"Sudah kutelusuri semua grup yang aku ikut," lapor Sindy lewat telepon, Rabu malam, suaranya setengah tertahan bantal. "Dua akun gosip yang sempat mengunggah sudah menghapusnya, Qen. Satu karena Pak Hans yang menelepon, satu lagi karena Pak Armand sendiri yang minta bagian hukum kantor menulis surat. Di kantor, orang sudah ganti topik. Sekarang semua sedang heboh soal manajer keuangan yang ketahuan membawa pulang kursi kantor."
"Kursi?" Qenna duduk bersandar di kepala ranjang kamar belakang, ponsel terjepit di antara bahu dan telinga, buku catatan kehamilan terbuka di pangkuannya.
"Kursi ergonomis. Satu. Dimasukkan ke bagasi taksi online." Sindy tertawa kecil, lalu suaranya turun. "Kamu tidur ya. Jangan lihat ponsel lagi sampai besok."
"Aku tidak melihatnya terus."
"Kamu melihatnya setiap sepuluh menit. Citra bilang."
Qenna menutup mata. Enam hari terakhir ia memang memeriksa layar ponsel hampir setiap kali bunyi notifikasi, seperti menunggu surat dari tempat yang dilupakan. Surat itu tidak datang. Mama Jamilah tidak datang. Dunia di luar pagar panti terasa tetap sama, seolah apa yang terjadi di lobi hanya cerita yang tidak jadi besar.
Setelah telepon ditutup, ia meletakkan ponsel di nakas dan mematikan lampu kecil di sisinya. Hujan sudah reda sore tadi. Dari jendela kamar, cahaya lampu jalan menembus tirai tipis, menggambar garis-garis pucat di langit-langit. Ia berbaring miring dengan satu tangan di bawah pipi dan satu lagi di atas perut, seperti yang ia lakukan hampir setiap malam sejak dua pekan lalu.
Sesuatu bergerak.
Qenna membeku. Bukan tendangan, bukan denyut. Lebih halus daripada keduanya: seperti gelembung kecil yang pecah pelan-pelan di dalam air, satu, lalu hening, lalu sekali lagi. Ia menahan napas dan menekan telapak tangannya sedikit lebih dalam, dan perutnya diam. "Mungkin gas," gumamnya dalam hati. "Mungkin usus. Mungkin hanya sesuatu yang kuharapkan terlalu keras sampai tubuhku ikut menirukan."
Ia menunggu hampir sepuluh menit, tanpa bergerak. Tidak ada yang terjadi lagi.
"Kalau itu kamu," bisiknya ke langit-langit, "bilang sekali lagi."
Tidak ada jawaban. Qenna tersenyum dengan mata basah, dan itu cukup untuk malam ini.
***
Pagi harinya, Andin ikut naik bis.
"Ibu menyuruhku mengantar Kak Qenna sampai pagar kantor," katanya dengan nada orang yang sudah menyerah berdebat. Ia duduk di sebelah jendela, rambut dikuncir tinggi, tas kecil di pangkuan. "Katanya sampai sepekan ini, sampai orang-orang berhenti melihat Kakak seperti artis."
"Aku tidak seperti artis."
"Kemarin satpam kantor Kakak menyapa pakai 'Bu'. Itu artinya Kakak seperti artis."
Bis penuh seperti biasa. Qenna berdiri sampai halte keempat sebelum seorang bapak berbaju batik berdiri dan menawarkan tempat duduknya, dan ia menerimanya dengan ucapan terima kasih yang kecil. Di baris depan, seorang lelaki muda berkemeja biru mengayun-ayunkan tas kerjanya, tangannya berpegangan pada palang besi di atas kepala.
Saat bis berbelok, tubuh lelaki itu bergeser dan aroma tercium dari arahnya. Parfum. Kayu cendana yang bercampur sesuatu yang hangat, seperti kulit setelah hujan.
Qenna menegakkan punggung.
Biasanya, parfum membuatnya mual. Pagi ini, perutnya tenang. Dadanya yang kemudian bergerak sendiri, seperti seseorang mendorong dari dalam. Ia mengenal aroma itu. Ia pernah menciumnya di tengkuk seorang lelaki yang mencium keningnya di kamar hotel putih, yang mengatakan "aku akan mengabari kamu".
Bukan Rafa. Tentu saja bukan. Hanya parfum yang kebetulan mirip. Tetapi tubuhnya tidak peduli bahwa itu kebetulan. Tubuhnya merespons seperti anak kecil yang menangkap suara ibunya dari jauh.
Air matanya mengalir sebelum ia sempat memutuskan untuk menahannya. Qenna menunduk dalam-dalam dan menyeka pipi dengan punggung tangan, pelan-pelan supaya tidak ada yang memperhatikan.
Andin memperhatikan.
Ia tidak bertanya. Ia hanya menggeser tasnya, mengambil tisu dari saku, dan menyelipkannya ke tangan Qenna tanpa menoleh.
***
Siang hari di pantry lantai direktur, Qenna sedang mencuci cangkir ketika seseorang mengetuk kusen pintu dengan dua jari.
Lelaki itu berkemeja abu-abu, rambut mulai menipis, dan membawa kotak plastik kecil di kedua tangan. Qenna butuh sedetik untuk mengenalinya. Suara yang tempo hari bertanya dari barisan belakang di lobi. Bagian keuangan, lantai empat.
"Mbak Qenna." Ia berhenti di ambang pintu, terlihat lebih canggung daripada seorang lelaki seusianya seharusnya. "Boleh saya masuk sebentar?"
"Silakan, Pak."
"Saya yang bertanya hari itu. Soal ... ayahnya." Ia menelan ludah. "Saya cuma ingin minta maaf. Istri saya sedang hamil anak kedua, dan malam itu saya cerita ke dia, dan dia memarahi saya selama satu jam. Katanya saya tidak punya hati."
Qenna mematikan keran. Ia mengeringkan tangan di celemek, lambat-lambat, memberi lelaki itu waktu.
"Istri Bapak benar," ucapnya, tanpa nada. "Tapi Bapak datang sendiri. Itu juga hitungannya."
"Ini ...." Lelaki itu menyodorkan kotak plastiknya. "Pisang goreng buatan istri. Dia bilang kamu harus makan yang manis-manis, tapi jangan terlalu banyak."
Qenna menatap kotak itu. Dari belakang pria itu, di lorong, ia melihat Citra mengintip dari balik troli, mata membulat penuh peringatan: terima, terima, jangan tolak.
"Terima kasih, Pak." Ia mengambilnya. "Salam buat istri Bapak."
Selepas lelaki itu pergi, Citra masuk dan langsung menyambar satu pisang goreng dari kotak. "Tiga orang sudah ke sini pagi ini, kamu tahu? Satpam bawa jeruk, bagian umum bawa vitamin, yang ini pisang goreng. Kantor ini sedang merasa bersalah, Qen. Biarkan saja."
"Aku tidak mau jadi tontonan lagi."
"Bukan tontonan." Citra mengunyah dan berpikir. "Lebih mirip ... orang yang baru sadar mereka hampir jadi orang jahat, lalu cari cara supaya tidak jadi."
Qenna tertawa pendek. Itu tawa pertama yang ia rasakan sampai ke ujung jari hari itu.
***
Malam itu Ibu Aisyah duduk di pinggir ranjang dengan segelas susu hangat di tangan, dan Qenna tahu dari caranya duduk bahwa ini bukan kunjungan basa-basi.
"Andin cerita."
"Dia tidak cerita apa-apa, Bu. Dia hanya memberi tisu."
"Itu juga cerita." Ibu Aisyah menyerahkan gelas. "Minum dulu. Dan semalam kamu belum tidur sampai lewat jam dua."
"Dia bergerak, Bu." Qenna ragu. "Mungkin. Aku belum yakin. Rasanya seperti gelembung."
Wajah Ibu Aisyah berubah, melunak dengan cara yang hanya muncul untuk anak-anak yang ia besarkan sendiri. "Kata orang, yang pertama memang begitu. Ragu dulu, baru yakin. Jangan dipaksa."
Qenna menerima gelas itu dan meneguk sedikit. Susu itu manis dan hangat, dan ia mengenal rasanya sejak umur satu tahun, rasa yang sama setiap kali ia sakit.
"Nak, Ibu tidak akan menyuruhmu melakukan apa yang tidak siap kamu lakukan," ucap Ibu Aisyah. "Tapi Ibu akan mengatakan sesuatu yang benar, dan Ibu minta kamu mendengarnya sekali saja." Ia menatap perut Qenna sesaat. "Anak ini berhak punya ayah."
"Dia punya ayah, Bu."
"Anak itu berhak tahu ayahnya, dan ayahnya berhak tahu dia ada. Dua hal itu tidak sama dengan memaafkan, dan tidak sama dengan kembali." Suaranya lembut, tetapi tidak bergeser. "Ibu hanya tidak mau suatu hari kamu menyesal."
Qenna memeluk gelasnya dengan dua tangan. Di dalam dadanya, sesuatu mengeras dan melunak bergantian.
"Setelah dia lahir, Bu," ucapnya akhirnya. "Aku sudah janji."
"Ibu ingat."
"Aku tidak mau Rafa tahu sekarang. Aku tidak mau dia datang karena perutku, bukan karena dirinya sendiri. Aku mau dia datang karena dia memilih."
Ibu Aisyah memandangnya lama, kemudian menepuk punggung tangannya dan bangkit. "Tidurlah."
Setelah pintu tertutup, Qenna mengambil buku catatan kehamilan dari nakas. Di halaman terakhir yang masih kosong, di bawah daftar jadwal kontrol, ia menuliskan satu nama dengan pena: Rafa. Huruf-hurufnya miring dan kecil. Ia menatapnya sebentar, lalu menarik satu garis lurus di atas nama itu. Dua garis. Tiga, sampai kertas itu hampir sobek.
Di bawah telapak tangannya, sesuatu bergerak lagi. Kali ini jelas, satu ketukan kecil dari dalam, tepat di bawah ujung pena.