dari halaman.
Siska tak bisa memalingkan pandangan. Ia melihat tangan Qenna menopang kepala bayi dengan telapak yang tahu persis seberapa kuat harus memegang. Ia melihat Ibu Aisyah di ambang pintu, dengan baki berisi roti, membetulkan letak bantal di punggung Qenna tanpa diminta. Ia melihat Andin di tangga, pura-pura menyapu padahal menatap. Rumah ini tidak sunyi, tetapi tidak ada satu bunyi pun yang terasa asing satu sama lain.
Ia pernah menyebut perempuan ini cleaning servis hamil di depan seratus orang.
"Ibu Jamilah datang ke rumah saya hari Rabu lalu," kata Siska akhirnya, suaranya lebih serak dari rencana. "Ibunya Rafa. Dia menawarkan uang supaya saya bersaksi bahwa kamu dan Armand punya hubungan sejak sebelum saya diceraikan."
Tangan Qenna berhenti sebentar di punggung Aksa. "Dan Ibu ke sini membawa jawabannya?"
"Saya ke sini karena Papa menyuruh saya melihat sendiri." Siska menelan ludah. "Dan karena saya perlu mengatakan sesuatu. Saya dulu yang mengirim pesan anonim kepada ibunya Armand. Foto di gerbang itu saya yang ambil. Saya yang membuntuti."
"Saya tahu."
"Kamu tahu?"
"Ibu Aisyah melihat mobil kaca gelap itu di seberang jalan. Mama Ningsih yang menyebut namanya." Qenna menatapnya lurus. "Selimut rajut di boks itu juga dari Ibu, kan? Jahitannya belum rata."
Pipi Siska memanas. "Maaf. Saya tidak pandai merajut."
"Aksa tidak peduli." Ada sesuatu yang hampir seperti senyum di sudut bibir Qenna. "Dia tidur di dalamnya tiap malam."
Siska menunduk. Dua tetes jatuh ke pangkuannya sebelum ia sempat mencegah. "Kamu tidak mau tahu kenapa saya melakukannya?"
"Saya mau, kalau Ibu mau menceritakan. Tapi saya tidak akan menagih."
Siska menceritakan sebagian, tidak semuanya: Papa, perjodohan, Robi yang menghilang begitu uang sakunya dipotong, seperti pelayan yang mengundurkan diri tanpa pamit. Ia tidak mau mengejarnya. Ia mengatakan itu dengan nada yang membuat Ibu Aisyah di ambang pintu menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Saya pikir kamu akan membenci saya," bisiknya.
"Saya tidak punya waktu untuk membenci." Qenna menepuk punggung Aksa pelan-pelan. "Tiap dua jam saya bangun. Tiap hari ada yang mau mengambil anak saya dari tangan saya. Kalau saya membenci semua yang menyakiti saya, tidak ada ruang untuk dia."
"Armand ...." Siska tak sanggup menyelesaikan.
"Pak Armand tidak pernah menyentuh saya tanpa izin," ujar Qenna datar. "Dia membopong saya dua kali: waktu saya pingsan di lift dan waktu saya berdarah di pantry. Dua-duanya karena saya tidak bisa berdiri. Hanya itu. Tidak lebih dari menolong. Kalau Ibu bersaksi di depan hakim, katakan itu, dan hanya itu."
"Pengacara saya, Pak Dimas, berpesan hari Jumat: kalau ada yang mendatangi saya soal ini, catat tanggalnya." Qenna menatapnya. "Kapan Ibu Jamilah datang ke rumah Ibu?"
"Rabu lalu. Jam empat sore."
Jawaban itu begitu cepat sehingga Qenna menatapnya lebih lama. "Ibu mencatatnya?"
"Saya tidak bisa tidur sesudahnya. Saya hafal semuanya." Siska memaksakan tawa getir. "Saya selalu pandai menghafal kesalahan orang lain. Baru kali ini yang saya hafal bisa dipakai untuk sesuatu yang berguna."
Ibu Aisyah melangkah maju membawa baki. Ia meletakkan sepiring roti di depan Siska tanpa berkata apa-apa, lalu hanya menatapnya, tatapan yang menembus tanpa menghakimi. "Makanlah, Nak. Perempuan yang menangis di teras orang lain biasanya belum sarapan."
Siska mengambil sepotong dengan tangan yang gemetar. Itu roti paling sederhana yang ia makan selama berbulan-bulan, dan ia menghabiskannya.
"Ibu bersedia mengatakan semua ini kepada Pak Dimas?" tanya Qenna pelan.
"Saya akan bersaksi apa yang benar." Siska mengangkat wajahnya yang basah. Suaranya gemetar, tetapi ia mengucapkannya tanpa menunduk. "Seandainya tidak ada orang yang bertanya, saya akan mengatakannya juga."