Dia akan kembali, kata Mama. Dan hari Selasa itu Alin memang kembali, tetapi tidak sendirian, dan tidak dengan koper.
Rafa melihat mobil hitam panjang milik Pak Hendro dari kaca jendela mobilnya sendiri ketika ia membelok masuk ke halaman rumah besar. Di belakangnya terparkir sebuah sedan kelabu yang tidak ia kenal. Jantungnya berdetak satu kali, keras, seperti pintu yang dibanting di dalam dada. Sejak malam Alin pergi, Mama menghindar. "Besok kita bicara" ternyata tidak punya besok, dan lima hari Rafa menelepon tanpa dijawab. Lalu pagi tadi Mama menelepon dengan suara yang terlalu manis: "Mampirlah ke rumah, Rafa. Ada tamu yang ingin bicara." Ia tahu ini bukan undangan.
Pembantu membukakan pintu tanpa suara. Di ruang tamu, tiga orang sudah duduk. Mama Jamilah di sofa panjang, tegak, tangan terlipat, mengenakan kebaya abu-abu yang biasa ia pakai ke acara duka. Alin di sofa tunggal, jauh dari Mama, dengan gamis hijau gelap dan wajah yang tenang sekali. Dan di antara mereka, di kursi ukiran yang biasa diperuntukkan bagi tamu terhormat, seorang lelaki tujuh puluhan yang kurus dan liat, rambut perak disisir rapi, dengan tongkat berkepala perak bersandar di lututnya.
Pak Hendro berdiri sebelum Rafa sempat memberi salam.
"Duduk, Rafa."
Hanya itu. Tidak "Nak", tidak "Nak Rafa" seperti dulu.
Rafa duduk di sofa kosong, di tengah, dengan Mama di sisi kiri dan Alin di sisi kanan, seperti tersangka dalam ruang sidang yang ditata terlalu ramah. Di belakang Pak Hendro, seorang lelaki berjas gelap membuka map tanpa berkata apa-apa. Pengacara, tentu saja. Rafa tidak perlu diperkenalkan.
"Saya tidak akan bertele-tele," ujar Pak Hendro. Suaranya rendah, berat, tidak pernah naik. "Anak saya Alin pergi ke pengadilan agama minggu lalu. Dia diberi surat keterangan, Rafa. Nomor perkara di akta cerai yang Ibu Jamilah serahkan kepada saya sesudah pernikahan kalian bukan milik perkara kalian. Itu milik perkara waris di kota lain."
Rafa menoleh ke Mama, dan Mama sedang menatap lurus ke depan.
"Ibu Jamilah menyerahkan salinan itu kepada saya ketika saya mulai bertanya." Pak Hendro bicara sangat sabar, seperti membaca laporan keuangan. "Saya percaya. Saya memberikan dana. Saya menerima menantu. Dan sekarang saya diberi tahu bahwa lelaki yang saya percaya masih terikat pernikahan lain."
"Pak Hendro," Mama Jamilah memotong dengan nada yang dipelajari. "Itu pasti kesalahan administrasi. Pengacara saya yang mengurus semuanya. Jaman sekarang pengadilan banyak salah catat ...."
"Salah catat tidak mengubah nomor perkara orang lain menjadi nomor kita, Bu." Pengacara di belakang Pak Hendro bicara sopan. "Saya sudah memeriksa. Dokumen ini tidak pernah diterbitkan oleh pengadilan mana pun. Dalam hukum, memberikan dokumen yang tidak sah kepada pihak lain untuk mendapatkan keuntungan masuk kategori pemalsuan. Itu pidana."
Ruang tamu itu menjadi sangat sunyi. Jam antik di pojok berdetak.
"Saya tidak datang untuk melapor," lanjut Pak Hendro. "Belum. Saya datang untuk menyampaikan tiga hal, dan saya mohon tidak ada yang memotong."
Ia mengangkat satu jari.
"Pertama, pernikahan Alin dan Rafa cacat sejak hari akad. Saya tidak akan membiarkan anak saya hidup dalam status yang tidak sah. Pernikahan itu akan dibatalkan, dengan cara yang benar. Alin sudah setuju." Ia melirik putrinya, dan Alin mengangguk tanpa suara.
"Kedua, dana kuartal perusahaan Rafa saya tarik. Seluruhnya, sampai urusan istri pertamanya selesai dengan benar dan dengan permintaan maaf. Bukan permintaan maaf di atas kertas. Di depan orangnya."
Rafa merasakan sesuatu di perutnya jatuh. Ia sudah tahu, tetapi mendengarnya diucapkan dengan nada sedatar itu rasanya seperti menyaksikan rumah sendiri dibongkar dan hanya bisa mencatat jumlah batanya.
"Itu risiko yang Ibumu pilih untukmu, Rafa." Pak Hendro menatapnya tanpa kejam. "Saya tidak mau kamu bangkrut. Saya mau kamu bertanggung jawab. Dua hal itu berbeda."
"Istri pertama," ujar Rafa pelan. "Maksud Bapak, Qenna."
"Saya tidak kenal perempuan itu. Saya hanya tahu dia ada, dan dia dibuat seolah tidak pernah ada." Pak Hendro menautkan kedua tangan di atas gagang tongkat. "Saya orang tua, Rafa. Saya tahu apa artinya diperlakukan seolah tidak ada, dan saya tidak mau jadi sebab itu menimpa orang lain."
"Ketiga," Pak Hendro menurunkan jarinya, "ancaman laporan pemalsuan dokumen itu nyata, dan keputusan melaporkan ada di tangan saya. Bukan saya yang ingin menghancurkan kalian. Tapi saya tidak bisa diam kalau ada penipuan yang menyentuh anak saya."
"Pak," ujar Mama Jamilah, kini dengan suara yang lebih keras, lebih mentah. "Semua ini saya lakukan demi anak saya. Demi Rafa. Perusahaan itu hidup mati dia. Saya hanya ...."
"Demi anak Ibu, Ibu menikahkannya dua kali dalam satu pekan?" Alin berbicara pertama kalinya, tidak keras. Semua menoleh. "Maaf, Ma. Saya tidak bermaksud kurang ajar. Saya hanya ingin tahu, bagian mana dari semua ini yang demi saya."
Mama Jamilah membuka mulut, dan tidak keluar apa-apa.
"Demi anak, demi anak, demi anak." Rafa baru sadar suaranya yang berbicara, bukan Mama, bukan Pak Hendro. Pelan, tetapi bergetar seperti kaca tipis. "Ma. Berapa kali lagi Mama memakai kata itu?"
"Rafa, jangan di depan ...."
"Cukup, Ma." Kali ini ia berdiri. Tidak seperti di ruang makan rumahnya malam itu, kali ini ia mengatakannya di depan orang lain, di rumah masa kecilnya, di bawah foto keluarga yang tergantung terlalu tinggi. "Aku mau Mama berhenti bicara. Aku mau Mama berhenti membela diri dengan namaku."
Mama Jamilah terdiam. Matanya yang selalu tajam membesar sedikit, bukan karena marah, tetapi karena terkejut pada suara yang tidak pernah ia dengar dari anaknya. Dan Rafa melihat sesuatu di wajah itu yang tidak ingin ia lihat: ketakutan, murni, mentah, sesaat.
Pak Hendro mengamati mereka berdua, lalu mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai.
"Rafa."
"Ya, Pak."
"Temui istri pertamamu. Minta maaf. Selesaikan dengan benar." Ia menatap lurus. "Tiga bulan. Setelah itu, saya tidak lagi bicara sebagai ayah mertua."
"Saya mengerti, Pak."
"Kamu tidak mengerti," jawab Pak Hendro tanpa marah. "Tapi kamu akan."
Ia berdiri dengan bantuan tongkat, dan Alin ikut berdiri. Di ambang pintu Alin berhenti, menoleh, dan menatap Rafa sekejap tanpa dendam dan tanpa maaf. Lalu ia pergi bersama ayahnya, dan pintu mobil tertutup pelan.
Rafa masih berdiri di tengah ruang tamu. Di belakangnya, Mama Jamilah tidak bergerak dari sofa. Ia tidak berkata, aku tidak bermaksud. Ia tidak berkata, aku benar. Ia hanya menatap lantai dengan kedua tangan terlipat di pangkuan, kecil di sofa besar itu, dan hari itu Rafa melihat ibunya tampak tua.
***
Mobil Pak Hendro meluncur pelan melewati gerbang. Di kursi belakang, Alin memandangi rumah besar itu menyusut di kaca spion sampai tinggal atap dan pucuk pohon sawo.
Ayahnya duduk di sampingnya, tongkat diletakkan miring di antara lutut. Selama sepuluh menit pertama ia tidak berkata apa-apa, dan Alin tahu itu cara ayahnya menghormati orang yang sedang menahan sesuatu.
"Kamu tidak menyesal?" tanyanya akhirnya.
"Menarik semua dana. Membatalkan. Papa tahu kamu menyukai rumah itu. Kamu menata tirainya sendiri."
"Aku menyesal tidak bertanya lebih cepat." Alin menatap jalan di balik kaca. "Itu saja, Pa. Tirai bisa diganti."
Pak Hendro mengembuskan napas pendek yang hampir menjadi tawa. "Papa juga."
Sebuah angkot menyalip dan klaksonnya melengking pendek.
"Pa."
"Ya."
"Tiga bulan itu bukan hanya untuk Rafa." Alin memilih kata hati-hati. "Ada seorang perempuan di sisi yang lain. Ia yang paling dirugikan dari semua ini, dan ia tidak ada di ruangan tadi."
"Papa tahu."
"Dan tidak ada satu pun dari kita yang menanyakan kabarnya."
Pak Hendro menoleh. Ia menatap putrinya lama, dan di matanya ada sesuatu yang menyerupai kekhawatiran dan sesuatu lain yang menyerupai bangga. "Alin. Jangan kamu yang mengurusnya. Itu tugas Rafa."
"Aku tidak bilang akan mengurus apa pun."
"Kamu tidak perlu bilang. Papa membesarkan kamu."
Alin tersenyum kecil, tetapi tidak menjawab. Di pangkuannya, tas tangan itu tertutup rapat, dan di bagian dalamnya, terselip di balik dompet, ada secarik kertas kecil berisi sederet nomor telepon yang ia salin dari tagihan ponsel suaminya berminggu-minggu lalu. Ia belum pernah memencetnya. Tetapi ia tidak pernah membuangnya, dan ia tahu persis di mana kertas itu berada, seperti orang yang tahu letak tangga darurat di gedung yang terbakar.